Keputusan itu diambil oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump meski banyak penentangan dan bukti yang meningkat tentang kenyataan akan dampak perubahan iklim.
Dengan pemberitahuan itu, Amerika Serikat akan keluar dari perjanjian yang dinegosiasikan oleh pendahulu Trump, Barack Obama dalam satu tahun, tepatnya pada 4 November 2020.
Pengumuman itu sendiri disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo. Dia mengulangi pernyataan Trump pada tahun 2017 dengan mengatakan bahwa perjanjian itu memberlakukan beban ekonomi yang tidak adil terhadap Amerika Serikat.
"Pendekatan Amerika Serikat menggabungkan realitas campuran energi global dan menggunakan semua sumber energi dan teknologi secara bersih dan efisien, termasuk bahan bakar fosil, energi nuklir, dan energi terbarukan," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan.
Dia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan terus menawarkan model yang realistis dan pragmatis dalam negosiasi global.
Langkah itu ditentang oleh banyak pihak, salah satunya adalah kubu Demokrat.
Politisi Demokrat dari Komite Hubungan Luar Negeri Senat, Robert Menendez, mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menutup mata terhadap fakta dan lebih jauh mempolitisasi tantangan lingkungan terbesar dunia.
"Keputusan ini akan turun sebagai salah satu contoh terburuk dari pengunduran diri Presiden Trump yang disengaja atas kepemimpinan Amerika Serikay dan konsesi kekuasaan atas ekonomi global ke China, India dan lainnya," katanya dalam sebuah pernyataan seperti dimuat
Channel News Asia.
Kesepakatan Paris sendiri diketahui menetapkan tujuan membatasi kenaikan suhu menjadi dalam dua derajat celcius dari tingkat pra-industri. Langkah ini sangat penting untuk memeriksa kerusakan terburuk dari pemanasan global seperti meningkatnya kekeringan, banjir dan badai yang intensif.