Sejumlah kritik yang bermunculan menyebutkan bahwa Chanel melakukan perampasan budaya Aborigin Australia di mana bumerang berasal. Bumerang sendiri biasa digunakan oleh suku Aborigin sebagai senjata untuk berburu.
"Chanel sangat berkomitmen untuk menghormati semua budaya, dan sangat menyesalkan bahwa beberapa mungkin merasa tersinggung," kata pihak Chanel dalam sebuah pernyataan.
Pengguna media sosial diketahui melontarkan berbagai pendapat soal bumerang Chanel setelah Jeffree Star, perancang riasan AS dengan 4,7 juta pengikut di Instagram, mempublikasikan gambar bumerang yang baru ia beli tersebut.
"Bersenang-senanglah dengan bumerang Chanel baru saya," tulisnya.
Ribuan orang berkomentar di foto tersebut. Ada yang mengkritik dan ada juga yang membela.
Di Chanel sendiri, bumerang yang dijual masuk kategori aksesoris olahraga. Bumerang produksi Chanel tersebut dijual dengan harga 1.360 dolar AS atau setara dengan sekitar 19 juta rupiah.
Pihak Chanel sendiri membela produksinya dan mengatakan bahwa bumerang itu adalah salah satu dari beberapa aksesoris olahraga yang ditawarkan, di samping raket tenis, dayung dan bola.
"Inspirasinya diambil dari kegiatan rekreasi dari belahan dunia lain dan bukan niat kami untuk tidak menghormati komunitas Aborigin dan Torres Strait Islander dan pentingnya bumerang sebagai objek budaya," begitu pernyataan dari pihak Chanel seperti dimuat Aoi.
[mel]