INACRAFT 2026: Perpaduan Tradisi dan Teknologi Perkuat Daya Saing Kriya Indonesia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 12 Oktober 2026, 14:19 WIB
INACRAFT 2026: Perpaduan Tradisi dan Teknologi Perkuat Daya Saing Kriya Indonesia
INACRAFT October 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC) (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
rmol news logo Industri kriya Indonesia dituntut terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi ciri khasnya. Setiap produk kerajinan tidak hanya memiliki fungsi dan nilai estetika, tetapi juga menyimpan pengetahuan lintas generasi, keterampilan tangan, serta identitas budaya yang sulit ditiru mesin.

Tantangan tersebut menjadi salah satu sorotan INACRAFT October 2026 yang berlangsung pada 7-11 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC). Pameran yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) bersama Mediatama Event ini mengangkat perpaduan warisan budaya, inovasi, dan teknologi untuk mendorong perkembangan industri kriya nasional.

INACRAFT October 2026 memperlihatkan penerapan teknologi dalam berbagai aspek industri kriya, mulai dari penyempurnaan alat produksi hingga pengembangan material dan teknik pengolahan bahan.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pengembangan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) untuk meningkatkan efisiensi kerja penenun. Pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai bahan lilin batik juga membuka peluang penggunaan material alternatif.

Riset ilmiah turut mendorong peningkatan nilai tambah produk tradisional. Dalam sesi Craft Talk bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), peneliti memperkenalkan pengembangan eco-wastra, yakni pewarna alami dari tanaman ketapang, secang, dan mangrove.

Sementara itu, jenama lokal Fuguku mengeksplorasi poliester daur ulang dari limbah plastik untuk produk busana dan aksesori. Material tersebut dipadukan dengan teknologi cetak digital (digital printing) dan teknik jumputan untuk menghasilkan tekstur serta tampilan khas.

Berbagai inovasi ini menunjukkan bahwa teknologi dapat membantu menyempurnakan peralatan kerja, mengembangkan material berbasis riset, dan mengolah limbah menjadi produk bernilai tambah.

Keberlanjutan industri kriya juga bergantung pada regenerasi pelakunya. Melalui tema “Techno Craft”, INACRAFT 2026 membuka ruang bagi generasi muda untuk menghadirkan perspektif baru tanpa meninggalkan akar tradisi.

Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengeksplorasi desain, memahami kebutuhan konsumen, membangun identitas merek, dan memperluas pemasaran. Sementara itu, pengetahuan budaya dan teknik tradisional menjadi fondasi pembeda karya kriya Indonesia di tengah persaingan pasar.

Upaya regenerasi ini antara lain diwujudkan melalui ASEPHI Go Green Battle Craft, yang melibatkan siswa sekolah menengah pertama (SMP) dalam mengolah limbah menjadi karya kreatif.

Selain itu, sebanyak 19 pelaku usaha muda (youthpreneurs) berpartisipasi dalam INACRAFT October 2026 untuk memperkenalkan inovasi produk. Keterlibatan mereka diharapkan membuka ruang pertukaran gagasan sekaligus mendorong generasi muda melihat kriya sebagai peluang berkarya dan membangun usaha.

Pengembangan industri kriya membutuhkan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, komunitas kreatif, serta pihak yang bergerak dalam pemberdayaan perempuan, generasi muda, dan penguatan koperasi.

Sejumlah tokoh menghadiri INACRAFT 2026, di antaranya Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka bersama Selvi Gibran Rakabuming, Menteri Perdagangan Budi Santoso yang memberikan sambutan pembukaan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, serta Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah.

Hadir pula Seruni Kabinet Merah Putih, desainer Didit Hediprasetyo, serta jajaran Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dari berbagai daerah, termasuk Dekranasda DKI Jakarta yang dipimpin Endang Nugrahani.

Keterlibatan berbagai pihak tersebut mencerminkan pentingnya sinergi pemerintah pusat dan daerah, pelaku industri kreatif, serta komunitas untuk memperluas peluang bagi perajin lokal.

Penguatan industri kriya tidak cukup hanya melalui pameran dan promosi. Perluasan akses pasar, pemberdayaan perajin, regenerasi pelaku usaha, dan pelestarian budaya juga menjadi faktor penting dalam membangun industri yang berkelanjutan.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA