Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, tingginya serapan beras tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat, terutama kelompok rentan ketika produksi beras menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.
“Ini adalah upaya kami sebagai langkah antisipasi karena di awal tahun lalu kami sudah mendapat informasi mau akan adanya El Nino,” kata Ahmad Rizal saat jumpa pers di kantor Bulog, Jumat, 9 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, ketersediaan stok yang memadai diperlukan agar pemerintah tetap dapat menyalurkan bantuan pangan ketika El Nino dan musim paceklik berlangsung.
Menurut Ahmad Rizal, penyaluran bantuan pangan pada 2026 direncanakan berlangsung selama delapan bulan, yakni Februari, Maret, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember.
Ia juga mengungkapkan arahan Presiden Prabowo Subianto agar stok beras yang tersedia dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Beliau kemarin menyampaikan kalau masih ada stok serahkan kepada rakyat. Itu adalah berasnya rakyat, terutama masyarakat yang betul-betul masuk dalam desil 1 dan 4,” ujarnya.
Ahmad Rizal menegaskan, langkah antisipasi tersebut penting agar pemerintah tidak kesulitan memenuhi kebutuhan bantuan pangan saat produksi dalam negeri tertekan.
Ia mengingatkan, mengandalkan impor belum tentu menjadi solusi ketika negara-negara pemasok beras juga menghadapi El Nino dan musim paceklik.
“Coba kalau umpamanya Bulog tidak segera mengambil langkah-langkah antisipasi menyerap dengan banyak, di akhir tahun tidak memiliki stok banyak seperti sekarang, apakah Bulog bisa menyerahkan bantuan kepada masyarakat?” kata Ahmad Rizal.
Ia menambahkan, negara-negara seperti India, Vietnam, dan Thailand juga menghadapi tantangan iklim dan paceklik sehingga ketersediaan beras dari luar negeri tidak bisa sepenuhnya diandalkan.
BERITA TERKAIT: