Blokade Batubara Bikin Jawa & Bali Gelap Gulita

Kamis, 31 Mei 2012, 08:12 WIB
Blokade Batubara Bikin Jawa & Bali Gelap Gulita
ilustrasi, Batubara
RMOL.Perusahaan Listrik Negara (PLN) melayangkan warning ke pe­merintah agar segera mencari solusi tepat mengatasi blokade pasokan batubara di Kalimantan. Jika terus berlarut-larut, tindak­an ter­sebut diprediksi akan meng­­ganggu pasokan listrik di Jawa dan Bali. Kedua pulau ini bisa terancam gelap gulita.

Maklum, perusahaan pelat me­rah ini merupakan konsumen besar batubara di Indonesia. PLN  mem­butuhkan batu­bara untuk meng­hidupkan se­jum­lah pem­bangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Jawa dan Bali.

Ma­nager Senior Komunikasi Kor­porat PLN Bambang Dwi­yan­to mengatakan, untuk saat ini kegiat­an operasional pembangkit listrik PLN yang menggunakan bahan bakar batubara belum ter­ganggu. Menurutnya, jika terjadi lebih dari 30 hari blokade jalur utama ang­kutan batubara di Su­ngai Barito, Kalimantan Selatan, akan meng­ganggu pasokan un­tuk operasional pembangkit lis­trik di Pulau Jawa.

“Jika blokade kapal batubara di Sungai Barito cukup lama bisa mengganggu pasokan batubara ke PLTU PLN. Bahkan bisa me­nyebabkan Jawa gelap gulita,” ujar Bambang kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan, sekitar 45 per­sen pembangkit listrik di Pulau Jawa menggunakan bahan bakar batubara. Untuk seluruh pem­bang­kit listrik PLN, pembangkit listrik swasta (independent power plant/IPP), PT Indonesia Power dan PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), cadangan batubara yang dimiliki cukup panjang untuk ke­­butuhan selama 30 hari.

“Bia­sanya pembangkit listrik punya stok batubara untuk 25-30 hari ke depan. Jika melewati itu, PLTU bisa berhenti beroperasi. Kalau blokade tidak sampai 30 hari dan normal kembali, tidak akan terganggu,” jelas Bambang.

PLN mencatat pasokan batu­ba­ra yang berasal dari Kalimantan men­capai 40 juta ton per tahun. Sisa kebutuhan berasal dari Su­ma­tera sebanyak 15 juta ton.

Direktur Operasional PLN Ja­wa-Bali Ngurah Adnyana men­jamin aksi blokir Sungai Barito selama 2-3 hari tidak akan meng­an­cam kelangsungan pasokan ba­tubara perusahaan. Walaupun di­akui jika aksi itu berlangsung la­ma, bisa mengancam pa­sokan batubara.

“Untuk pengamanan pasokan PLTU, PLN ada buffer stock sela­ma 20-30 hari. Kami yakin boi­kotnya tidak akan lama-lama karena masalahnya bukan pada batubara,” ujar Adnyana.

Sebelumnya, Kementerian ESDM juga telah mengumpulkan beberapa pengusaha batubara di tanah air. Para pengusaha itu di­minta agar tidak menyetop pa­sok­an batubara dari areal tam­bang mereka di kawasan Kali­man­tan.

“Sudah ada pembahasan de­ngan pengusaha, kami sudah min­ta semua pengusaha tidak mela­kukan blokade itu lagi. Hasilnya koor­dinasi saja. Pokoknya, tidak ada blo­kade,” tandas Dirjen Mi­neral dan Batubara Kementerian ESDM Thamrin Sihite.

Seperti diketahui, sejumlah ele­men masyarakat Kalimantan Se­latan mengancam bakal me­nutup kembali jalur pengang­kutan Su­ngai Barito, jika peme­rin­tah pusat tidak membantu me­ngatasi ke­lang­kaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Sungai rak­sasa tersebut merupakan akses uta­ma bagi perusahaan batubara untuk mengirim hasil produksi mereka, termasuk ke Pulau Jawa. Jika ja­lur itu ditutup, maka mengancam pa­sokan batubara untuk industri dan PLN di Pulau Jawa. [Harian Rakyat Merdeka]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA