Ilustrasi (RMOL via Gemini)
Pembangunan pusat data atau data center di Indonesia kini sedang melaju kencang, yang terlihat jelas dari ramainya perusahaan memborong lahan di kawasan industri.
Lonjakan kebutuhan lahan ini membuat kinerja keuangan PT Puradelta Lestari Tbk. (DMAS), emiten pengembang properti dan kawasan industri terpadu di Indonesia, melonjak drastis, dengan sektor data center sebagai pembeli utamanya.
Empat perusahaan yang bergerak di bidang ini menyerap sebagian besar penjualan lahan industri di kawasan Kota Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, hingga September 2026.
Microsoft menjadi pembeli terbesar. Melalui PT Microsoft Operations Indonesia, perusahaan tersebut mencatatkan pembelian lahan senilai Rp795,96 miliar. Nilai itu mencakup 30,06 persen dari total penjualan kepada pembeli utama DMAS.
Pembelian dalam jumlah besar juga dilakukan PT Digital Gayana Ekagrata dengan nilai Rp741,50 miliar. Selanjutnya, PT Princeton Digital Group membeli lahan senilai Rp446,12 miliar, sedangkan PT Indoedge Real Estate and Data Center mencapai Rp276,06 miliar.
Jika ditotal, nilai pembelian keempat perusahaan itu mencapai Rp2,26 triliun. Artinya, lebih dari 85 persen penjualan kepada kelompok pembeli utama DMAS berasal dari empat perusahaan tersebut.
Besarnya transaksi ini ikut menjelaskan lonjakan pendapatan DMAS sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Dalam keterbukaan informasi disebutkan perseroan meraup pendapatan Rp2,65 triliun, hampir 3,4 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan lahan industri menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp2,54 triliun, atau sekitar 96 persen dari total pendapatan.
Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan DMAS, Tondy Suwanto, menegaskan bahwa penjualan lahan kepada perusahaan pusat data berperan penting dalam pencapaian tersebut.
"Sebagian besar pendapatan Perseroan di sembilan bulan pertama tahun 2026 berasal dari penjualan lahan industri, khususnya kepada sektor data center," kata Tondy, dikutip redaksi di Jakarta, Sabtu 24 Oktober 2026.
Kinerja ini memperlihatkan bagaimana ekspansi infrastruktur digital turut membuka peluang bisnis bagi pengembang kawasan industri.