Berita

Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir. (Foto: RMOL/Alifia)

Finansial

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

KAMIS, 22 OKTOBER 2026 | 12:16 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia menilai fundamental perusahaan di pasar modal Indonesia masih menunjukkan tren positif, di tengah gejolak pasar saham RI.

Hal tersebut dikatakan Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) membuka peluang menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

“Ada persoalan yang perlu diperbaiki, tapi bukan berarti perusahaan-perusahaan di bursa kita memiliki fundamental yang buruk. Dari 146 emiten dengan pendapatan tahunan di atas Rp5 triliun, 134 mencatat laba,” kata Pandu dalam keterangannya di Instagram pribadi, dikutip Kamis, 22 Oktober 2026.


Sementara itu, laba agregat emiten pada semester I-2026 kata Pandu juga tumbuh 15 persen secara tahunan (yoy), diikuti pertumbuhan pendapatan sebesar 7 persen.

"Kita juga perlu membedakan persoalan tata kelola pasar dengan fundamental perusahaan. Pasarnya silakan saja dibenahi, tetapi kekuatan bisnis perusahaan Indonesia tetap perlu dilihat secara objektif. Yang semua itu kita harus melihatnya secara seimbang," ujar Pandu.

Selain mencatatkan pertumbuhan laba dan pendapatan, Pandu menyebut 121 emiten nonkeuangan memiliki total kas sebesar Rp583 triliun pada kuartal II-2026.  Angka tersebut meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Besarnya kepemilikan kas tersebut dinilai memberikan ruang bagi perusahaan untuk mendukung pengembangan usaha dan ekspansi bisnis.

Meski demikian Pandu menegaskan, masukan investor maupun penyedia indeks perlu menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pasar modal Indonesia. Terlebih, MSCI saat ini membuka konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi Indonesia.

Namun, ia juga menyoroti keputusan penyedia indeks FTSE Russell yang tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori secondary emerging market, meskipun efektivitas reformasi pasar modal Indonesia masih terus dipantau.

“Jadi ada juga indeks provider lain yang memiliki opini berbeda. Ada, tetapi harga saham yang turun belum tentu berarti murah. Jadi kita harus melihat kemampuan menghasilkan laba, pertumbuhan bisnis, arus kas, hutang, dan tata kelolanya,” kata dia.

Untuk itu, ia mendorong investor untuk tetap menilai perusahaan berdasarkan kualitas bisnis dan kinerja keuangannya, bukan semata-mata mengikuti sentimen pasar.

"Pasar modal yang kuat bukan hanya soal indeks naik. Perusahaan berkualitas harus bisa mendapatkan pendanaan, dan masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhannya," pungkasnya.


Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya