Berita

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji dan pendahulunya, Agus Gumiwang Kartasasmita. (Foto: RMOL/Sarah Alifia Suryadi)

Publika

Kisah di Balik Pencopotan Menteri Agus Gumiwang

MINGGU, 11 OKTOBER 2026 | 02:22 WIB

KISAH dicopotnya Agus Gumiwang Kartasasmita dari kursi Menteri Perindustrian memang sudah lama. Namun, kisah pencopotannya itu sangat dramatis. 

Saat ia dipuja-puji di luar negeri, saat itulah kursi menteri berpindah ke teman sendiri. 

Pada 30 September hingga 1 Oktober 2026, Agus Gumiwang Kartasasmita berada di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat, menghadiri pertemuan tingkat menteri Global Forum on Steel Excess Capacity (GFSEC) 2026. 


Ia terbang ribuan kilometer untuk menjalankan tugas negara, membicarakan industri baja dunia, menjalin komunikasi internasional, dan membawa nama Indonesia ke panggung global.

Di Milwaukee, pertemuan berlangsung. Jabat tangan, senyum diplomatik, kamera, dan pembicaraan serius mewarnai agenda. Bahkan, di sela-sela forum, Agus masih bertemu dengan pejabat perdagangan Amerika Serikat dan Korea Selatan. 

Ia menjalankan tugas sebagai menteri, barangkali dengan pikiran penuh tentang industri nasional harus terus bergerak.

Namun, ketika Agus masih berada di Amerika, Jakarta mendadak menghadirkan babak tak kalah dramatis dari film politik Hollywood. 

Pada 1 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Muhammad Sarmuji sebagai Menteri Perindustrian menggantikan Agus. Makjleb.

Agus masih di Milwaukee. Kursinya sudah berganti pemilik.

Nuan bayangkan ironi itu. Di satu belahan dunia, seorang menteri sedang menjalankan agenda resmi. Di belahan dunia lain, jabatan yang melekat padanya telah beralih kepada orang lain. 

Yang membuat cerita ini terasa seperti lelucon semesta, penggantinya bukan orang asing, melainkan teman satu partainya sendiri di Partai Golkar!

Sarmuji sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal Golkar sekaligus Ketua Fraksi Golkar di DPR. Pada 2 Oktober, serah terima jabatan berlangsung di Kementerian Perindustrian.

Lalu, bagaimana ketika Agus kembali ke Jakarta? Kita tidak mengetahui secara pasti suasana kepulangannya, apa yang ia rasakan, atau bagaimana percakapannya dengan keluarga dan kolega. 

Namun, bayangkan kontras mungkin menyertai kepulangan seorang pejabat setelah perjalanan dinas, koper dibawa pulang, agenda perjalanan ditutup, kolega ditemui, keluarga kembali berkumpul. 

Istri dan anak-anak mungkin menyambut kepulangannya seperti keluarga menyambut seseorang baru menyelesaikan tugas jauh dari rumah.

Tetapi jabatan dahulu melekat pada dirinya sudah bukan miliknya lagi. Di sinilah imajinasi politik terasa begitu getir. 

Begitu jabatan itu hilang, orang dengan mudah berpaling ke pejabat baru. Syukur-syukur didoakan baik, kadang muncul celetukkan, “Syukurin lho..!”

Dalam politik, seseorang bisa berangkat sebagai menteri dan kembali sebagai mantan menteri. Pesawatnya mungkin mendarat dengan selamat, tetapi kedudukannya tidak ikut pulang bersamanya. Nasibmu Gus..gus.

Nama Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Golkar, ikut menjadi sorotan. Pergantian ini berkaitan dengan konsolidasi kekuatan internal partai, termasuk perebutan pengaruh di Jawa Barat. 

Namun, belum ada bukti terverifikasi, Bahlil mengatur pencopotan Agus. Bahlil menyatakan pengangkatan dan pemberhentian menteri merupakan hak prerogatif Presiden. Sarmuji pun mengaku baru memperoleh kepastian penunjukannya pada pagi hari sebelum pelantikan. 

So, apakah ini pertarungan faksi Golkar? Masih perlu bukti. Apakah Agus diberi tahu sebelum pelantikan? Pertanyaan itu juga membutuhkan jawaban jelas. Yang pasti, pergantian berlangsung ketika Agus sedang menjalankan agenda resmi di Milwaukee.

Kasihan Agus. Berangkat ke Amerika membawa nama Indonesia, pulang membawa kenyataan politik yang berbeda. Kursi yang ditinggalkannya? Kini menjadi tanggung jawab teman sendiri.

Di Milwaukee, Agus menjalankan tugas negara. Di Jakarta, kursinya menemukan tuan baru. Begitulah politik, wak. Kadang-kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan kursi, melainkan mengetahui, penggantinya adalah kawan sendiri.

“Semoga saja, Pak Agus ikhlas, Bang.”

“Aamin, wak. Semoga ikhlas se-ikhlasnya dunia akhirat.”

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya