Berita

Gibran dan Jokowi (Foto: istimewa)

Politik

Berubah Sikap, Jokowi Dinilai Fokus Selamatkan Karier Politik Gibran

SABTU, 10 OKTOBER 2026 | 13:43 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Perubahan sikap mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) - yang tidak lagi lantang menyuarakan pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode, melainkan menyebut Pemilu masih jauh - diduga berkaitan dengan upaya menyelamatkan masa depan politik sang putra sulung.

Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai ada dua kemungkinan yang melatarbelakangi perubahan sikap tersebut.

Kemungkinan pertama berkaitan dengan dampak putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait gugatan persyaratan pendidikan Gibran yang dinilai berpotensi memengaruhi reputasi dan kredibilitas Wakil Presiden tersebut.


"Pascaputusan MK, reputasi dan kredibilitas Gibran sudah pada titik nadir, padahal itu adalah modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang," ujar Jamiluddin kepada wartawan di Jakarta, Sabtu 10 Oktober 2026. 

Jamiluddin menduga Jokowi kini lebih realistis. Menurutnya, mempertahankan jabatan wakil presiden tanpa menghadapi proses pemakzulan kini menjadi prioritas utama, ketimbang membicarakan peluang dua periode pada Pilpres 2029.

"Bisa saja Jokowi berpikir posisi politik Gibran sudah di ujung tanduk. Bagi Jokowi, jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus," tambahnya.

Jika pemakzulan terjadi, dampaknya akan sangat merusak kelanjutan karier politik Gibran. Karena itu, Jokowi diprediksi akan memanfaatkan sisa pengaruh politiknya untuk melobi para ketua umum partai, termasuk Presiden Prabowo Subianto, agar Gibran tetap bertahan di pemerintahan.

"Untuk itu, Jokowi tampaknya akan menggunakan sisa-sisa pengaruhnya untuk melobi para ketua umum partai untuk tidak memakzulkan Gibran. Termasuk tentunya Presiden Prabowo Subianto,” kata Jamiluddin. 

Menurut Jamiluddin, langkah tersebut dapat dibaca sebagai strategi mundur selangkah demi mempertahankan peluang politik yang lebih besar bagi Gibran. Jokowi, kata dia, tidak harus memaksakan wacana dua periode sejak dini selama posisi politik putranya masih bisa dipertahankan.

"Jadi, Jokowi disini menganut falsafah mundur selangkah untuk maju beberapa langkah,” ujarnya.

Kemungkinan kedua, Jamiluddin menilai Jokowi belum tentu sepenuhnya yakin terhadap peluang Prabowo pada Pilpres 2029. Perubahan narasi menjadi Pemilu masih jauh, menurutnya, dapat memberi ruang bagi Jokowi untuk menentukan strategi politik yang lebih fleksibel.

Dengan tidak mengunci dukungan pada skema Prabowo-Gibran dua periode, Ritonga menduga Jokowi ingin memastikan masa depan politik Gibran tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan Prabowo maupun koalisi partai pendukungnya.

Ia menilai, jika mendekati Pilpres 2029 peluang Prabowo dinilai melemah, Jokowi berpotensi mempertimbangkan Gibran sebagai calon presiden dengan mencari pasangan yang memiliki elektabilitas tinggi. Sebaliknya, apabila Prabowo masih memiliki peluang politik yang kuat, Jokowi diperkirakan akan berupaya mempertahankan skema Gibran sebagai calon wakil presiden.

"Jadi, perubahan sikap itu tampaknya disengaja. Sebab dengan perubahan sikap itu Jokowi bisa lebih bebas menentukan Gibran menjadi capres atau tetap menjadi cawapres,” katanya.

Ritonga menyimpulkan, arah politik Jokowi terhadap Prabowo-Gibran pada 2029 kemungkinan akan ditentukan oleh kalkulasi politik menjelang pemilihan. Dalam pandangannya, Jokowi akan mempertimbangkan posisi Prabowo sekaligus peluang Gibran untuk melanjutkan karier politiknya.

"Mana yang akan dipilih Jokowi bergantung keterpilihan Prabowo saat mendekati Pilpres 2029, Bila keterpilihan Prabowo masih tinggi, Jokowi akan tetap merapat. Sebaliknya, bila keterpilihan Prabowo rendah, Jokowi tampaknya akan meninggalkannya,” pungkasnya.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya