Pengurus Pusat Yayasan Hang Tuah (PP YHT) berkolaborasi dengan Yayasan Pusat Krisis Terpadu (PKT) “Melati” mengadakan kegiatan talkshow “Membangun Budaya Saling Menghargai dan Literasi Digital Untuk Mencegah Perundungan (Bullying) di Sekolah Hang Tuah bertempat di Wisma Elang Laut Jalan Pangeran Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Kegiatan ini melibatkan 360 peserta offline yang terdiri dari murid SMK dan SMA Hang Tuah, Guru BK, Komite Daerah Jakarta, sedangkan peserta yang hadir secara online mencapai 60 peserta yang terdiri dari pengurus/daerah/perwakilan, Kasatdik, Guru BK, perwakilan komite tiap sekolah 2 orang, serta siswa/siswi SMP, SMK, SMA.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh: (1) Ketua PKT Melati, Sri Murniati Widodo AS; (2) Ketua PP YHT Bina Yunita Hidajati, S.E., M.M; (3) Anggota Pengawas Bidang Kinerja PP YHT Kini Denih Hendrata; dan (4) Kapengda Jakarta Ibu Hening Uki Prasetia.
Kegiatan ini menghadirkan pemateri yang berpengalaman di bidangnya mulai dari: (1) Dra. Pusparani H.C. Hakim, M.Psi, Psikolog dengan materi tentang “Jadi Generasi Muda yang Lebih Kuat dan Unggul: Dengan Konsep Diri dan Olympic Values; (2) Dra. Evita Adnan, M.Psi dengan materi tentang “Sekolah Tanpa Bully: Belajar Dalam Suasana Aman dan Nyaman”; dan (3) Mayor Laut (KH) Khoirul Umam, M.Psi., Psikolog, M.Han. dengan materi tentang Bijak Bermedia Sosial dan Stop Cyberbullying.
Selaku penyelenggara, Sri Murniati Widodo AS menyampaikan bahwa PKT Melati didirikan pada 21 Desember 2001 sebagai wujud kepedulian organisasi perempuan terhadap perempuan dan anak. Talkshow Cegah Bullying yang diadakan kali ini bekerjasama dengan PP YHT dengan peserta siswa-siswi Sekolah Hang Tuah.
Sementara Ketua Pengurus Pusat YHT Bina Yunita Hidajati, S.E., M.M dalam kata sambutannya menyampaikan bahwa Bullying bukanlah candaan atau kenakalan biasa, bullying dapat meninggalkan dampak berkepanjangan pada korban baik dari rasa percaya dirinya, kenyamanan belajar, hubungan sosial, hingga perkembangan anak.
“Karena itu, pencegahan Bullying bukan hanya tanggung jawab sekolah, guru, hingga orang tua, tetapi peran kita semua sangat diperlukan. Anak-anak perlu belajar saling menghargai, berani melapor ketika melihat dan mengalami perundungan (bullying), hingga berani mengatakan tidak pada kegiatan perundungan (bullying),” kata Bina dalam katerangan yang diterima redaksi di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Psikolog Dra. Pusparani H.C. Hakim, M.Psi, menyampaikan bahwa banyak remaja saat ini mengalami stress. Dengan tanda-tanda stress pada remaja dengan sering merasa cemas/khawatir berlebihan, mudah marah/lebih sensitif, sulit menjaga fokus dan motivasi, sering merasa lelah secara fisik maupun mental, tidur menjadi tidak nyenyak.
Adapun faktor penyebab stress pada remaja yaitu tugas sekolah, ekspektasi, sosial media, pertemanan, hingga masa depan.
“Cara mengelola stress dengan mengenal diri dan perasaan, mengatur tujuan, mengelola waktu, perbanyak ilmu, berani bercerita dan meminta bantuan kepada orang-orang yang kompeten seperti guru BP dan lainnya, selain itu cara mengatasi stress adalah dengan melakukan aktivitas yang disukai, menjaga kesehatan fisik dan cukup tidur, serta tetap bergerak aktif,” jelasnya.
Pemateri kedua, Dra. Evita Adnan, M.Psi menjelaskan bahwa remaja khususnya pada Gen Z memasuki masa pencarian identitas diri dan membutuhkan validasi kelompok sebaya. Ditambah dengan perkembangan media sosial, remaja saat ini makin rentan terlibat dalam perundungan (bullying), mulai dari tindakan fisik, verbal, sosial, hingga cyberbullying.
“Sekolah memegang peran krusial dalam mencegah dan menangani perundungan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman melalui penyediaan mekanisme pengaduan yang terjamin kerahasiaannya, pemulihan psikologis korban, penanganan pelaku secara proporsional, serta memantau kondisi lingkungan sekolah dengan berkelanjutan dengan melibatkan murid, wali murid, guru, komite dan pihak lainnya,” ungkap dia.
Kegiatan ini juga diisi dengan berbagai kreatif lainnya seperti pembacaan Puisi yang berjudul “Bullying: Aku, Kamu, dan Kita Semua karya M. Haris Zulkarnain dan Dzakia Rahmi. Puisi tersebut dibacakan oleh Dzakia Rahmi Siswi Kelas XII SMA Hang Tuah 1 Jakarta. Sedangkan untuk menjaga semangat di ruangan, diadakan Ice Breaking yang dipandu oleh Ibu Eka Agustina dan Ibu Titien Pamudji.
Di akhir acara dilaksanakan “Deklarasi Bersama Cegah Bullying Sebagai Komitmen Mewujudkan Lingkungan Sekolah Hang Tuah yang Bebas Perundungan (Bullying)”.