Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Opini Pakar

Selembar Ijazah dan Roh Pendidikan yang Hilang

SABTU, 10 OKTOBER 2026 | 04:54 WIB

SERU! Kita tidak sedang berbicara mengenai ijazah sebagai syarat pencalonan jabatan publik, melainkan tentang esensi lembar pengukuhan akademik tersebut di tengah gempuran kecerdasan buatan. Era modern menghadirkan solusi instan melalui teknologi, yang kemudian mengambil alih berbagai bidang pekerjaan.
 
Sementara itu, kita masih terjebak pada perdebatan usang, tentang makna penting selembar ijazah atau kompetensi nyata? Ironisnya, kebijakan makro sering kali masih memperlakukan institusi pendidikan, layaknya mesin pencetak sertifikat.
 
Publik hafal dengan kelakar sinis, gonta-ganti kurikulum. Bahkan pasca-kemerdekaan, telah belasan kali terjadi perombakan kurikulum. Sayangnya, perubahan bertubi-tubi tersebut masih bersifat kosmetik, elitis, dan sarat muatan politis, alih-alih menyentuh akar filosofis kelemahan pendidikan di ruang kelas (Alhamuddin, 2014).
 

 
Untuk memahami kekacauan struktural itu, perlu menengok kembali ke akar peradaban. Jauh sebelum era kolonial, terdapat ekosistem pendidikan organik dan membumi melalui padepokan dan pondok pesantren. Di institusi tradisional tersebut, pendidikan tidak berformat transaksional untuk sekadar mendapatkan selembar kertas tanda lulus.
 
Proses belajar di masa lalu, menyatu erat dengan ekologi alam dan masyarakat, berpusat pada pembentukan karakter moral, etika, kesalehan sosial, dan kemandirian hidup (Dhofier, 2011). Kemudian mengalami perubahan drastis, seiring hegemoni kolonialisme. Melalui kebijakan Politik Etis, didirikan sekolah formal. Dengan niat pragmatis diskriminatif, mencetak pegawai rendah -klerk biaya murah, patuh pada birokrasi kulit putih (Collins et al., 2021).
 
Di titik historis inilah, cikal bakal fetisisme ijazah bermula. Masyarakat mulai didoktrin bahwa institusi pendidikan sekolah, menjadi alat pendongkrak status sosial untuk menjadi amtenar--pegawai pemerintah yang bergaji tetap.
 
Merespons proses dehumanisasi tersebut, Ki Hajar Dewantara melawan dengan mendirikan Tamansiswa pada 1922. Melalui Sistem Among dan semboyan Tut Wuri Handayani, secara radikal ditegaskan bahwa esensi pendidikan adalah untuk memerdekakan jiwa dan raga manusia, bukan sekedar mencetak sekrup birokrasi.
 
Pada waktu yang hampir bersamaan, John Dewey (1899), juga mengkritik konsep sekolah yang diisolasi layaknya menara gading. Bagi Dewey, pendidikan bukanlah persiapan untuk masa depan, melainkan bagi kehidupan itu sendiri, sebuah proses empiris learning by doing yang berbaur dengan masyarakat.
 
Lantas, dengan landasan filosofis pembebasan Dewantara dan progresifitas Dewey, mengapa gagasan luhur tersebut gagal membumi di sistem persekolahan saat ini?
 
Konklusinya terlihat pada kajian Randall Collins (1979), mengenai Credential Society -masyarakat pemuja ijazah. Menurut Collins, seiring berjalannya waktu, sistem pendidikan dikooptasi menjadi sarana stratifikasi kelas. Sehingga, ijazah atau gelar akademik berubah fungsinya menjadi semacam mata uang sosial, sebagai akses menuju pekerjaan yang prestisius.
 
Konsekuensinya menjadi fatal: institusi pendidikan terdegradasi menjadi pabrik pencetak diploma belaka. Stempel kelulusan dan nilai IPK tinggi dipuja, tanpa mempertanyakan apakah terdapat struktur penalaran mendalam dan kritis dalam empati sosial.
 
Kini, di era disrupsi, tatkala mesin dan algoritma dapat melakukan pekerjaan klerikal jauh lebih cepat serta akurat daripada otak manusia, obsesi buta pada kredensial formal menjadi sangat berbahaya dan tak relevan. Perlu segera dilakukan pembenahan.

Siklus melelahkan perombakan administrasi kurikulum, perlu direorientasi menjadi upaya konkrit peningkatan kualitas individu peserta didik. Roh pendidikan perlu dikembalikan pada khitahnya: (i) memanusiakan manusia seutuhnya; (ii) memerdekakan kemandirian berpikir; dan mengubah ruang kelas menjadi laboratorium bermasyarakat.

Pendidikan harus mampu melahirkan generasi masa depan yang bukan sekadar pandai mencari kerja, melainkan menjadi insan merdeka yang tangguh memecahkan krisis peradaban. Semoga!
 

Yudhi Hertanto
Doktoral Ilmu Pendidikan Universitas Indraprasta


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

Hashim Bantah Janjikan HP Gratis, Ngaku Dipelintir Media

Jumat, 30 Oktober 2026 | 00:13

Hemat Biaya Operasional, Drone Pertanian Frogs Bidik Program Cetak Sawah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:45

28 Jam Pemuda Bicara di Malang Usung Deklarasi ‘Sumpah Promptmuda’

Kamis, 29 Oktober 2026 | 23:24

Kemenkop dan Pertamina Patra Niaga Luncurkan Model Pengumpulan Minyak Jelantah

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:59

Asap dan Sengsara

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:52

Sempat Ditahan, 19 Demonstran Sumpah Pemuda Dibebaskan

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:38

32,7 Juta Investor Kecewa Nilai Saham Anjlok Imbas MSCI, Hashim: Saya Juga

Kamis, 29 Oktober 2026 | 22:12

PLN Siap Pasok Daya Andal untuk Jaringan Usaha Telkom Group

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:47

Tim Yaqut Hadirkan Saksi Meringankan dalam Sidang Kuota Haji

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:36

Singapura Panggil 10 Perusahaan RI soal Karhutla, Rosan: Investasi Tetap Terbuka

Kamis, 29 Oktober 2026 | 21:21

Selengkapnya