Berita

Ilustrasi (Artificial Intelligence)

Bursa

Saham Nike Ambrol, Bisnis China dan Sportswear Jadi Beban

SABTU, 03 OKTOBER 2026 | 10:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Saham Nike belum mampu keluar dari tekanan. Nike Inc. (NKE) ditutup di 33,87 Dolar AS, turun 3,64 persen atau 1,28 Dolar AS dalam sehari pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, waktu Amerika Serikat (AS).

Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek bisnis Nike, terutama setelah perusahaan mengungkap tekanan di China, lini Sportswear, dan Jordan.

Saham Nike sempat bergerak di rentang 31,97-33,97 Dolar AS, setelah dibuka pada 32,55 Dolar AS. Harga penutupan itu masih jauh di bawah posisi penutupan sebelumnya di 35,15 Dolar AS. Kapitalisasi pasar Nike tercatat sekitar 50,25 miliar Dolar AS.


Tekanan terhadap saham raksasa pakaian olahraga itu datang setelah kinerja kuartal pertama menunjukkan bahwa proses pemulihan bisnis masih membutuhkan waktu. Pendapatan turun 4 persen menjadi 11,2 miliar, Dolar AS, sementara laba per saham (EPS) turun 2 persen menjadi 0,48 Dolar AS. EPS memang lebih tinggi dari ekspektasi analis sebesar 0,43 Dolar AS, tetapi pendapatan berada di bawah perkiraan pasar 11,32 miliar Dolar AS.

Salah satu masalah terbesar datang dari Sportswear. Pendapatan kategori ini turun dua digit rendah karena Nike sengaja mengurangi produksi sejumlah produk dan membersihkan persediaan. Penjualan Dunk bahkan turun hampir 50 persen dan menjadi beban sekitar 200 juta Dolar AS terhadap bisnis Sportswear. Nike juga mengakui sejumlah produk lama tidak terjual sesuai harapan.

Jordan Brand juga masih tertekan. Pendapatannya turun belasan persen dan Nike mengakui telah memasok terlalu banyak produk retro ikonik. Perusahaan berencana mengurangi volume serta frekuensi peluncuran sejumlah produk tersebut, dengan Amerika Utara diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

China menjadi persoalan lain yang cukup berat. Pendapatan Greater China anjlok 26 persen pada kuartal pertama, seiring langkah Nike melakukan perombakan pasar, termasuk mengurangi distribusi online yang dinilai tidak menguntungkan. Perusahaan juga memangkas sejumlah toko digital, membenahi jaringan ritel fisik, dan membersihkan persediaan. Manajemen memperkirakan pendapatan China masih akan memburuk sepanjang tahun fiskal 2027 sebelum mulai membaik.

Di tengah tekanan tersebut, ada beberapa bagian bisnis yang masih menunjukkan pertumbuhan. Bisnis Performance tumbuh satu digit tinggi, dengan Lari, Sepak Bola Global, Training, Tenis, Golf, dan Bola Basket menjadi pendorong. Segmen Lari bahkan mencatat pertumbuhan dua digit untuk kembali merebut pangsa pasar. Di Amerika Utara, pendapatan Nike masih tumbuh 2 persen.

Nike juga mulai menunjukkan perbaikan dari sisi efisiensi. Margin kotor naik 60 basis poin menjadi 42,8 persen, sementara biaya SG&A turun 3 persen. Perusahaan juga mengakhiri kuartal dengan kas dan investasi jangka pendek sekitar 8,4 miliar Dolar AS serta mengembalikan sekitar 610 juta Dolar AS kepada pemegang saham melalui dividen.

Untuk memperbaiki kinerja, Nike menjalankan program restrukturisasi Pace yang ditargetkan menghasilkan penghematan sekitar 2,5 miliar Dolar AS hingga 2031. Namun, program ini membutuhkan biaya implementasi sekitar 1 miliar Dolar AS serta sekitar 300 juta Dolar AS untuk pesangon. Sebagian besar manfaat penghematan baru diperkirakan terasa pada tahun fiskal 2029 dan 2030.

Ke depan, tantangan Nike masih cukup besar. Perusahaan memperkirakan pendapatan tahun fiskal 2027 turun dalam kisaran satu digit tinggi, sementara tekanan terhadap profitabilitas diperkirakan lebih besar akibat margin, biaya tetap, dan kenaikan biaya input. 

Dengan harga saham yang kini berada di 33,87 Dolar AS dan dividend yield sekitar 4,84 persen, perhatian investor akan tertuju pada seberapa cepat Nike mampu membalikkan tekanan di Sportswear, Jordan, dan China.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya