Berita

Ilustrasi. (Foto: Pelindo Terminal Petikemas)

Bisnis

Berpotensi Perkuat Bisnis Logistik, Isu Penggabungan Pelni dan ASDP ke Pelindo Jalan di Tempat?

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 08:56 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Wacana pembentukan holding BUMN sektor maritim dengan menggabungkan PT Pelni, PT ASDP Indonesia Ferry dan PT Pelindo dalam satu entitas bisnis yang sudah digaungkan sejak setahun lalu kini terasa redup.

Berdasarkan info yang dihimpun redaksi, pemerintah bersama BPI Danantara serta perwakilan ketiga perusahaan tersebut intens melakukan kajian terhadap wacana ini. Namun sepertinya belum ada titik temu hingga sekarang.

Padahal penggabungan ketiga BUMN itu dinilai dapat memperkuat platform maritim dan logistik nasional dalam menghadapi tantangan zaman sekaligus bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi.


Hal itu sebagaimana diutarakan praktisi kepelabuhanan dan logistik nasional, Bambang Sabekti kepada RMOL di Jakarta, Senin, 28 September 2026. 

“Saya setuju jika Pelni dan ASDP ditempatkan di bawah Pelindo. Tetapi saya melihatnya bukan semata-mata sebagai aksi korporasi atau restrukturisasi BUMN. Ini harus dilihat sebagai upaya membangun platform maritim dan logistik nasional,” ujar Bambang.

Menurutnya, Indonesia memiliki jaringan pelabuhan, kapal, penyeberangan, dan konektivitas antarpulau yang sangat besar. Masalahnya, selama ini mata rantai tersebut banyak dikelola secara terpisah. 

“Akibatnya, kita belum selalu mendapatkan nilai maksimum dari aset dan jaringan yang sebenarnya sudah kita miliki,” ungkap dia.

Bambang menyebut Pelindo mempunyai jaringan pelabuhan dan terminal. Sementara Pelni memiliki jaringan angkutan laut penumpang sekaligus bisnis angkutan barang dan logistik. Sedangkan ASDP mempunyai jaringan penyeberangan Ro-Ro, pelabuhan penyeberangan, serta bisnis yang terkait dengan kendaraan dan logistik.

“Kalau ketiganya berada dalam satu kelompok, peluang sinerginya jauh lebih besar. Bukan hanya berbagi aset, tetapi dapat mengintegrasikan jaringan, perencanaan kapasitas, data, pelayanan pelanggan, konektivitas antarmoda, sampai pengembangan bisnis logistik,” jelasnya.

Lanjut dia, hal ini penting karena nilai ekonomi dalam transportasi tidak hanya diciptakan oleh kapal atau pelabuhan secara sendiri-sendiri. Nilai terbesar justru muncul ketika seluruh mata rantai perjalanan barang dan orang tersambung dengan baik.

“Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk mengubah pendekatan kita dari sekadar mengelola perusahaan menjadi mengelola ekosistem,” tegasnya.

“Dan yang paling penting, integrasi ini harus mempunyai target yang jelas: biaya logistik turun, konektivitas antarpulau meningkat, utilisasi aset negara lebih optimal, pelayanan masyarakat membaik, dan pada akhirnya daya saing ekonomi Indonesia meningkat,” sambung Bambang.

Masih kata dia, wacana ini jangan hanya berhenti pada Pelni dan ASDP masuk ke Pelindo. Bambang berharap lahirnya satu kekuatan baru yang mampu mengintegrasikan pelabuhan, pelayaran, penyeberangan dan logistik Indonesia.

“Kalau itu yang menjadi desainnya, maka restrukturisasi ini bukan sekadar mengubah struktur BUMN. Ini bisa menjadi langkah strategis untuk membangun ekosistem maritim dan logistik nasional,” pungkasnya.

Penuh Tantangan

Wacana yang sudah berhembus sejak awal 2025 ini seakan-akan berjalan di tempat. Tidak ada keterangan dan info lebih lanjut dari pemangku kepentingan hingga sekarang.

Di tengah wacana itu, justru ada isu tak sedap menyelimuti ketiga perusahaan BUMN yang bergerak di sektor maritim ini. Sebagaimana diketahui, baik ASDP maupun Pelni diduga masih memiliki urusan dengan penegak hukum.

Sedangkan Pelindo, baru-baru ini diterpa isu pengangkatan seorang terdakwa menjadi komisaris independen anak usaha yang cukup menjadi perhatian publik. Walaupun pengangkatan itu sudah dibatalkan, namun misteri terkait kebijakan kontroversial masih terngiang di khalayak.

Menurut Direktur Eksekutif The National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi, antara Pelni, ASDP, dan Pelindo sesungguhnya berada dalam lini bisnis yang cukup berbeda jauh. Pelni dan ASDP merupakan perusahaan pelayaran, sedangkan Pelindo merupakan operator pelabuhan. 

“Direksi Pelindo jelas akan menghadapi kendala pengelolaan nantinya karena tidak memiliki pemahaman yang cukup dalam bidang pelayaran. Kondisinya tidak akan lebih baik seandainya ‘penghuni’ baru grup Pelindo itu nantinya dijadikan anak usaha seperti SPMT, SPTP. Masalahnya terletak pada ketidakcocokan genetis kedua bidang usaha atau bisa dibilang seperti air dan minyak,” ucap Siswanto dalam pesan elektronik kepada redaksi beberapa saat lalu.

Tantangan berikutnya, lanjut dia, masa depan bisnis yang tidak prospektif. Menuurt Siswanto, baik Pelni maupun ASDP memiliki kinerja yang biasa-biasa saja, bahkan relatif berdarah-berdarah dalam bisnisnya. 

“Segmen usaha yang digeluti Pelni seperti pengangkutan penumpang tergolong bidang yang tidak menjanjikan. Khusus Pelni, BUMN ini sangat tergantung subsidi untuk tetap mengapung. Ladang usahanya tergerus oleh maraknya penerbangan berbiaya murah dan nampaknya tidak akan pernah pulih kembali,” jelasnya.

Hingga Mei 2026, Pelni mencatat pendapatan usaha sebesar Rp2,5 triliun dari target tahunan Rp6,27 triliun. Perseroan menilai capaian tersebut masih berada pada jalur yang sesuai dengan rencana.

Sebagian besar pendapatan Pelni didominasi oleh lini bisnis Public Service Obligation (PSO) atau kewajiban pelayanan publik sekitar 70 persen. Perusahaan pelayaran pelat merah ini juga mendapat penyertaan modal negara (PMN) di tahun 2024 dan 2025 untuk peremajaan kapal penumpang baru.

“Saking seretnya usaha pengangkutan penumpang, untuk mengadakan kapal baru sebagai pengganti armada yang sudah tua, Pelni bergantung kepada PMN. Pendapatan yang ada selama ini terlalu kecil untuk meremajakan kapal,” ungkap Siswanto.

Ia menyebut ASDP sedikit lebih baik karena memiliki segmen usaha yang monopolistik. Yakni sebagai operator kapal penyeberangan yang juga mengoperasikan terminal penumpang. Terbesar berada di Merak, Provinsi Banten. 

“Tidak hanya melayani feri milik induknya, terminal ini juga melayani feri milik swasta yang melayari rute Merak-Bakauheni. Usaha inilah yang lebih menghasilkan cuan dibanding bisnis penyeberangan,” bebernya. 

Kendati demikian, Siswanto menegaskan bahwa Pelni dan ASDP sama-sama memiliki beban keuangan yang akan menjadi tanggungan Pelindo sebagai holding kelak. Sehingga hal ini disinyalir menjadi faktor alotnya tarik menarik kepentingan di tengah wacana holding BUMN maritim.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya