Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi BPBD Kabupaten Klaten)

Politik

Musim Hujan Diprediksi Singkat, Pemerintah Harus Putar Otak Cegah Karhutla

SENIN, 28 SEPTEMBER 2026 | 01:59 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Anggota Komisi XII DPR RI Yulian Gunhar, meminta pemerintah memperkuat langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait musim hujan 2026/2027 yang datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat.

Gunhar mengatakan prediksi tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk tidak menunggu munculnya titik api dalam jumlah besar baru melakukan penanganan. Menurutnya, kondisi kemarau yang lebih panjang dapat membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar.

"Musim hujan yang mundur berarti kita punya waktu lebih panjang untuk mencegah karhutla. Jangan menunggu asap menyebar dan kasus ISPA meningkat baru pemerintah bergerak. Pencegahan harus dimulai sebelum api muncul," kata Gunhar dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.


BMKG pada 22 September 2026 memprediksi awal musim hujan 2026/2027 di 529 Zona Musim (ZOM), atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia, akan mengalami kemunduran dibandingkan rata-rata klimatologisnya. 

Selain itu, sebanyak 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari normal. Kondisi tersebut, kata Gunhar, perlu diterjemahkan menjadi langkah konkret di lapangan, terutama di daerah yang selama ini memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi.

"Prediksi cuaca dan iklim itu sedini mungkin harus diantisipasi. Dengan  segera mempersiapkan peta kerawanan, kesiapan personel, peralatan, sampai sistem peringatan dini di daerah," jelasnya.

Legislator PDIP ini juga meminta pemerintah memperkuat pemantauan titik panas dan kondisi lahan. Respons cepat, menurutnya, jauh lebih penting daripada menunggu kebakaran meluas dan sulit dikendalikan.

"Kalau titik api sudah muncul, waktu untuk bertindak sangat pendek. Maka deteksi dini harus benar-benar bekerja. Pemerintah daerah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat harus tahu wilayah mana yang harus diawasi lebih ketat," imbuhnya.

Selain ancaman terhadap lingkungan, Gunhar mengingatkan karhutla juga memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat. Untuk itu, Gunhar meminta pemantauan kualitas udara diperkuat di daerah rawan karhutla.

"Jangan sampai persoalan karhutla hanya dilihat sebagai urusan lingkungan. Ketika asap masuk ke permukiman, sekolah, pasar, dan fasilitas umum, ini sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat," tegas Gunhar.

Ia juga mendorong koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, serta sektor kesehatan agar penanganan karhutla tidak berjalan sendiri-sendiri. 

Gunhar menilai pemerintah memiliki kesempatan untuk melakukan pencegahan lebih awal. Apalagi BMKG sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa fenomena El NiƱo 2026 berpotensi bertahan hingga awal 2027 dan dapat meningkatkan risiko kekeringan serta karhutla.

"Data BMKG sudah memberikan peringatan, sekarang tinggal bagaimana pemerintah mengubah peringatan itu menjadi tindakan nyata demi melindungi seluruh warga negara," pungkas Gunhar.  

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Tertekan Lonjakan Minyak, Harga Emas Dunia Anjlok ke Level 4.254 Dolar AS

Senin, 28 September 2026 | 08:30

Iran Siap Hadapi "Perang Kiamat" dengan AS

Senin, 28 September 2026 | 08:12

Jalan Terbuka Bagi Dividen BEI: Proses Demutualisasi Masuki Tahap Pengkajian Saham

Senin, 28 September 2026 | 07:52

Halal Jangan Berhenti di Sertifikat

Senin, 28 September 2026 | 07:38

IAMI Lahir di Jakarta, Nasaruddin Umar Jadi Presiden Pertama

Senin, 28 September 2026 | 07:07

APH Harus Turun Tangan Tertibkan Tarif Parkir Tak Wajar

Senin, 28 September 2026 | 07:05

Kejagung Didesak Bongkar Mata Rantai Uang Chromebook

Senin, 28 September 2026 | 06:47

Pagar Nusa Kukuhkan 25 Kader Pasukan Inti di Taiwan

Senin, 28 September 2026 | 06:42

Indonesia Ikut Ajang WSC 2026 di Shanghai, Ini Manfaatnya

Senin, 28 September 2026 | 06:20

Ekosistem Logistik di Kawasan Timur Masih Penuh Tantangan

Senin, 28 September 2026 | 05:54

Selengkapnya