Ilustrasi. (Foto: Generate AI)
Nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS pada perdagangan Senin, 21 September 2026, di tengah memanasnya ketegangan geopolitik yang mendorong kenaikan harga minyak mentah dan penguatan indeks Dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.00 WIB, Rupiah bergerak tembus ke level Rp17.807 per Dolar AS, melemah 49 poin atau 0,26 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap Rupiah dipicu kenaikan harga minyak mentah serta meningkatnya ketegangan di Eropa Timur dan Timur Tengah.
Menurut Ibrahim, harga minyak mentah jenis Brent telah menembus 101 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bergerak di kisaran 96-97 Dolar AS per barel.
“Geopolitik ini cukup memanas, terutama di Eropa Timur dan Timur Tengah. Di Eropa Timur, kita melihat gudang di Kyiv dibom menggunakan drone oleh Rusia. Ini membuat ketegangan kembali memanas,” ujar Ibrahim dalam risetnya
Di Timur Tengah, Ibrahim menyoroti perkembangan konflik yang melibatkan kelompok Houthi Yaman dan Arab Saudi. Ia menilai eskalasi tersebut turut meningkatkan ketidakpastian di pasar global.
Selain itu, potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai pasar. Menurutnya, belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dalam perundingan yang dimediasi Pakistan dapat memperbesar risiko geopolitik.
“Selat Hormuz kemungkinan besar akan ditutup total oleh Iran. Kenapa? Karena belum adanya kesepakatan antara Amerika dan Iran mengenai perundingan yang diprakarsai oleh Pakistan,” jelasnya.
Ibrahim juga menyoroti langkah Amerika Serikat yang memperberat sanksi ekonomi terhadap Rusia menyusul serangan terhadap Kyiv. Kondisi tersebut, menurutnya, memperuncing ketegangan antara Washington dan Moskow, di luar konflik Rusia-Ukraina.
Ia menjelaskan, perkembangan geopolitik tersebut berpengaruh terhadap penguatan indeks Dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap mata uang domestik.
“Secara geopolitik memengaruhi laju penguatan indeks Dolar, harga minyak mentah, sehingga melemahkan mata uang Rupiah,” tuturnya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Ia memperkirakan bank sentral berpotensi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini.
Menurut Ibrahim, kenaikan tersebut berpotensi dilakukan di tengah perkembangan kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
“Sebelumnya, (eks Gubernur BI) Perry Warjiyo sudah menaikkan 100 basis poin. Tetapi saya melihat dalam kondisi saat ini, Bank Sentral Amerika sudah menaikkan suku bunga 25 basis poin. Ada kemungkinan besar Bank Indonesia dalam pertemuan minggu ini, hari Rabu, akan menaikkan suku bunga 25 basis poin,” pungkasnya.