Tangkapan layar saat politisi Moreno Soeprapto melakukan video call dan menjulurkan lidah saat Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR bersama jajaran MIND ID. (Foto: Istimewa)
ADA sebuah pemandangan yang seharusnya membuat rakyat bertanya, bukan sekadar tertawa. Seorang wakil rakyat, Moreno Soeprapto, terekam melakukan video call sambil bercanda dan menjulurkan lidah ketika Rapat Dengar Pendapat Komisi XII DPR bersama jajaran MIND ID sedang berlangsung pada Selasa 15 September 2026.
Boleh jadi bagi Moreno, itu hanyalah beberapa detik untuk menghibur anak yang sedang sakit dan membutuhkan perhatian ayahnya.
Tetapi bagi publik, ruang rapat DPR bukan ruang keluarga, bukan ruang santai, apalagi panggung untuk mempertontonkan gestur yang dapat dipersepsikan sebagai ketidakseriusan terhadap forum negara.
Di sinilah problem etika itu bermula, bukan semata pada soal menjulurkan lidah, melainkan pada kesadaran tentang tempat dan keadaan.
Ketika seseorang duduk di kursi parlemen, sesungguhnya ia tidak sedang duduk atas nama dirinya sendiri, sebab kursi itu melekat mandat rakyat dan setiap gerak-geriknya dapat dibaca sebagai representasi dari lembaga yang terhormat.
Parlemen adalah tempat membicarakan urusan rakyat, mengawasi pemerintah, membahas kebijakan strategis, dan mempertanggungjawabkan amanah politik yang diberikan melalui pemilu.
Maka ketika forum membahas sektor strategis negara, sementara seorang anggota dewan justru tampak asyik melakukan video call, pertanyaan etik menjadi tak terhindarkan: apakah ruang sidang masih dipahami sebagai ruang kehormatan atau telah berubah menjadi sekadar latar belakang aktivitas pribadi?
Tentu persoalannya tidak sesederhana mengatakan bahwa seorang ayah tidak boleh menghibur anaknya. Anak yang baru keluar dari rumah sakit tentu membutuhkan kasih sayang orang tuanya, dan Moreno telah menjelaskan bahwa video call itu dilakukan untuk menghibur anaknya yang sedang dalam masa pemulihan.
Hanya saja, niat baik dalam urusan domestik tetap membutuhkan ketepatan tempat, waktu, dan cara ketika seseorang sedang menjalankan mandat publik.
Moreno sendiri akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan mengakui bahwa tindakan tersebut terjadi pada momen yang kurang tepat.
Ia juga menyatakan tidak bermaksud melecehkan atau menyepelekan persidangan DPR. Pengakuan dan permintaan maaf itu patut dicatat sebagai bagian dari klarifikasi, tetapi justru dari sinilah pelajaran etik semestinya dimulai.
Sebab pejabat publik tidak hanya dituntut memiliki niat yang baik, tetapi juga dituntut memiliki kepantasan dalam tindakan.
Dalam politik, niat berada di ruang batin, sementara perilaku berada di ruang publik, dan ketika perilaku telah tertangkap kamera serta menyebar kepada masyarakat, maka persepsi publik menjadi bagian dari konsekuensi jabatan yang memang harus diterima.
Ironisnya, bangsa ini sedang menghadapi begitu banyak persoalan besar, dari ekonomi hingga pengelolaan sumber daya alam, dari kemiskinan hingga korupsi, dari ketimpangan hingga krisis kepercayaan kepada institusi negara.
Di tengah semua persoalan itu, rakyat tentu berharap wakilnya menghadirkan kesungguhan, sebab terlalu mahal harga sebuah kursi parlemen jika akhirnya hanya menghasilkan tontonan yang membuat publik mengernyitkan dahi.
Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton, sementara wakilnya menjadi pemain dalam panggung yang salah. Jangan sampai kursi yang diperoleh melalui suara rakyat diperlakukan seperti kursi pribadi, karena demokrasi bukanlah tiket untuk menikmati fasilitas kekuasaan, melainkan kontrak moral untuk mengabdi kepada mereka yang memberikan mandat.
Insiden Moreno menjulurkan lidah, semestinya tidak berhenti sebagai bahan olok-olok di media sosial, karena persoalan yang lebih besar adalah budaya etik di lembaga perwakilan.
Jika ruang sidang kehilangan kesakralan, jika forum negara diperlakukan tanpa kesungguhan, dan jika amanah rakyat dipandang sebagai rutinitas pekerjaan belaka, maka yang sedang tergerus bukan hanya citra seorang anggota dewan, melainkan wibawa parlemen itu sendiri."
Akhirnya, seorang wakil rakyat boleh saja memiliki kehidupan pribadi, menjadi ayah, suami, anak, atau sahabat, tetapi ketika memasuki ruang parlemen ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri, yaitu amanah rakyat.
Moreno telah meminta maaf dan publik tentu dapat menilai peristiwa tersebut secara proporsional, tetapi satu pesan harus tetap dicatat: kursi wakil rakyat bukan tempat mempertontonkan ego pribadi, melainkan tempat mempertanggungjawabkan suara rakyat, dan etika bukan hiasan kekuasaan melainkan ukuran pertama dari penghormatan kepada rakyat.
Ahmad KhozinudinSastrawan Politik