Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar AS pada perdagangan Jumat, 18 September 2026, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Timur Tengah.
Mengutip data Bloomberg hingga pukul 09.40 WIB, Rupiah bergerak ke level Rp17.734 per Dolar AS, menguat 19 poin atau 0,11 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen positif datang dari pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran pasar.
“Pasar merespon positif adanya pembicaraan antara AS dan kelompok Houthi yang membantu meredakan kekhawatiran akan gangguan pasokan di Timur Tengah,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Adapun dalam pertemuan itu, Houthi menegaskan kembali komitmen mereka terhadap gencatan senjata tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.
Sementara dari dalam negeri, pasar turut mencermati komitmen Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam menjaga pengelolaan keuangan negara dan memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap menjadi instrumen pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas.
Suahasil menegaskan, pengelolaan keuangan negara diarahkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
“Mengelola keuangan negara dimaksudkan untuk mendukung perekonomian dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Manfaat APBN bagi masyarakat dan perekonomian diwujudkan melalui berbagai aktivitas ekonomi, antara lain konsumsi masyarakat, investasi, pengeluaran pemerintah, serta kegiatan ekspor,” tuturnya.
Sementara itu, ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan dinilai semakin menyempit menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.
“Sinyal bertahannya status quo kebijakan moneter semakin menguat di kalangan analis. Langkah agresif BI sebelumnya dinilai menjadi alasan utama mengapa bank sentral tak perlu lagi tergesa-gesa memutar kemudi moneter,” kata Ibrahim.
Ia mengatakan kenaikan suku bunga sebesar 100 basis poin yang telah dilakukan BI sebelumnya dinilai sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas perekonomian. Langkah tersebut dianggap memberi ruang bagi bank sentral untuk tidak terburu-buru kembali mengetatkan kebijakan moneter.
Menurutnya, fundamental makroekonomi yang berangsur menguat juga menjadi pertimbangan bagi BI dalam menentukan arah kebijakan berikutnya.
“Stabilitas Rupiah di kisaran Rp17.300 hingga Rp17.800 per Dolar AS, aliran modal asing (capital inflow) yang kembali masuk ke pasar domestik, serta postur kebijakan fiskal yang lebih disiplin memperkuat ruang bagi bank sentral untuk memantau perkembangan ekonomi tanpa harus segera menaikkan suku bunga,” tandasnya.