Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL)

Politik

Forum Intelektual Muda:

Tradisi Demokrasi NU Jawab Tantangan Polarisasi Politik Bangsa

RABU, 16 SEPTEMBER 2026 | 01:45 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Di tengah tantangan polarisasi politik dan maraknya populisme agama yang masih membayangi dinamika demokrasi di Indonesia, Forum Intelektual Muda menegaskan pentingnya menggali kembali pemikiran serta tradisi kebangsaan yang diwariskan oleh Nahdlatul Ulama (NU). 

Nilai-nilai moderasi dan tradisi musyawarah NU dinilai menjadi kunci utama dalam merawat demokrasi berkeadaban di tanah air.

Co-Founder Forum Intelektual Muda, Muhammad Sutisna, menyampaikan bahwa NU telah membuktikan diri secara historis dan teologis sebagai garda terdepan yang berhasil memadukan nilai-nilai keislaman dengan prinsip demokrasi modern.


"Belajar demokrasi dari Nahdlatul Ulama berarti kita belajar tentang substansi etika berbangsa. NU tidak hanya membicarakan demokrasi sebagai mekanisme prosedural pemilu, tetapi menjadikannya sebagai kebiasaan hidup sehari-hari melalui nilai Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), dan Tasamuh (toleran)," ujar Sutisna saat membuka diskusi daring bertajuk Belajar Demokrasi dari NU di Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Sutisna menjelaskan, langkah bersejarah NU pada Muktamar Situbondo 1984 yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal merupakan konsensus kebangsaan yang krusial. Keputusan tersebut membuktikan bahwa Islam dan Pancasila tidak bertentangan, melainkan saling menopang dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Lebih lanjut, ia menyoroti tradisi Bahtsul Masail di lingkungan NU sebagai laboratorium demokrasi deliberatif yang nyata di tingkat akar rumput. Forum argumentasi hukum Islam tersebut melatih kedewasaan dalam mengelola perbedaan pendapat (ikhtilaf) secara rasional dan santun.

"Tradisi dan praktik keterbukaan dari NU ini sangat relevan untuk dirumuskan kembali dalam memperkuat partisipasi publik, memulihkan kepercayaan sosial, serta menghidupkan kembali budaya dialog di tengah meningkatnya polarisasi masyarakat saat ini," tambah Sutisna.

Ia juga menekankan pentingnya menggali strategi NU dalam membangun serta mempertahankan legitimasi kebangsaannya melalui jejaring yang kokoh meliputi para ulama, pesantren, kader, hingga masyarakat luas.

Sementara itu, aktivis muda NU, Hamam Asy'ari, menegaskan bahwa demokrasi dalam NU selalu dijalankan melalui musyawarah, dialog, dan pengambilan keputusan bersama. Menurutnya, Muktamar menjadi salah satu forum tertinggi dalam menentukan arah kebijakan organisasi tanpa harus memicu kegaduhan.

"Perbedaan dalam organisasi seharusnya tidak menimbulkan perpecahan. Sebagai bagian dari NU, kita perlu senantiasa menjaga dan merawat tradisi, pemikiran, serta rujukan keilmuan yang diwariskan para ulama," ujar Hamam.

Ia mengingatkan peran vital generasi muda sebagai pilar peradaban. Hamam menekankan pentingnya menjaga gerakan pemuda agar tetap independen dan tidak mudah ditunggangi oleh kepentingan politik atau pihak tertentu.

"Kita perlu merumuskan model gerakan pemuda yang kritis, damai, cerdas, terorganisir, serta berorientasi pada solusi konkret bagi bangsa. NU tidak membutuhkan kita secara individu, melainkan kitalah yang membutuhkan NU untuk terus menuntun arah peradaban," tegasnya.

Sebagai penutup, Muhammad Sutisna kembali menegaskan bahwa tradisi, peninggalan, dan pemikiran para ulama harus dijaga dengan baik serta dijadikan pedoman dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan berorganisasi.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya