Berita

Mantan Kepala Bea Cukai Kediri, Gatot Heroe Hernanda (RMOL/Jamaludin Akmal)

Hukum

KPK Panggil 2 Petinggi Bea Cukai di Kasus Suap

SELASA, 15 SEPTEMBER 2026 | 16:47 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Dua petinggi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dipanggil tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi dalam pengembangan kasus dugaan suap di lingkungan DJBC.

Jurubicara KPK, Budi Prasetyo, mengatakan, hari ini, Selasa, 15 September 2026, tim penyidik memanggil dua orang untuk diperiksa sebagai saksi.

"Pemeriksaan dilakukan di Gedung Merah Putih KPK," kata Budi kepada wartawan, Selasa siang, 15 September 2026.


Kedua saksi tersebut yakni Enov Wijanarko selaku Kepala Seksi Penindakan Impor I Direktorat P2 DJBC 2025-2026 dan Fithriya Wulandari selaku Kasubbag Belanja Pegawai Bagian Keuangan Setditjen DJBC.

Sebelumnya, KPK menetapkan Gatot Heroe Hernanda selaku Kasubdit Penindakan Direktorat P2 Ditjen Bea dan Cukai terkait Kepabeanan periode 2025-2026 sebagai tersangka baru pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Gatot ditahan untuk 20 hari pertama, terhitung sejak 26 Agustus hingga 14 September 2026, di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK.

Kasus ini bermula dari penyelidikan yang kemudian berujung pada operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada 4 Februari 2026. Dalam perkara pokok, KPK sebelumnya telah menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, yakni Rizal, Sisprian Subiyaksono, Orlando Hamonangan, John Field, Andri, Dedy Kurniawan, dan Budiman Bayu Prasojo.

Dalam pengembangan perkara, KPK menemukan fakta baru dalam persidangan perkara pokok serta bukti baru selama proses penyidikan. Dari pengembangan tersebut, KPK menyatakan telah memperoleh kecukupan alat bukti untuk menetapkan Gatot sebagai tersangka baru.

Dalam konstruksi perkara, Gatot diduga menerima bagian dari aliran uang yang diberikan pemilik PT Blueray, John Field, kepada sejumlah pihak di lingkungan Bea dan Cukai.

Total uang yang disetorkan John Field kepada sejumlah pihak di Bea dan Cukai selama Juli 2025 hingga Januari 2026 mencapai Rp61,9 miliar.

Dari jumlah tersebut, Rp3,25 miliar di antaranya diduga diterima Gatot melalui Enov Puji Wijanarko selaku Kepala Seksi Penindakan Kepabeanan I.

Uang tersebut merupakan bagian dari "jatah uang bulanan" dalam bentuk dolar Singapura yang disetorkan John Field untuk sejumlah pegawai di Subdit Intelijen dan Subdit Penindakan.

Pemberian uang tersebut diduga bertujuan agar perusahaan milik John Field memperoleh perhatian khusus dalam proses penindakan dan kepabeanan. Sebelumnya, John Field juga disebut meminta bantuan agar proses customs clearance perusahaan miliknya dapat diperlancar.

Dalam rangkaian perkara tersebut, John Field sempat dipertemukan dengan sejumlah pejabat Bea dan Cukai, termasuk Rizal dan Gatot. Bahkan, Rizal disebut menawarkan pertemuan langsung dengan Djaka Budhi Utama selaku Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

Pertemuan tersebut kemudian berlangsung di sebuah hotel di Jakarta Pusat dan dihadiri Djaka, Rizal, Gatot, sejumlah pihak Bea dan Cukai, serta beberapa pengusaha, termasuk John Field.

Selain menetapkan Gatot sebagai tersangka dan melakukan penahanan, KPK juga telah menyita sejumlah aset yang diduga berkaitan dengan perkara.

Barang bukti tersebut antara lain tiga unit motor gede (moge), yakni BMW R Nine T Scrambler, Kawasaki ZR900C, dan Triumph Bonneville Bobber.

KPK juga menyita uang tunai dalam valuta asing dolar Singapura dan dolar Amerika Serikat dengan total nilai sekitar Rp2,8 miliar.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya