Ilustrasi (Artificial Intelligence)
Bursa saham Asia mengawali perdagangan pekan ketiga September 2026 dengan pergerakan yang beragam. Sejumlah indeks utama kawasan tertekan cukup dalam di tengah kembali melonjaknya harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Sentimen pasar memburuk setelah Arab Saudi menutup sementara pipa East-West, salah satu jalur penting yang memungkinkan pengiriman minyak dari kawasan Teluk tanpa melewati Selat Hormuz.
Pada perdagangan Senin pagi, 14 September 2026, indeks ASX 200 Australia menjadi salah satu yang masih mampu bertahan di zona hijau. Indeks tersebut dibuka menguat 0,15 persen dan kemudian naik 0,20 persen menjadi 8.758,60 pada pukul 08.20 WIB.
Berbeda dengan Australia, tekanan cukup besar terlihat di pasar Korea Selatan. Indeks Kospi dibuka anjlok 2,91 persen dan semakin terperosok 3,12 persen ke level 6.694,09 pada waktu yang sama.
Indeks Nikkei 225 Jepang juga bergerak di zona merah. Setelah dibuka melemah 1,59 persen, Nikkei melanjutkan penurunan 1,55 persen ke posisi 63.018,66.
Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng Hong Kong berada di level 24.793, sedikit di bawah penutupan sebelumnya yang berada di 24.805,63.
Pergerakan bursa Asia tersebut berlangsung ketika harga minyak kembali menjadi perhatian utama pasar. Harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Minggu malam setelah Arab Saudi menutup pipa East-West yang menjadi jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Amerika Serikat bahkan telah menembus 100 Dolar AS per barel pada pekan lalu untuk pertama kalinya sejak Mei, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketegangan kawasan juga berdampak pada agenda diplomatik. Pertemuan Iran dan sejumlah negara Arab Teluk yang semula dijadwalkan berlangsung di Oman pada Senin untuk membahas situasi di Selat Hormuz ditunda setelah serangan terhadap pipa minyak Arab Saudi.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berpotensi menghadapi tekanan setelah mengakhiri perdagangan pekan lalu dengan penurunan 0,73 persen ke level 6.541.
Sentimen eksternal turut tercermin dari pergerakan iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di New York Stock Exchange. ETF yang menjadi salah satu indikator minat investor terhadap saham Indonesia tersebut ditutup melemah 0,74 persen ke level 12,76 Dolar AS.