Berita

Ilustrasi. (Foto: Dokumentasi RMOL/Istimewa)

Bisnis

Koperasi Harus Pertahankan Prinsip Dasar dan Miliki Kemampuan Adaptasi

MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026 | 03:25 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Koperasi menghadapi tantangan baru seiring perubahan teknologi, pasar digital, rantai nilai, hingga lingkungan bisnis yang semakin kompleks. Namun, menjadi modern tidak berarti harus meninggalkan prinsip dasar koperasi.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University Dr Suharno mengatakan, tantangan utama koperasi Indonesia bukan terletak pada prinsip koperasi yang sudah tidak relevan, melainkan kesenjangan antara prinsip tersebut dan kelembagaan yang menjalankannya.

Menurutnya, kepemilikan oleh anggota, pengendalian demokratis, manfaat bersama, dan pelayanan kepada anggota merupakan identitas koperasi yang perlu dipertahankan. 


Sementara itu, tata kelola, struktur modal, sistem audit, manajemen profesional, jaringan atau federasi, platform digital, hingga model bisnis merupakan perangkat kelembagaan yang dapat berkembang mengikuti perubahan lingkungan.

Ia juga membedah dinamika perjalanan koperasi domestik dibandingkan dengan keberhasilan koperasi global seperti Fonterra (Selandia Baru), Rabobank (Belanda), hingga Amul (India). 

“Keberhasilan tersebut menunjukkan koperasi dapat berkembang dalam skala besar melalui inovasi kelembagaan. Strateginya mencakup konsolidasi organisasi, profesionalisasi manajemen, pembentukan federasi, inovasi struktur modal, integrasi rantai nilai, diversifikasi bisnis, penguatan merek, digitalisasi, serta investasi dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan,” tegas Dr Suharno dalam Strategic Discussion Series 3 yang diselenggarakan Departemen Agribisnis IPB University, di Kampus Dramaga, beberapa waktu lalu, dikutip Sabtu malam, 12 September 2026.

“Pengalaman tersebut tidak untuk disalin secara langsung oleh Indonesia. Pembelajaran utamanya adalah bagaimana koperasi mempertahankan prinsip dasar sekaligus menyesuaikan mekanisme kelembagaannya,” tambahnya.

Untuk mencapai keberhasilan tersebut, Dr Suharno menyampaikan, partisipasi anggota perlu bergeser dari sekadar jumlah anggota menjadi partisipasi ekonomi yang nyata. Anggota perlu berperan sebagai pemilik sekaligus pengguna, menggunakan layanan koperasi, berinvestasi, melakukan pengawasan, menyampaikan aspirasi, dan memperoleh manfaat ekonomi.

Keberhasilan koperasi pun tidak cukup diukur dari aset, omzet, atau sisa hasil usaha (SHU), tetapi dari kemampuannya meningkatkan posisi ekonomi anggota, memperluas akses pasar, memperkuat posisi tawar, dan mempertahankan keberlanjutan usaha.

Evolusi Kelembagaan

Dalam konteks Indonesia, perubahan kelembagaan koperasi telah berlangsung panjang, mulai dari lembaga kredit pada akhir abad ke-19, pemikiran Mohammad Hatta, perkembangan Koperasi Unit Desa (KUD), berbagai perubahan regulasi, hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). 

Bagi Dr Suharno, setiap perubahan dapat menyelesaikan persoalan tertentu, tetapi juga menghadirkan tantangan baru. KUD, misalnya, mampu memperluas skala dan akses ekonomi, tetapi kemudian menghadapi persoalan ketergantungan terhadap program pemerintah.

“Sementara KDMP menjadi upaya mengatasi fragmentasi dan persoalan koordinasi ekonomi desa, sekaligus menghadirkan pertanyaan mengenai kepemilikan anggota, otonomi, keberlanjutan, dan ketergantungan terhadap negara,” bebernya.

Lanjut dia, pembaruan kelembagaan perlu berjalan bersama penguatan kapabilitas organisasi. Koperasi membutuhkan kepemimpinan dan talenta yang kuat, kemampuan belajar, keterlibatan anggota, tata kelola akuntabel, serta teknologi yang selaras dengan kebutuhan organisasi dan anggota.

“Koperasi yang sukses bukan koperasi yang sekali melakukan reformasi lalu selesai, melainkan mereka yang mempunyai kemampuan untuk terus beradaptasi menjawab tantangan yang datang,” ungkapnya.

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University menggelar Strategic Discussion Series 3 bertajuk "Evolusi Kelembagaan Koperasi: Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia dari Pengalaman Global?" secara hybrid di Ruang Equilibrium FEM. Diskusi ini menyoroti pentingnya modernisasi arsitektur kelembagaan agar koperasi nasional mampu beradaptasi dan berdaya saing global tanpa kehilangan identitas dasarnya.

Kajian ini juga mengupas pentingnya penguatan kelembagaan dalam mendorong peran strategis koperasi bagi perekonomian nasional. Kajian evolusi kelembagaan menjadi krusial untuk menjawab tantangan tata kelola dan efisiensi yang kerap dihadapi koperasi di tanah air.

“Kajian ini mudah-mudahan menjadi ikhtiar FEM untuk selalu mengadakan diskusi lintas disiplin dan tidak hanya akademisi IPB yang mendapat manfaatnya, namun khalayak umum,” ujar Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Prof Irfan Syauqi Beik, S. dalam sambutannya.

Diskusi ini menghadirkan jajaran pembahas akademisi IPB University dan diharapkan melahirkan rekomendasi kebijakan yang mendorong penguatan ekosistem koperasi berbasis profesionalisme dan partisipasi aktif anggota.


Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya