Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Opini Pakar

Kritik Terhadap Neoliberalisme

MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026 | 02:59 WIB

JIKA ekonom istana selama ini menjilati dan mengimani neoliberalisme, di negara lain justru tumbuh ekonom yang mengkritiknya dengan serius, fokus, fundamental, tematik, dan terstruktur (S2F2T). Padahal, neoliberalisme hanya cicit dari pikiran materialisme (kebendaan) dan anak haram globalisme (penjarahan). Tak lebih, tak kurang.

Dalam sejarahnya, induk materialisme sudah dihabisi oleh para pendiri republik karena menghasilkan tesa: "keuangan yang maha kuasa." Tesa yang memperanakkan sikap sekuler dan anti tuhan sehingga menyembah matre (duit) sebagai hulu dari kapitalisme yang melahirkan liberalisme, lalu mencipta kolonialisme, kemudian mentradisikan neoliberalisme yang berwajah goblokisme.

Begitu patuhnya ekonom kita pada ortodoksi, ortopraksi dan ortopati neoliberalisme, sehingga kemiskinan, kebodohan, keterbelahan, kehinaan, ketersesatan, ketimpangan, kepengangguran, kesakitan, keterjajahan, keterasingan, ketergantungan (11K) terus terjadi sampai kini.


Untuk mengakhiri penyakit 11K yang kita warisi, mari viralkan inti pemikiran lima ekonom terkemuka dunia yang telah menulis dan menyampaikannya di publik dan mempopulerkan buku-bukunya. Kelimanya adalah Stiglitz, Hertz, Hudson, Krugman, Minsky.

Inti dari pikiran kritis Joseph Eugene Stiglitz (9 Februari 1943) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: asimetrik dan fundamentalisme pasar. Sebagai peraih nobel bidang ekonomi (2001), pikiran dan bukunya berdiri sangat kritis dan argumentatif terhadap ortopraksi globalisasi dengan menyebut bahwa hal itu hanya bisnis tipu-menipu via asimetri informasi. Tak lebih, tak kurang.

Sedang praksis neolib hanya dianggap pembutaan negara berkembang pada pasar yang tak pernah sempurna, mandiri dan independen. Stiglitz menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bekerja seperti yang digambarkan dalam buku teks karena informasinya sering invalid, institusi tidak sempurna dan distribusi kekuasaan (modal, model, modul) tidak seimbang.

Bagaimana dengan inti pikiran Noreena Hertz (24 September 1967) terhadap globalisasi dan neoliberalisme? Ia bertesa bahwa itu hanya korporasi global dan swastanisasi demokrasi. Dengan tesis itu, Hertz memperingatkan bahwa pasar yang tidak diatur, keserakahan korporasi, dan lembaga keuangan yang terlalu berkuasa akan memiliki konsekuensi global yang serius dan berdampak buruk pada manusia dan negara miskin.

Sebagai "Nigella Lawson" di bidang ekonomi, ia menyebut bahwa neoliberalisme hanyalah terorisme ekonomi, penyakit valas yang berdampak pada kehancuran ekologis dunia. Demokrasi ekonomi jadi lahan kosong dan bahkan hutan rimba di mana yang kuat memangsa kaum dan negara lemah.

Lalu, pikiran kritis Michael Hudson (1939) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: imperialisme keuangan dan negara maju adalah kolektor utang. Baginya, globalisasi hanya perang keuangan: yaitu utang haram, bunga yang mencekik, rent extraction, asuransi, fiat dan kekuatan kreditur.

Dalam kerangka ini, surplus ekonomi dapat berpindah bukan hanya melalui proses produksi, tetapi melalui sistem keuangan. Rangkaian unsur debt (utang), interest (bunga), rent (rente), extraction (ekstraksi), inequality (kesenjangan), dan dependency (ketergantungan) menjadi penting untuk membaca struktur ekonomi.

Bagaimana dengan kritik inti pikiran Paul Robin Krugman (28 Februari 1953) terhadap globalisasi dan neoliberalisme? Menurutnya, dunia kini hanya diisi pemenang dan pecundang. Sedangkan neoliberalisme hanya berisi dunia kebablasan dan ketidakwajaran.

Sebagai peraih penghargaan nobel bidang ekonomi (2008), Krugman memperlihatkan bahwa perdagangan internasional tidak pernah berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya kompetitif dan fair. Ada economies of scale, persaingan tidak sempurna, geografi dan kondisi makroekonomi yang terus berlangsung. Semua hanya membentuk manusia rakus dan manusia yang dikorbankan.

Terakhir, inti kritik pikiran Hyman Philip Minsky (1919-1996) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: kasino global dan ordo para bankir. Dalam kasino global isinya hanya dua: speculative and ponzi finance. Keduanya hanya menghisap kaum miskin jadi objek dan korban.

Dengan tesis itu, ia setuju intervensi pemerintah di pasar keuangan, menentang beberapa deregulasi keuangan yang tidak adil, menentang akumulasi utang swasta yang berlebihan di pasar keuangan serta menyadarkan gelembung investasi spekulatif yang endogen dengan istilah "momen minsky."

Tentu kritik pada globalisme dan neoliberalisme juga dikerjakan oleh ekonom Indonesia. Misalnya ekonom di mazhab Tebet, mazhab Bulaksumur, strukturalis dll.

Yudhie Haryono
CEO Nusantara Centre



Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya