Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Opini Pakar

Membedah Sistem Pasar Tinjauan Ekonomi Konstitusi

Kritik terhadap Pemikiran Stiglitz, Krugman, dan Hudson
MINGGU, 13 SEPTEMBER 2026 | 01:19 WIB

SELAMA ini kita belajar ekonomi seolah-olah ekonomi adalah ilmu tentang pasar. Ada produksi, konsumsi, harga, permintaan, penawaran, uang, modal, tenaga kerja, lalu keseimbangan. Kita juga mengenal ekonomi melalui tokoh-tokoh pemikirnya seperti Adam Smith dengan invisible hand, Ricardo dengan perdagangan dan distribusi, Marx dengan kapital dan eksploitasi, Keynes dengan permintaan agregat dan negara, hingga Friedman dengan uang dan mekanisme pasar.

Namun, tidak banyak yang memahami bahwa sejarah pemikiran ekonomi berjalan layaknya estafet. Tongkat estafet itu bergerak secara bergiliran mulai dari Adam Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, John Stuart Mill, Karl Marx, Alfred Marshall, Thorstein Veblen dan kaum Institusionalis, John Maynard Keynes, Milton Friedman, Public Choice Theory (James Buchanan & Gordon Tullock), Rational Expectations Theory (John Muth & Robert Lucas), hingga ke Behavioral Economics (Daniel Kahneman & Amos Tversky). Masing-masing datang membawa gagasan, mengkritik gagasan sebelumnya, lalu melahirkan perdebatan dan teori baru.

Inilah yang dibahas pada kelas Sekolah Pemikiran Kejeniusan minggu lalu. Melalui Buku Todd G. Buchholz yang berjudul New Ideas from Dead Economists, Ichsanuddin Noorsy, sebagai pengampu kelas, memetakan perjalanan pemikiran ekonomi dunia itu secara komprehensif. Mempelajari perkembangan pemikiran ekonomi membantu peserta kelas memahami bagaimana gagasan ekonomi berkembang dan saling bereaksi. 


Uniknya, materi tidak hanya berhenti pada perkembangan pemikiran ekonomi. Noorsy membawa peserta kelas merambah wilayah yang lebih dalam melalui pertanyaan: apakah memahami sejarah pemikiran ekonomi otomatis membuat kita memahami bagaimana ekonomi bekerja dalam kehidupan nyata?

Jawabannya belum tentu, sebab ekonomi tidak pernah bekerja sendirian. Ekonomi selalu bertemu dengan politik, hukum, negara, korporasi, teknologi, masyarakat, budaya, militer, keuangan, bahkan nilai dan spiritualitas. Karena itu, memahami ekonomi tidak cukup dengan bertanya, “Apa yang dikatakan teori?”

Pertanyaannya harus didalami hingga kita bisa tahu siapa yang menjalankan teori itu, melalui institusi apa, dengan instrumen apa, untuk kepentingan siapa, terhadap siapa, dan dengan akibat apa? Di sinilah ekonomi berubah menjadi ekonomi-politik.

Kita ambil contoh paling sederhana, yaitu pasar. Dalam teori, pasar adalah mekanisme pertukaran. Tetapi dalam kenyataan, pasar tidak pernah berada di ruang hampa. Kita harus bertanya siapa pelaku pasarnya? Seberapa terkonsentrasi modal? Siapa menguasai informasi? Siapa menguasai teknologi? Siapa menentukan harga? Siapa menguasai mata uang? Siapa membuat aturan? Siapa mendapatkan manfaat dan siapa menanggung biayanya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat ekonomi. Pasar bukan lagi sekadar tempat bertemunya permintaan dan penawaran. Ia menjadi sebuah konfigurasi hubungan kekuasaan.

Karena itu menarik melihat perjalanan pemikiran ekonomi modern melalui beberapa tokoh. Smith membantu kita memahami pasar, pembagian kerja dan insentif. Marx membuka pintu yang lebih dalam soal modal, pemilik modal, tenaga kerja, hubungan produksi, surplus, akumulasi dan konsentrasi. Dari sana kita mulai melihat bahwa di balik transaksi ekonomi terdapat relasi sosial dan kekuasaan.

Untuk membawa pembahasan ekonomi pada konteks yang mutakhir, Noorsy kemudian membawa peserta untuk menyelami lebih dalam ekonomi-politik melalui tiga jalur kritik: Stiglitz, Krugman, dan Hudson. 

Stiglitz menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bekerja seperti yang digambarkan dalam buku teks karena informasi tidak simetris, institusi tidak sempurna dan distribusi kekuasaan tidak seimbang.

Krugman memperlihatkan bahwa perdagangan internasional juga tidak berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya kompetitif. Ada economies of scale, persaingan tidak sempurna, geografi dan kondisi makroekonomi. 

Hudson membawa persoalan lebih jauh ke wilayah keuangan, yaitu utang, bunga, rent extraction, dan kekuatan kreditur. Dalam kerangka ini, surplus ekonomi dapat berpindah bukan hanya melalui proses produksi, tetapi melalui sistem keuangan. Rangkaian unsur debt (utang), interest (bunga), rent (rente), extraction (ekstraksi), inequality (kesenjangan), dan dependency (ketergantungan) menjadi penting untuk membaca struktur ekonomi.

Dengan demikian, evolusi pemikiran tersebut sebenarnya tidak harus dibaca sebagai pergantian teori semata, tetapi juga bisa dibaca sebagai pendalaman terhadap objek ekonomi.

Kritik terhadap Stiglitz, Krugman, dan Hudson

Joseph Stiglitz, Paul Krugman, dan Michael Hudson adalah tiga ekonom kontemporer yang sama-sama melakukan kritik terhadap ortodoksi ekonomi arus utama, tetapi dari pintu masuk yang berbeda. Jika Buchholz bertanya tentang siapa berpikir apa? Lalu, Stiglitz bertanya tentang mengapa pasar tidak bekerja seperti teori? Krugman bertanya tentang mengapa perdagangan dan persaingan global tidak sesederhana teori? dan Hudson bertanya tentang siapa yang menangkap surplus ekonomi melalui utang dan keuangan? 

Tetapi Noorsy tidak berhenti sampai di situ. Noorsy mengajukan pertanyaan berikutnya yang jauh lebih besar, yaitu tentang siapa yang mengonfigurasi seluruh sistem ekonomi itu? Pertanyaan terakhir inilah yang membawa kita dari economic thought menuju political economy of power. 

Sebab ketika ekonomi sudah melibatkan bank, bank sentral, mata uang, pasar modal, utang negara, lembaga pemeringkat, IMF, Bank Dunia, dana investasi dan keuangan digital, maka pertanyaannya bukan lagi semata-mata bagaimana pasar bekerja. Kita harus bertanya siapa yang mempunyai kemampuan menentukan ruang kebijakan ekonomi sebuah negara.

Begitu pula dalam geopolitik. Dolar AS, perdagangan, energi, teknologi, militer, sanksi dan infrastruktur finansial saling berhubungan. Karena itu, ekonomi sebuah negara tidak bisa sepenuhnya dipahami hanya dari angka pertumbuhan, inflasi atau neraca perdagangan. Di balik angka tersebut terdapat struktur kekuasaan yang jauh lebih luas.

Noorsy mengajarkan kepada peserta kelas bahwa ekonomi harus dibaca melalui hubungan antara nilai, kebijakan, strategi, fungsi, instrumen, aplikasi, bukti empiris, dan konsistensi. Pada saat yang sama, seluruhnya berinteraksi dengan politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, spiritualitas dan teknologi; juga dengan negara, korporasi, pasar dan masyarakat. Pada tingkat global, semuanya bertemu dengan sistem finansial, digital, industri, militer dan geopolitik.

Maka ukuran keberhasilan ekonomi pun harus diperluas. Bukan hanya tentang berapa persen pertumbuhan ekonomi? Tetapi juga dinilai soal pertumbuhan itu menghasilkan apa? Siapa yang menikmati? Siapa yang membayar? Apakah produktivitas meningkat? Apakah rakyat memperoleh pekerjaan yang layak? Apakah teknologi memperkuat manusia atau menggantikannya tanpa perlindungan? Apakah surplus ekonomi kembali kepada masyarakat atau terkonsentrasi pada segelintir pemilik modal? Apakah negara semakin berdaulat atau justru semakin tergantung? 

Dan yang paling mendasar adalah pertanyaan tentang ekonomi itu dibangun untuk siapa? Pertanyaan ini membawa ekonomi kembali kepada nilai. Sebab ekonomi pada akhirnya bukan hanya persoalan scarcity, choice, utility, dan efficiency. Ekonomi juga menyangkut harkat manusia, keadilan, kemakmuran, kedaulatan dan tujuan hidup bersama.

Karena itu, membaca pemikiran ekonomi tidak cukup berhenti pada hafalan teori. Noorsy mengenalkan alat ujinya melalui 3K (Konsistensi, Koherensi dan Korespondensi). Kita perlu menguji Konsistensinya. Apakah nilai, teori dan kebijakannya saling sesuai? Kita perlu menguji Koherensinya. Apakah teori tersebut benar-benar menjelaskan sistem kehidupan yang kompleks? Dan yang paling penting, kita perlu menguji Korespondensinya. Apakah teori tersebut benar-benar cocok dengan kenyataan, termasuk struktur modal, teknologi, institusi, hukum dan kekuasaan yang bekerja di baliknya?

Dengan cara pandang itu, sejarah pemikiran ekonomi menjadi lebih dari sekadar sejarah para ekonom. Ia menjadi sejarah bagaimana manusia memahami produksi, distribusi, kekayaan, negara, kekuasaan dan masyarakat. Buchholz memberi kita peta perjalanan gagasan. Stiglitz, Krugman dan Hudson memperdalam sejumlah simpul penting dalam sistem. 

Lebih dalam, pendekatan Noorsy kemudian mengajak kita melihat hubungan antarsimpul tersebut sebagai sebuah konfigurasi utuh. Dari pasar menuju keuangan, dari keuangan menuju korporasi, dari korporasi menuju negara, dari negara menuju geopolitik, lalu kembali kepada pertanyaan tentang kedaulatan dan tujuan konstitusional.

Kesimpulannya: ekonomi bukan sekadar ilmu tentang pasar. Ekonomi adalah ilmu tentang bagaimana sebuah masyarakat mengorganisasikan kehidupan materialnya dan siapa yang mempunyai kekuasaan untuk menentukan arah kehidupan tersebut. Di sinilah pertanyaan ekonomi yang paling penting dimulai. Dan di Mazhab Tebet, di kelas Sekolah Pemikiran Kejeniusan, pertanyaan itu dibedah, disemai, dan ditumbuhkan, untuk kemudian ditemukan jawabannya.

Ryo Disastro 
Periset Utama di Nusantara Centre


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Deklarasi New Delhi, Terjemahkan Komitmen Jadi Hasil Nyata

Sabtu, 12 September 2026 | 21:55

Usulan Masa Jabatan Kades Tak Terbatas Harus Ditolak

Sabtu, 12 September 2026 | 21:10

Polisi Beberkan Peran Tiga Tersangka Pengeroyokan Maut Pejompongan

Sabtu, 12 September 2026 | 20:32

Prabowo Perkuat Peran Indonesia dalam Kerja Sama Multilateral di KTT BRICS 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 19:48

Morits L Tamaela Terpilih Sebagai Sekjen ADEKSI, Konsolidasi DPRD Kota Seluruh Indonesia Diperkuat

Sabtu, 12 September 2026 | 19:32

Menyusuri Perkebunan Sawit dan Karet, Mantri BRI Jaga Akses Keuangan Sumatera Selatan

Sabtu, 12 September 2026 | 19:27

Purbaya Tak Mau Ikuti Jepang Pangkas PPN, Ini Alasannya

Sabtu, 12 September 2026 | 18:18

Cek Bansos BPNT September 2026, Ada Pencairan hingga Rp600.000

Sabtu, 12 September 2026 | 18:11

Patahan Surabaya Jadi Sorotan di Medsos, Ini Penjelasan Pakar ITS

Sabtu, 12 September 2026 | 17:54

Cek Daftar HP yang Tak Bisa Lagi WhatsApp Mulai September 2026

Sabtu, 12 September 2026 | 17:40

Selengkapnya