Berita

Ilustrasi Sesar Baru di Surabaya Disebut Bisa Picu Gempa (Sumber: Gemini Generated Image)

Nusantara

Viral Sesar Baru di Surabaya Disebut Bisa Picu Gempa, Cek Faktanya

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 16:44 WIB | OLEH: TIFANI

Sebuah video yang menyebut adanya patahan aktif atau sesar baru di Surabaya viral di media sosial. Dalam video tersebut disebutkan Sesar Surabaya-Madura melintasi sejumlah wilayah, mulai dari Bangkalan, Surabaya hingga Sidoarjo.

"Sesar Surabaya dan Sesar Waru telah terpetakan resmi dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia (PuSGeN) sejak 2017," tulis akun @gempa_dan_cuaca dalam unggahannya.

Lantas, benarkah terdapat sesar aktif baru di Surabaya? Informasi mengenai keberadaan sesar di wilayah Surabaya dan Madura sebenarnya bukan merupakan temuan baru. 


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah menjelaskan bahwa kawasan tersebut memang berada pada jalur zona sesar aktif. Bahkan, Sesar Surabaya dan Sesar Waru telah terpetakan secara resmi dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia.

Mengutip laman resmi BMKG, wilayah Surabaya dan Madura memang memiliki zona sesar aktif yang telah diketahui berdasarkan kajian kegempaan dan pemetaan sumber gempa di Indonesia. Dalam penjelasan mengenai kondisi kegempaan Surabaya-Madura, BMKG menyebut wilayah Surabaya berada pada jalur zona Sesar Kendeng, sedangkan Madura berada pada jalur zona Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala (RMKS).

Sesar Kendeng Melintasi Jawa Tengah hingga Jawa Timur

Di wilayah Jawa Timur, Sesar Kendeng merupakan salah satu sistem sesar yang telah dipetakan. Sistem tersebut membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur dengan sejumlah segmen, termasuk Sesar Waru dan Sesar Surabaya.

Sementara itu, wilayah Madura berkaitan dengan sistem Sesar Rembang-Madura-Kangean-Sakala atau RMKS. BMKG menyatakan kawasan Surabaya dan Madura secara geologis dan tektonik memang berada pada jalur zona sesar aktif.

Catatan sejarah kegempaan juga menunjukkan sejumlah gempa merusak pernah terjadi di wilayah yang berkaitan dengan jalur sesar tersebut. Perlu diketahui, pemerintah telah melakukan pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia dari edisi 2017 ke edisi 2024.

Peta tersebut disusun oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) dan menjadi salah satu acuan dalam memahami sumber serta bahaya gempa di Indonesia. Pemutakhiran tersebut mencakup jalur dan geometri sesar, segmentasi sesar, penambahan sumber gempa aktif, skenario rupture, magnitudo maksimum, hingga laju pergerakan sesar.

Dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, tercatat sebanyak 402 sumber gempa beserta parameternya. Peta terbaru tersebut juga memuat penambahan sumber gempa dibandingkan dengan peta sebelumnya.

Kementerian Pekerjaan Umum menyebut Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 sebagai pembaruan dari peta 2017. Peta tersebut digunakan sebagai salah satu dasar dalam upaya mitigasi serta perencanaan pembangunan yang lebih aman terhadap ancaman gempa.

Dengan demikian, informasi mengenai keberadaan Sesar Surabaya dan Sesar Waru bukan berarti terdapat penemuan patahan aktif baru di Surabaya pada 2026. Keberadaan sesar tersebut telah masuk dalam pemetaan sumber dan bahaya gempa Indonesia dan terus menjadi bagian dari kajian serta pemutakhiran data kegempaan.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya