Berita

Kebersamaan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bersama Joko Widodo. (Foto: Istimewa)

Politik

AHY Bicara Kekuasaan Tak Selamanya, Publik Kaitkan dengan Jokowi

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 11:32 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang tidak dimiliki seseorang untuk selamanya memantik perbincangan politik.

Pernyataan itu disampaikan AHY dalam peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat. AHY mengajak kader Demokrat belajar dari pengalaman 10 tahun pemerintahan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terutama saat proses pergantian kekuasaan berlangsung secara damai dan demokratis setelah dua periode kepemimpinan.

AHY menegaskan kekuasaan merupakan amanah rakyat dan memiliki batas waktu. Jabatan serta pemilu, kata dia, memiliki siklus, sementara tanggung jawab kepada rakyat tidak pernah selesai.


Pengamat politik Adi Prayitno menilai pernyataan AHY tersebut pada dasarnya bersifat umum dan normatif. Menurutnya, tidak ada penyebutan secara spesifik mengenai pihak atau kelompok kepentingan politik tertentu.

"Pernyataan AHY itu satu hal tentu bersifat umum dan bersifat normatif. Tidak ada tendensi apa pun, tidak secara spesifik misalnya dialamatkan kepada pihak ataupun kelompok kepentingan politik tertentu," ujar Adi lewat kanal Youtube miliknya, Rabu, 9 September 2026.

Namun, Adi mengatakan pernyataan tersebut kemudian ditafsirkan publik sebagai pesan politik kepada salah satu kekuatan politik yang saat ini tengah berkembang, yakni kekuatan politik yang diasosiasikan dengan Solo atau Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Menurut Adi, tafsir tersebut tidak terlepas dari dinamika politik yang berkembang, terutama terkait konsolidasi dan aktivitas politik kelompok yang diasosiasikan dengan Solo.
Ia menilai, konsolidasi tersebut dibaca sebagian publik sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensi dan pengaruh politik dalam jangka panjang.

"Ini tentu tidak bisa dilepaskan dalam konteks soal bagaimana kekuatan politik Solo melakukan konsolidasi dan kerja-kerja politik yang dibaca seakan-akan bahwa geng Solo akan selalu menunjukkan eksistensi dan kekuatan politiknya, sustain dan berkelanjutan sampai kapan pun," ujar Adi.

Di sisi lain, Adi menilai posisi AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat sekaligus figur yang lekat dengan faksi Cikeas turut membuat pernyataannya mudah dikaitkan dengan rivalitas antarkekuatan politik.

"Namanya juga publik, media sosial, pasti ada hal-hal yang dianggap sifatnya rivalitas, dihadap-hadapkan satu dengan yang lain," jelasnya.

Lebih jauh, Adi melihat tafsir tersebut kemudian berkembang ke arah persaingan pengaruh menjelang kontestasi politik ke depan. Salah satunya terkait kemungkinan perebutan pengaruh untuk menjadi bagian dari kekuatan politik yang berporos pada Presiden Prabowo Subianto.

"Kemudian ini dikaitkan soal kemungkinan berebut pengaruh untuk bisa menjadi pendamping kekuatan politik Hambalang alias Prabowo," pungkas Adi.


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

2.241 ASN Resmi jadi Komcad Usai Latsarmil Gelombang Kedua Ditutup

Rabu, 30 September 2026 | 00:13

Sabar Tobing: AI Ubah Dunia Perpajakan, Talenta Digital Makin Dibutuhkan

Selasa, 29 September 2026 | 23:50

DPR Minta Pemerintah dan ASDP Tangani Kemacetan Horor Ketapang

Selasa, 29 September 2026 | 23:46

KPK Tegaskan Penyitaan Aset Silmy Karim Sah Usai Praperadilan Ditolak

Selasa, 29 September 2026 | 23:19

KPK Harus Transparan soal Kasus CSR BI-OJK yang Libatkan Dua Anggota DPR

Selasa, 29 September 2026 | 22:39

Kuasa Hukum Faizal Assegaf Apresiasi Polda Metro Periksa Jubir KPK

Selasa, 29 September 2026 | 22:32

Kantor PT Bela Parahiyangan Digeledah Buntut Dugaan Suap HGB ATR/BPN

Selasa, 29 September 2026 | 22:17

Apartemen Vinna Ledy yang Disita KPK Diduga Pemberian Pengusaha

Selasa, 29 September 2026 | 22:09

Membangun Ekosistem Keselamatan dan Perlindungan Korban

Selasa, 29 September 2026 | 22:08

Jokowi Masuk PSI Bisa Mengubah Konfigurasi Politik 2029

Selasa, 29 September 2026 | 22:04

Selengkapnya