Berita

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi pada Sabtu dini hari, 5 September 2026. (Dok. TikTok indomie gorengy)

Publika

Enam Gunung Bergejolak, Jangan Salahkan Buku

RABU, 09 SEPTEMBER 2026 | 06:40 WIB

INDONESIA sedang ramai. Enam gunung api menunjukkan aktivitas dalam waktu berdekatan. Anak Krakatau erupsi, Semeru erupsi, Lewotolok ikut batuk, sementara lima gunung berstatus Level III atau Siaga dan satu Level II atau Waspada.

Lalu seperti biasa, internet bekerja lebih cepat dari ilmu pengetahuan. Ada mengaitkan erupsi sejumlah gunung dengan terbitnya buku 'Islam ala Probowo'. Hussss, jangan merampot begitu, wak! Kata budak Pontianak.

Buku terbit, gunung meletus, lalu dibuat garis lurus. Besok kalau sandal putus setelah membaca buku, jangan-jangan penulisnya dituduh mengendalikan gravitasi. Ini bukan analisis. Ini cocokologi dengan bensin eceran.


Tidak ada dasar ilmiah, terbitnya 'Islam Ala Probowo' berkaitan dengan erupsi gunung-gunung tersebut. Faktanya, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memang sedang aktif. Erupsi menerus dimulai Jumat, 4 September 2026, berlangsung sekitar 25 jam hingga 6 September. 

Setelah itu aktivitas strombolian masih terjadi. Badan Geologi mencatat gempa erupsi, hembusan, low frequency, hybrid/fase banyak, tremor menerus, dan vulkanik dangkal. Lontaran batu pijar serta hujan abu lebat juga masih berpotensi terjadi. Abu vulkanik bahkan mengganggu penerbangan.

Gunung kedua, Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, berada pada Level III atau Siaga. Asap putih tipis masih terlihat sekitar 50-100 meter dari puncak. Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi resmi dan menjauhi zona rawan.

Merapi di perbatasan DIY dan Jawa Tengah juga Level III. Dalam laporan tercatat 13 kali gempa guguran, meski saat pengamatan tidak terlihat asap dari kawah.

Semeru di Jawa Timur tak kalah aktif. Dalam data video, gunung ini mengalami 30 kali erupsi hingga pagi hari. Cuaca mendung membuat asap kawah tidak teramati.

Sinabung di Sumatera Utara juga Level III. Asap kawah utama masih terlihat tebal. Statusnya dinaikkan dari Level II menjadi Level III pada 31 Agustus 2026 setelah aktivitas vulkanik meningkat. Badan Geologi menyebut erupsi awal masih berlangsung dan kemungkinan erupsi lebih besar tetap ada.

Sementara Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, berstatus Level II atau Waspada. Namun tetap erupsi. Kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak, berwarna kelabu, tebal, bergerak ke tenggara, dan disertai dentuman intensitas sedang.

Pertanyaannya, apakah semua gunung itu saling berhubungan?

Menurut ahli gempa Daryono, tidak. Erupsi satu gunung tidak memicu erupsi gunung lainnya. Aktivitas yang muncul berdekatan lebih berkaitan dengan dinamika tektonik global di kawasan Ring of Fire atau Cincin Api Pasifik.

Indonesia memang berada di zona pertemuan sejumlah lempeng besar, termasuk Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina di bawah Eurasia. Namun bukan berarti di bawah Indonesia ada satu pipa magma raksasa seperti jaringan PDAM.

Secara geologi, tidak ada jalur pipa magma tunggal yang menghubungkan dapur magma antargunung. Setiap gunung mempunyai sistem magmanya sendiri. Tekanan fluida dan magma di masing-masing gunung dapat mencapai kondisi kritis pada waktu berdekatan. Karakter letusan pun berbeda, dipengaruhi viskositas magma dan kandungan gas vulkanik.

Belum selesai. Muncul pula ramalan viral Frankie MacDonald, pengamat cuaca amatir asal Sydney, Nova Scotia, Kanada, yang menyebut Jakarta dan Jawa berpotensi diguncang gempa sebelum akhir 2026, bahkan menyebut kemungkinan magnitudo 7 hingga 9.

Waspada boleh. Panik jangan. Ramalan personal bukan prediksi ilmiah resmi. Ikuti informasi Badan Geologi dan BMKG, bukan algoritma yang setiap hari melahirkan kiamat versi baru.

So, kalau gunung meletus, gunakan ilmu. Kalau buku terbit, baca kritis. Jangan semua kejadian dijahit dengan cocokologi. Gunung punya dapur magma. Gempa punya mekanisme tektonik. Buku punya halaman.

Manusia punya akal. Pakai, wak. Sebelum nanti Merapi batuk sedikit, yang disalahkan malah daftar isi buku, penulisnya Partai Koptagul pula, ups.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya