Berita

Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka. (Foto: Istimewa)

Politik

Data Desil BPS Kacau, Legislator PDIP Menduga Ada Rekayasa Sistematis

RABU, 02 SEPTEMBER 2026 | 23:18 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

Persoalan data desil Badan Pusat Statistik (BPS) disorot Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka. 

Ia mempertanyakan berulangnya persoalan tersebut yang dinilai berdampak langsung terhadap masyarakat miskin.

Rieke pun meminta pimpinan BPS memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab kekacauan data desil. Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat terus dianggap sebagai kesalahan teknis atau administratif semata.


"Saya, Anggota Komisi XIII DPR RI yang membidangi Hukum dan HAM, mencermati dengan serius "compang-campingnya" data Desil BPS yang berulang kali terjadi,” tegas Rieke kepada wartawan di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.

Ia menilai buruknya kualitas data kemiskinan berpotensi menghambat negara dalam memenuhi hak warga yang seharusnya mendapatkan perlindungan dan bantuan.

“Ini adalah pengingkaran terhadap Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 yang mewajibkan negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Ketika data kemiskinan cacat, maka negara gagal menjemput mereka yang berhak,” tegas Legislator PDIP ini.

Menurut Rieke, persoalan tersebut bahkan dapat masuk dalam kategori pelanggaran HAM struktural. Sebab, data yang keliru berpotensi menyebabkan diskriminasi dalam memperoleh bantuan sosial, kerugian hak ekonomi, hingga hilangnya kepastian hukum bagi masyarakat miskin.

Ia pun meminta pimpinan BPS menjawab secara terang penyebab persoalan data yang terus berulang tersebut.

“Dua skenario wajib dijawab pimpinan BPS: apakah ini inkompetensi massif yang dibiarkan, atau rekayasa sistematis untuk membentuk narasi tertentu? Jika terbukti ada unsur kesengajaan, ini masuk ranah tindak pidana korupsi data,” ungkap Rieke.

Rieke juga mengingatkan pemerintah agar tidak mereduksi polemik data desil menjadi sekadar persoalan administrasi. Ia menduga terdapat pola tertentu karena persoalan serupa disebut muncul berulang pada momentum strategis kebijakan pemerintah.

"Yang perlu atensi serius Pemerintah: Polemik Desil ini tidak bisa dilihat sebagai persoalan teknis semata. Saya menduga kuat ada indikasi sistematis di balik kekacauan data yang berulang. Pola yang sama terus terjadi pada momen-momen krusial kebijakan strategis pemerintah,” sesalnya.

Menurut Rieke, kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya kepentingan tertentu di balik kekacauan data, termasuk potensi upaya menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sebab, kata Rieke, data yang tidak kredibel dapat berimbas langsung pada ketepatan sasaran kebijakan pemerintah sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap birokrasi.

"Data yang tidak kredibel secara berkelanjutan hanya akan melahirkan dua dampak: pertama, kebijakan pemerintah menjadi tidak tepat sasaran sehingga citra kepemimpinan tergerus; kedua, publik kehilangan kepercayaan pada seluruh ekosistem birokrasi,” jelasnya.

Rieke bahkan mengingatkan kemungkinan adanya pihak yang sengaja ingin membuat pemerintahan baru tidak stabil. Menurutnya, kekacauan data dapat menjadi instrumen yang sulit terlihat, tetapi berpotensi menggerus kepercayaan publik secara perlahan.

Atas persoalan tersebut, Rieke mendesak Presiden Prabowo Subianto membentuk tim independen untuk mengusut persoalan data desil BPS.

"Saya mendesak Presiden membentuk tim independen untuk mengusut tuntas: apakah ini kelalaian atau konspirasi birokrasi? Saya mendesak BPK audit investigatif BPS. Triliunan anggaran negara di APBN yang disalurkan ke BPS perlu akuntabilitas. Bongkar postur anggaran BPS. Bongkar indikasi penyimpangan anggaran negara di BPS termasuk untuk indikasi ‘meredam media dan media sosial’,” imbuhnya.

Rieke menegaskan dirinya akan menggunakan kewenangan sebagai anggota DPR untuk mengawal persoalan tersebut. Ia ingin memastikan masyarakat miskin yang terdampak persoalan data tetap memperoleh haknya.

"Saya tidak akan tinggal diam. Saya akan gunakan seluruh kewenangan DPR untuk memastikan keadilan bagi rakyat miskin yang tak pernah tercatat dengan benar. Harga mati: Data akurat untuk martabat rakyat!" pungkasnya.


Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya