Berita

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy menjadi saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Selasa malam, 1 September 2026. (Foto: RMOL)

Hukum

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

RABU, 02 SEPTEMBER 2026 | 19:17 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy menegaskan pemerintah Indonesia tidak bisa mengubah alokasi jemaah haji yang telah disepakati bersama Pemerintah Arab Saudi dalam nota kesepahaman (MoU) penyelenggaraan ibadah haji.

Hal itu disampaikan Muhadjir saat menjadi saksi dalam sidang perkara dugaan korupsi kuota haji tambahan 2024 dengan terdakwa mantan Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas alias Gus Yaqut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa malam, 1 September 2026.

"Regulasi kita harus menyesuaikan dengan regulasi yang ada di Saudi," kata Muhadjir.


Menurut Muhadjir, Indonesia merupakan negara yang berkepentingan untuk mengirimkan jemaah haji sehingga harus menaati ketentuan yang berlaku di Arab Saudi.

"Tentu saja harus menaati apa yang ditetapkan oleh pemerintah Saudi," kata Muhadjir.

Dalam persidangan, Muhadjir juga membenarkan bahwa penyelenggaraan haji 2024 berbasis pada MoU antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Ketika ditanya apakah pemerintah Indonesia dapat mengambil tindakan berbeda dari kesepakatan yang telah dituangkan dalam MoU, Muhadjir menjawab tegas.

"Tidak bisa," jawabnya.

Terdakwa Gus Yaqut kemudian memberikan ilustrasi apabila dalam MoU telah ditetapkan 10.000 jemaah haji reguler dan 10.000 jemaah haji khusus. Ia menanyakan apakah pemerintah dapat mengubah komposisinya menjadi 15.000 jemaah reguler dan 5.000 jemaah haji khusus.

Muhadjir kembali menegaskan hal tersebut tidak dapat dilakukan.

"Tidak bisa," kata Muhadjir.

Muhadjir juga menjelaskan pengalamannya ketika menjabat Menteri Agama ad interim pada 2022. Saat itu, Indonesia memperoleh tambahan kuota 10.000 jemaah dari pemerintah Arab Saudi.

Namun, tambahan kuota tersebut tidak dapat dieksekusi oleh Kementerian Agama (Kemenag) karena waktu yang sangat mepet, persoalan pembiayaan, serta kesiapan tata kelola jemaah di Arab Saudi.

"Pertama masalah pembiayaan, karena itu kalau untuk menambah itu harus ada dana tambahan dan itu untuk prosesnya harus melalui rapat DPR, dan itu tidak mungkin," kata Muhadjir.

Selain persoalan pembiayaan, kesiapan akomodasi dan tata kelola jemaah juga menjadi pertimbangan.

"Kemudian tata kelola ketika nanti sudah berada di Mekah dan Madinah, terutama tentang masalah tempat, hotel, termasuk konsumsi dan terutama di Arafah Muzdalifah dan Mina (Armuzna), dan artinya itu yang paling krusial di Mina," kata Muhadjir.

Muhadjir memastikan tidak ada kerugian negara secara finansial akibat tidak digunakannya tambahan kuota tersebut.

"Kalau dilihat dari sisi prosedur yang sudah ada, dengan asumsi tidak ada lagi penambahan kuota itu, ya tidak ada yang dirugikan," kata Muhadjir.

Meski demikian, Indonesia disebut kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan tambahan 10.000 kuota tersebut.

"Ruginya kalau dalam arti finansial tidak, tetapi telah kehilangan peluang untuk bisa memanfaatkan 10.000 tambahan itu," terang Muhadjir.

Dalam kesaksiannya, Muhadjir juga mengungkap adanya permintaan dari asosiasi Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) yang diketuai Fuad Hasan Masyhur agar tambahan kuota tersebut dialihkan menjadi jemaah mujamalah atau haji undangan.

Permintaan tersebut tidak langsung disetujui Muhadjir. Ia mengaku terlebih dahulu berkoordinasi dengan staf Kemenag, dan berkonsultasi kepada Presiden Joko Widodo alias Jokowi melalui Sekretaris Kabinet.

Menurut Muhadjir, Presiden melalui Sekretaris Kabinet tidak berkeberatan apabila permintaan tersebut dapat ditindaklanjuti.

Namun, pengajuan pengalihan kuota tersebut pada akhirnya merupakan permohonan kepada Pemerintah Arab Saudi dan tetap bergantung pada persetujuan pemerintah setempat.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya