Pemerintah Spanyol membantah laporan yang menyebut negaranya tengah menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi Maroko, menyusul eksodus migran secara massal menuju Ceuta.
Sebelumnya Media Spanyol Electomania mengutip laporan RTVE menyebut Spanyol sedang menyiapkan rencana darurat terhadap Maroko.
Namun, pemerintah kemudian membantah laporan tersebut dan menegaskan tidak sedang mengembangkan rencana semacam itu.
Spanyol juga menegaskan hubungan bilateral yang kuat di berbagai sektor dengan Maroko.
"Spanyol dan Maroko memiliki kerja sama yang kuat di berbagai sektor, termasuk perdagangan," tegas laporan tersebut.
Maroko merupakan mitra dagang utama Spanyol di Afrika. Sejumlah komoditas dikirim Spanyol ke Maroko, termasuk produk minyak bumi olahan.
Hubungan perdagangan kedua negara terus menunjukkan tren peningkatan dan pada 2024 untuk pertama kalinya melampaui 22 miliar dolar AS, sekaligus mencatat rekor tertinggi.
Pada Maret, media Spanyol La Razon melaporkan Maroko termasuk salah satu tujuan utama ekspor gas alam Spanyol pada awal tahun.
Pada Januari, Maroko menempati posisi ketiga dengan impor lebih dari 822 gigawatt-jam gas dari Spanyol.
Peningkatan hubungan ekonomi tersebut berlangsung setelah Madrid menyatakan tekad memperkuat kerja sama dengan Rabat menyusul salah satu krisis diplomatik terburuk yang dialami kedua negara pada 2021.
Di tengah hubungan yang semakin erat itu, isu migrasi kembali memicu sorotan terhadap hubungan Spanyol-Maroko.
Sejumlah partai Spanyol, termasuk PP dan kelompok sayap kanan Vox, melancarkan kampanye keras terhadap Maroko dan mendesak pemerintah mengambil sikap tegas atas apa yang mereka tuduhkan sebagai langkah yang disengaja terhadap pemerintah Spanyol.
Namun, sumber pemerintah dan para menteri membantah tudingan tersebut serta tetap mendukung kerja sama dengan Rabat, seraya menegaskan bahwa peran Maroko membantu Madrid meredam krisis migrasi.