PM Spanyol Pedro Sanchez (Foto: X)
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyebut terdapat indikasi Israel dan Rusia menyebarkan disinformasi terkait kebijakan migrasi Spanyol yang memicu gelombang migran ke Ceuta pada akhir Juli lalu.
Lebih dari 72.000 migran menyeberang secara ilegal ke wilayah Spanyol tersebut pada 30-31 Juli 2026. Gelombang migrasi itu menjadi yang terbesar yang pernah terjadi di salah satu dari dua perbatasan darat Uni Eropa dengan Afrika.
Menurut otoritas setempat, sedikitnya 100 orang tewas dalam upaya menembus perbatasan tersebut.
Dalam sebuah pernyataan di stasiun radio SER, Sanchez menegaskan tidak ada bukti keterlibatan Maroko dalam eksodus tersebut.
“Ketika orang-orang berbicara dan berspekulasi tentang keterlibatan otoritas Maroko, saya membantah hal itu secara tegas,” kata Sanchez, dikutip Rabu, 2 September 2026.
Otoritas Spanyol sebelumnya menyebut video yang beredar di Instagram, TikTok, dan media sosial lainnya menyebarkan klaim menyesatkan bahwa migran yang mencapai Ceuta melalui laut dapat tetap tinggal di Spanyol.
Informasi tersebut kemudian mendorong ribuan orang mencoba menyeberang.
Sanchez mengatakan penelitian yang dilakukan European External Action Service (EEAS) menunjukkan jaringan Rusia dan Israel berada di balik penyebaran disinformasi tersebut, bersama dengan jaringan sayap kanan.
Dia menyebut kedua negara memanfaatkan krisis itu untuk mengkritik Madrid karena ketidakpuasan terhadap sikap Spanyol terkait perang di Ukraina dan Gaza.
Sekitar 5.000 migran, sebagian di antaranya pencari suaka, masih berada di Ceuta sejak gelombang migrasi tersebut.
Kondisi itu memicu demonstrasi hampir setiap hari dari warga setempat terhadap penanganan pemerintah Spanyol, serta sejumlah serangan terhadap kamp migran sementara di Pantai El Trampolin.
Di tengah krisis tersebut, Sanchez mengumumkan kabinet akan menggelontorkan tambahan dana darurat sebesar 168 juta euro atau sekitar 195 juta dolar AS untuk mengaktifkan kembali perekonomian Ceuta.
Dana tersebut setara 8 persen dari PDB wilayah itu, di luar 180 juta euro yang telah dijanjikan untuk pemulihan jangka menengah.
Sementara itu, Italia memperpanjang pemeriksaan perbatasan terhadap penumpang dari Spanyol selama 15 hari karena situasi di Ceuta dinilai masih relevan dengan alasan penerapan pemeriksaan sejak 1 Agustus.