Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan kader Demokrat, juga para tokoh dan tamu undangan Sarasehan 26 Tahun Partai Demokrat (Foto: Dokumen Istimewa)
Posisi Partai Demokrat dalam pemerintahan dapat berubah mengikuti dinamika politik, tetapi komitmen terhadap demokrasi harus tetap terjaga.
Memasuki usia ke-25 tahun, Demokrat ingin terus berperan dalam memajukan ekonomi, menegakkan keadilan, dan menjaga demokrasi.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat membuka Sarasehan HUT ke-25 Partai Demokrat yang digelar Badan Riset dan Inovasi Strategis (BRAINS) Partai Demokrat di Auditorium Yudhoyono, Jakarta.
AHY mengatakan Demokrat telah melalui berbagai fase politik nasional, mulai dari menjadi bagian pemerintahan selama 10 tahun, berada di luar pemerintahan, hingga kembali menjadi bagian dari pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pendewasaan partai.
Perjalanan itu, lanjut AHY, tidak mengubah komitmen Demokrat terhadap demokrasi. Ia menempatkan demokrasi sebagai salah satu dari tiga agenda utama perjuangan partai, bersama dengan memajukan ekonomi dan menegakkan keadilan.
“Yang jelas, di tengah-tengah perubahan dunia, perubahan politik Indonesia, ada satu hal yang tidak usaha, yaitu demokrat harus selalu dekat dan bersama dengan rakyat. Ini yang menjadi kekuatan perjuangan kita. Ketika kita meninggalkan rakyat, saat itu pula, kita tidak lagi punya relevansi, kita tidak lagi punya kekuatan secara moral untuk bisa berbicara dan memperjuangkan isu apapun,” ujarnya, dikutip Rabu 2 September 2026.
AHY menegaskan Demokrat harus terus menjaga relevansi dengan mendengarkan aspirasi masyarakat. Karena itu, sarasehan menjadi ruang untuk memperoleh pandangan dan masukan konstruktif dari para tokoh serta akademisi.
Ia mengatakan Demokrat tidak ingin sekadar mendapatkan pujian atau validasi. Kritik dan masukan diperlukan sebagai bahan evaluasi agar partai tetap memahami kebutuhan masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, AHY menekankan pentingnya pertumbuhan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kemajuan ekonomi, menurutnya, tidak cukup diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari terbukanya lapangan kerja, menguatnya daya beli, berkembangnya UMKM, dan meningkatnya taraf hidup masyarakat.
Sementara dalam penegakan keadilan, pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus berjalan bersama kepastian hukum serta kesempatan yang setara bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Dalam agenda demokrasi, AHY menilai demokrasi bukan sekadar tujuan akhir, melainkan jalan menuju kemajuan dan kesejahteraan bersama. Karena itu, kebebasan yang bertanggung jawab dan sesuai konstitusi perlu dijaga, termasuk dengan memberi ruang bagi generasi muda untuk berpartisipasi.
Memasuki 25 tahun berikutnya, AHY mengajak kader Demokrat tidak hanya menjadi pewaris sejarah, tetapi turut menulis sejarah baru. Demokrat diharapkan semakin dekat dengan rakyat, relevan dengan perkembangan zaman, dan semakin nyata berkontribusi bagi Indonesia.
“Jadi, posisi boleh berubah. Tetapi komitmen terhadap demokrasi tidak boleh berubah,” tegas Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan ini.
AHY menilai perubahan zaman menuntut Demokrat terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Perubahan generasi dan posisi politik juga tidak boleh mengubah orientasi partai untuk selalu bersama rakyat.
“Gedung boleh berganti, generasi boleh berganti, zaman pasti berubah. Tetapi satu hal tidak boleh berubah, Demokrat harus selalu bersama rakyat,” pungkas AHY.