Berita

Maulid Nabi Muhammad saw. (Foto: Istimewa)

Publika

Maulid Nabi Tiba, Cerita Bidah Biasanya Menggema

RABU, 26 AGUSTUS 2026 | 03:07 WIB

RUPANYA hari ini Maulid Nabi Muhammad saw, libur. Ramai memposting flyer peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw (versi KBBI yang benar saw., bukan SAW).

Kalau bicara Maulid, siap-siap dicap bidah. Begitu label meluncur, suasananya seperti sidang akhirat sudah dibuka di teras masjid. 

Bidah berarti masuk neraka. Ancaman itu membayangi siapa saja yang bersemangat membicarakan kelahiran junjungan umat Islam. Debatnya dari dulu tidak habis-habis. Mungkin baru selesai saat kiamat, itu pun kalau panitianya sepakat.


Tapi saya mau bertanya, lu mau setiap Maulid lewat begitu saja? Sepi. Hening. Masjid diam. Mimbar dingin. Tidak ada selawat, tidak ada kisah perjuangan Rasul, tidak ada anak-anak yang belajar siapa Muhammad?

Kalau begitu, jangan-jangan kita terlalu sibuk menghitung apakah perayaannya bidah, sampai lupa menghitung berapa banyak akhlak Nabi yang sudah kita tinggalkan. 

Lalu muncul sindiran klasik, “Ente kalau anak ulang tahun dirayakan meriah, kenapa junjungan sendiri tidak boleh dirayakan?”

Tahun 2026, umat Muslim di berbagai belahan dunia memperingati Maulid pada 12 Rabiul Awal, bertepatan dengan 25 Agustus. 

Mayoritas Sunni memperingatinya pada 12 Rabiul Awal. Sementara banyak komunitas Syiah pada 17 Rabiul Awal. Bentuknya berbeda, tetapi intinya sama. Cinta, syukur, serta kesempatan mempelajari akhlak dan perjuangan Rasulullah.

Di Mesir, Maulid sangat meriah. Ada Halawet al-Mawlid, manisan dari gula, wijen, dan kacang-kacangan, serta arouset al-mawlid, boneka pengantin dari gula. Di Lapangan Azhar, Kairo, perayaan dapat dihadiri lebih dari dua juta umat Muslim.

Turki punya Mevlid Kandili, dengan pembacaan syair Vesîletü'n-Necât karya Süleyman Çelebi dari abad ke-15. 

Tanzania merayakannya dengan pawai, pembacaan Al-Qur'an, dan pujian berirama. Pakistan dan sebagian Asia Selatan bahkan menghidupkan seluruh bulan Rabiul Awwal dengan pengajian, puisi pujian, pembacaan Al-Qur'an, pembagian makanan, dan bantuan kepada yang membutuhkan. Di Singapura, Maulid juga diisi kegiatan sosial untuk anak miskin dan yatim.

Ada pula Muslim yang tidak merayakannya karena menganggap Maulid tidak dilakukan Nabi dan sahabat sehingga termasuk bidah. Arab Saudi dan Qatar tidak menetapkannya sebagai hari libur nasional maupun menyelenggarakan perayaan resmi. Namun di sebagian wilayah Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah, ada masyarakat memperingatinya sederhana di rumah.

Indonesia justru punya kekayaan luar biasa. Ada Sekaten di Jawa, Weh-wehan di Kaliwungu yang mengajarkan berbagi makanan, Malam Cocogen di Bangkalan dengan doa, selawat, rebana, dan gunungan buah. Halmahera Tengah punya Coka Iba dan Fanten. 

Masyarakat Banjar memiliki Baayun Maulid, mengayun anak sambil bersalawat. Gorontalo punya Walima dengan Toyopo dan Tolangga. Banyuwangi punya Endog-Endogan

Kediri punya tradisi melempar uang sambil bersalawat. Ada pula Panjang Jimat di Cirebon, Bunga Lado di Padang, dan Arakan Perahu di Tangerang.

Malaysia, Brunei, bahkan komunitas Muslim di Amerika Serikat turut mengembangkan Maulid dengan sentuhan budaya lokal.

Inilah menariknya Islam. Ia bisa berinteraksi dengan budaya tanpa kehilangan ruhnya. Maulid bukan sekadar acara makan-makan, rebana, atau pengeras suara yang membuat ayam tetangga ikut selawat. Ia bisa menjadi ruang pendidikan, sedekah, silaturahmi, dan pengingat akhlak Rasul.

Maka yang Maulid, jangan merasa sudah memegang tiket surga. Yang tidak Maulid, jangan pula merasa berhak mengirim tetangga ke neraka. Perbedaan pendapat mestinya membuat kita dewasa, bukan membuat kita berubah menjadi satpam pintu surga.

Sebab cinta kepada Nabi bukan diukur dari seberapa panjang kita berdebat tentang Maulid, tetapi dari seberapa jauh akhlak Muhammad saw hidup dalam diri kita. 

Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kelahiran manusia paling mulia, tetapi akhlaknya malah kita titipkan di gudang, lalu lupa mengambilnya. Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad saw semua.

Rosadi Jamani
Mantan wartawan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Selain Anak Buah Nusron, KPK Benarkan Tangkap Fahd A Rafiq

Selasa, 15 September 2026 | 00:25

Laut Bukan Tempat untuk Mati

Selasa, 15 September 2026 | 00:01

APKARINDO Perjuangkan Ksejahteraan Petani hingga Kejayaan Karet Rakyat

Senin, 14 September 2026 | 23:42

Anak Buah Nusron Kena OTT KPK Terkait Pengurusan HGB Summarecon

Senin, 14 September 2026 | 23:22

DPR Soroti Usia Kapal dan Kepatuhan Aturan Impor dalam Tragedi Virgo Transport 8

Senin, 14 September 2026 | 23:02

Pemerintah Bahu Membahu Cegah Karhutla Masuk Zona Inti IKN

Senin, 14 September 2026 | 23:01

Pemilik Laundry Sukses Kembangkan Usaha dari Mekaar jadi BRILink Agen

Senin, 14 September 2026 | 22:38

OTT KPK Makin Mengerucut, Fahd A Rafiq hingga Bos Summarecon Dikabarkan Terjaring

Senin, 14 September 2026 | 22:37

Ketua KPK Benarkan OTT Pejabat ATR/BPN, Daftar Nama Belum Diungkap

Senin, 14 September 2026 | 21:59

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Selengkapnya