Berita

Logo PBNU. (Foto: RMOL)

Politik

FUN Minta AHWA Jadi Penentu Kepemimpinan PBNU

MINGGU, 23 AGUSTUS 2026 | 17:16 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Forum Ulama Nahdliyyin (FUN) menyoroti pentingnya mengembalikan marwah Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) sebagai mekanisme penentuan kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur.

Sorotan tersebut mengemuka dalam Halaqah Jam'iyyah Nahdlatul Ulama bertajuk “Menyelamatkan Marwah Syuriyah dan Kemuliaan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)” di Jakarta. Ketua FUN, KH Mujib Qulyubi, menilai AHWA dibentuk untuk memastikan NU mendapatkan figur kepemimpinan ulama yang ideal.

“Agar NU dipimpin oleh pasangan Rais Aam dan Ketua Umum yang mampu memimpin para kiai, aktivis, akademisi dan kelompok profesional yang saat ini memenuhi struktur NU di semua tingkatan,” ujar KH Mujib dalam keterangan tertulis pada Minggu, 23 Agustus 2026.


Menurutnya, pemimpin NU ke depan harus memiliki kemampuan berinteraksi secara luwes dengan umat sekaligus mampu mengonsolidasikan berbagai sumber daya organisasi. 
“Mudah-mudahan akan terpilih pemimpin yang luwes dalam berinteraksi dengan umat dan memiliki skill dalam mengkonsolidasikan sumber daya di NU,” katanya.

Karena itu, ia menilai proses pemilihan melalui AHWA perlu dijaga agar berjalan secara bermartabat dan menghasilkan kepemimpinan yang sesuai dengan cita-cita para pendiri NU.

Pandangan serupa disampaikan KH Mukti Ali Qusyairi. Menurut dia, anggota AHWA harus diisi figur-figur ulama yang memiliki kapasitas keilmuan sekaligus rekam jejak kepemimpinan yang kuat. 

“AHWA terdiri dari para ulama sepuh yang akan menentukan pemimpin yang sesuai dengan cita-cita para pendiri NU,” ujarnya.

Halaqah juga menjadi ruang evaluasi terhadap kondisi internal PBNU. Para narasumber menilai Muktamar ke-35 perlu menjadi momentum perubahan setelah dinamika internal yang dinilai mengganggu soliditas organisasi.

KH Adnan Anwar menilai kepengurusan PBNU saat ini gagal membangun konsolidasi internal. Menurutnya, konflik yang terjadi sepanjang periode kepengurusan telah memengaruhi kohesivitas antar-pengurus dan aktivis NU.

“PBNU periode ini telah gagal menciptakan kohesivitas antar-pengurus dan juga antar-aktivis sebagai modal bergerak mengawali abad ke-2 NU,” kata KH Adnan.

Ia mempertanyakan kemampuan PBNU melakukan konsolidasi dalam berbagai bidang, termasuk konsolidasi keumatan, gerakan, dan ideologi, ketika persoalan internal organisasi sendiri belum terselesaikan. “Jangankan konsolidasi keumatan, konsolidasi gerakan, konsolidasi ideologi dan sebagainya. Wong di tubuh PBNU saja saling sikut, tidak kompak,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU DKI Jakarta, KH Samsul Ma'arif, menyoroti belum tuntasnya persoalan hubungan antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Menurutnya, proses penyelesaian konflik antara KH Miftahul Ahyar dan Gus Yahya belum menghasilkan islah yang benar-benar tuntas meskipun telah melibatkan sejumlah ulama sepuh.

“Sampai hari ini belum terjadi islah yang sebenarnya antara KH Miftahul Ahyar dan Gus Yahya. Padahal sudah melibatkan para ulama sepuh. Sungguh memprihatinkan,” kata KH Samsul.

Selain persoalan kepemimpinan, peserta halaqah mengkritisi sejumlah perilaku pengurus PBNU yang dinilai belum mencerminkan keteladanan moral yang seharusnya ditunjukkan organisasi keagamaan kepada umat.

Para peserta mendorong agar Muktamar ke-35 NU di Tambakberas tidak sekadar menjadi forum pergantian kepengurusan, tetapi menjadi momentum pembenahan mendasar terhadap tata kelola dan arah organisasi. Mereka menekankan pentingnya keteladanan moral, independensi organisasi, serta proses pemilihan kepemimpinan yang bersih dan bermartabat.

Forum tersebut juga menegaskan penolakan terhadap segala bentuk risywah atau suap dalam proses Muktamar karena dinilai dapat mencederai marwah Nahdlatul Ulama. Dengan demikian, Muktamar ke-35 diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan NU yang memiliki kapasitas keilmuan, integritas moral, kemampuan konsolidasi, serta kemandirian dalam menjalankan amanah organisasi dan menghadapi tantangan NU memasuki abad kedua.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Giliran ASN dan Pejabat Bea Cukai Diperiksa KPK

Rabu, 19 Agustus 2026 | 12:56

Usulan ATM MBG Bakal Dibahas di Komisi IX DPR

Rabu, 19 Agustus 2026 | 10:40

UPDATE

Penanganan Kabupaten Terdampak Gempa NTT Terus Difokuskan Kemensos

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:21

KPK Ungkap Pengondisian Pembagian Kuota Haji 50:50 Sebelum MoU RI-Arab Saudi

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:16

BNPB Perkuat OMC Tangani Karhutla di Kalimantan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:02

Iran Pamerkan Pabrik Rudal Balistik Bawah Tanah

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:26

Pasukan Darat dan Water Bombing Dikerahkan Padamkan Karhutla Kalsel

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:21

KPK Usut Dugaan Korupsi PBJ Era Bupati Bogor Rudy Susmanto

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:13

Prabowo dan Jokowi Hadiri Pernikahan Kasespri Rizky Irmansyah di JCC

Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:07

Desa Sade Terbakar, Ini Sejarah dan Asal-usul Masyarakat Suku Sasak

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:52

Ada Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026, Catat Jadwalnya

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:43

Karhutla Kalsel, Api Tak Terlihat tapi Gambut Masih Berasap

Minggu, 23 Agustus 2026 | 10:13

Selengkapnya