Berita

Ilustrasi 2.403 Gempa Susulan Guncang NTT (Sumber: Instagram/infobmkg)

Politik

Waspada!

BMKG Prediksi Ribuan Gempa Susulan Potensi Terjadi di NTT

MINGGU, 23 AGUSTUS 2026 | 14:34 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Gempabumi susulan di Nusa Tenggara Timur (NTT), diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan terjadi hingga ribuan kali, dan dalam kurun waktu hingga 4 pekan ke depan.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto mengatakan, rangkaian gempa susulan (aftershock) akan terus berlangsung selama 3 hingga 4 minggu ke depan, karena fase awal rangkaian gempa susulan masih memperlihatkan pola temporal yang kompleks dan belum sederhana.

"Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan. Jumlah gempa per 24 jam tercatat 704 kejadian pada hari pertama, meningkat menjadi 746 pada hari kedua," kata Wijayanto dalam keterangan tertulis BMKG, dikutip redaksi pada Minggu, 23 Agustus 2026.


Selain itu, dia juga memperkirakan sekira 668, 649, dan 627 kejadian pada hari ketiga hingga kelima terjadi gempa susulan, dan naik lagi menjadi 802 kejadian pada hari keenam. Fenomena ini, menurutnya adalah suatu gejala yang patut diperhatikan.

Adapun berdasarkan hasil monitoring BMKG, rangkaian gempa susulan ini menyebabkan beberapa guncangan signifikan berintensitas IV-VI MMI yang dirasakan kuat oleh warga setempat. BMKG mencatat peristiwa guncangan kuat terjadi pada 19 Agustus 2026 pukul 23.17 WIB, berkekuatan Magnitudo 5,6 dan disusul apda 20 Agustus 2026 pukul 05.45 WIB berkekuatan Magnitudo 5,8. 

"Selanjutnya, gempa signifikan kembali mengguncang pada 20 Agustus 2026 pukul 09.47 WIB dengan kekuatan M5,8, yang memicu kerusakan susulan pada struktur bangunan dan jembatan terdampak serta menimbulkan bencana tanah longsor di sejumlah titik," urainya.

Dijelaskan Wijayanto, hasil relokasi menunjukkan bahwa gempa susulan tidak menyebar secara homogen, melainkan membentuk beberapa klaster tersendiri. Klaster utama berada di sekitar zona sumber gempa M7,7 di utara Nagekeo dan membentang mengikuti arah Flores Back-arc Thrust. 

"Sementara itu, klaster susulan lainnya muncul di bagian barat zona sumber utama, tepatnya di sebelah utara Kabupaten Manggarai," sambungnya memaparkan.

Sementara itu, dari data seismisitas harian memperlihatkan pergerakan fokus aktivitas yang terus dinamis dari waktu ke waktu. Pada hari pertama hingga keempat pasca-gempa utama, gempa bumi menyebar merata di seluruh klaster dari timur ke barat.

"Namun, pada hari kelima dan keenam, aktivitas seismik bergeser dan memusatkan kekuatannya di klaster bagian barat, sementara klaster bagian timur mulai menurunkan intensitas aktivitasnya secara bertahap," jelasnya.

Guna memantau perkembangan terkini, BMKG terus mengoperasikan sistem pemantauan real-time 24 jam sehari selama 7 hari seminggu. Petugas BMKG secara berkelanjutan menganalisis kuantitas kejadian, magnitudo, distribusi sumber gempa, arah pergerakan aktivitas, hingga karakteristik sumber gempa guna memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat serta instansi terkait.

"Merespons dinamika seismik tersebut, BMKG mengimbau masyarakat terdampak untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Masyarakat juga diimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa dan selalu mewaspadai potensi gempa susulan," ungkapnya.

“Untuk memastikan keterbukaan informasi, BMKG mempublikasikan pembaruan data aktivitas gempa bumi susulan secara rutin dua kali sehari, yaitu setiap pukul 05.00 WIB dan 17.00 WIB. Informasi resmi ini dapat diakses publik secara luas melalui kanal media sosial resmi BMKG seperti di Instagram, Facebook, dan WhatsApp Channel," demikian Wijayanto menambahkan.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya