Berita

Ilustrasi Desa Sade (Sumber: Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah)

Nusantara

Desa Sade Terbakar, Ini Sejarah dan Asal-usul Masyarakat Suku Sasak

MINGGU, 23 AGUSTUS 2026 | 10:52 WIB | OLEH: TIFANI

Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), dilanda kebakaran pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kebakaran yang terjadi sekitar pukul 20.00 Wita tersebut menghanguskan sejumlah bangunan di kawasan desa adat yang selama ini menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di Lombok.

Desa Sade dikenal sebagai salah satu permukiman masyarakat Suku Sasak yang masih mempertahankan tradisi dan tata kehidupan warisan leluhur. Bangunan rumah di kawasan tersebut umumnya menggunakan material kayu, bambu, bedek, dan beratap ilalang sehingga api dapat dengan mudah membakar bangunan.

Di balik peristiwa kebakaran tersebut, Desa Sade memiliki sejarah panjang sebagai permukiman masyarakat Sasak. Desa ini telah dihuni selama puluhan generasi dan menjadi salah satu tempat yang memperlihatkan kehidupan tradisional Suku Sasak di Lombok.


Sejarah Desa Sade

Desa Adat Sade merupakan salah satu desa adat masyarakat Suku Sasak di Pulau Lombok. Tradisi dan adat istiadat masyarakat Sasak di kawasan tersebut disebut telah berlangsung sejak sekitar 1.500 tahun lalu.

Selama puluhan generasi, masyarakat Sade mempertahankan berbagai warisan leluhur, mulai dari bentuk rumah, pola permukiman, tradisi, hingga tata kehidupan sehari-hari. Desa Sade memiliki luas sekitar 5,5 hektare dengan sekitar 150 rumah. 

Setiap rumah umumnya dihuni oleh satu kepala keluarga. Seluruh penduduk Desa Sade merupakan masyarakat Suku Sasak Lombok. 

Kehidupan masyarakat di desa adat tersebut juga masih memiliki ikatan kekerabatan yang kuat. Penduduk Desa Sade dikenal masih berasal dari satu keturunan karena adanya perkawinan antarkerabat dalam komunitas mereka.

Asal-usul Masyarakat Sasak

Masyarakat Sasak merupakan kelompok etnis asli yang mendiami Pulau Lombok. Suku Sasak memiliki bahasa, adat istiadat, tradisi, serta sistem sosial yang berkembang secara turun-temurun.

Desa Sade menjadi salah satu kawasan yang masih memperlihatkan kehidupan tradisional masyarakat Sasak. Berbagai kebiasaan leluhur tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat. Salah satu yang paling mudah dikenali adalah bentuk rumah tradisional. 

Rumah-rumah di Desa Sade menggunakan material alami seperti kayu, bambu, bedek, dan ilalang. Karakteristik tersebut sekaligus menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya Desa Sade.

Kehidupan Masyarakat Desa Sade

Sebagian besar masyarakat Desa Sade menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan sehingga aktivitas pertanian sangat bergantung pada kondisi musim.

Karena tidak memiliki sistem irigasi, masa panen padi umumnya berlangsung satu kali dalam setahun. Sembari menunggu masa panen, masyarakat memiliki pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satu pekerjaan yang banyak dilakukan adalah menenun. Aktivitas menenun juga menjadi bagian dari tradisi masyarakat Sasak sekaligus menghasilkan produk kerajinan yang dapat dijual kepada wisatawan.

Desa Sade sebagai Destinasi Wisata Budaya

Selain menjadi permukiman masyarakat Sasak, Desa Sade selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya populer di Lombok. Wisatawan dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat adat, rumah tradisional, kerajinan tenun, serta berbagai tradisi yang masih dipertahankan hingga kini.

Keberadaan Desa Sade juga membuat kawasan tersebut menjadi salah satu tempat untuk mengenal lebih dekat budaya masyarakat Sasak dan sejarah kehidupan masyarakat lokal di Pulau Lombok. Desa Adat Sade berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, NTB. 

Dari Kota Mataram, jaraknya sekitar 43 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Perjalanan dari Mataram menuju Desa Sade dapat ditempuh melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Nasib Pengalihan Utang Whoosh Tak Jelas, Ini Penjelasan Wamenkeu

Jumat, 02 Oktober 2026 | 22:20

Ombudsman Soroti Masa Sanggah Data Rumah Rusak Gempa NTT Terlalu Singkat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:55

KPK Dalami Pengurusan HGB PT Bela Parahiyangan hingga ke Pusat

Jumat, 02 Oktober 2026 | 21:36

Rafyq Pandjaitan Terpilih Ketua KWP, Ariawan Titip Pesan Ini

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:50

KBRI Singapura Tak Punya Dokumen Pendidikan Gibran

Jumat, 02 Oktober 2026 | 20:20

Jenderal Sigit jadi Bidak Benteng dalam Catur Pemerintahan Prabowo

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:57

Hatta Rajasa Pastikan Wantimpres Beri Nasihat Berkualitas untuk Presiden

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:44

Kapolri Berganti, Jenderal Sigit Serahkan Panji Tribrata ke Jenderal Suyudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:40

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Bersama UI, Peradi Profesional Bidik Pendidikan Advokat Lebih Berkualitas

Jumat, 02 Oktober 2026 | 18:51

Selengkapnya