Berita

Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami. (Foto: tangkapan layar)

Bisnis

Jangan Sampai Utang Gerogoti Ruang Fiskal

KAMIS, 20 AGUSTUS 2026 | 14:07 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Besarnya belanja negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dinilai memiliki konsekuensi terhadap meningkatnya beban utang pemerintah. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena pembayaran bunga utang berpotensi menggerus ruang fiskal untuk belanja produktif.

Analis Ekonomi Politik Lab 45, Nadia Restu Utami, mengatakan program dan belanja pemerintah memang dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, kapasitas fiskal yang terbatas membuat peningkatan belanja harus diikuti dengan perhitungan terhadap konsekuensi pembiayaannya.

“Konsekuensi dari belanja negara adalah utang. Nah ini yang menjadi perhatian sekarang,” kata Nadia di kanal Youtube Bambang Widjojanto, Kamis, 20 Agustus 2026.


Menurutnya, besarnya beban bunga utang terlihat dari komponen belanja negara berdasarkan jenisnya. Pembayaran bunga utang bahkan disebut telah mengambil porsi yang cukup besar.

"Bunga utang saja bayangkan sudah men-drive lebih besar tadi hampir 15 persen,” ujarnya.

Nadia menegaskan, persoalan utama bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya utang. Hal yang lebih penting adalah bagaimana utang tersebut dikelola agar tidak justru mengurangi kemampuan pemerintah membiayai program produktif.

“Intinya adalah utang ini akan menggerogoti ruang fiskal atau belanja produktif tadi. Bayangkan penerimaan kita hampir 15 persennya itu digunakan untuk membayar bunga utang saja,” jelasnya.

Meski demikian, Nadia menilai utang tidak selalu berdampak buruk bagi perekonomian. Dalam kondisi tertentu, utang justru dapat menjadi instrumen untuk mempercepat pembangunan dan pertumbuhan ekonomi apabila dikelola secara produktif.

“Kalau bicara soal utang sebetulnya utang itu bagus atau enggak sih. Kalau kita melihat teori dan beberapa contoh negara maju, utang itu bisa menjadi katalisator pertumbuhan,” katanya.

Ia mencontohkan Korea Selatan yang mampu memanfaatkan pembiayaan untuk mendorong pembangunan hingga menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

“Kita sebetulnya dengan utang era rezim Soeharto bisa melakukan pembangunan. Tapi ketika dia berlebihan, itu akan menjadi beban sendiri buat pemerintahan dan bahkan generasi mendatang,” tandas Nadia.


Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Prabowonomics dalam Desain APBN 2027

Kamis, 20 Agustus 2026 | 04:17

BRI KKB National Expo 2026 Hadir di 131 Lokasi dan Torehkan Rekor MURI

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:48

Sikap Amien Rais Makin Plinplan dan Mirip Sengkuni

Kamis, 20 Agustus 2026 | 03:14

PBB Dorong PT Timah Serap Hasil Timah Masyarakat Bangka Belitung

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:45

Truk Karnaval Kementerian PU Hadirkan Pesan Gotong Royong dan Kerja Nyata

Kamis, 20 Agustus 2026 | 02:16

Pernyataan Agus Burate soal 5 WN China di Tambang Emas Dibantah Keluarga

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:42

Jalan Harmoni, Potret Toleransi di Jantung George Town

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:37

Sindikat Meterai Palsu yang Bikin Negara Boncos Rp1 Triliun Dibongkar Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 01:21

Komisi V DPR Usul Kapal Penumpang dan Pengangkut Barang Dipisah

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:59

Jampidsus Diminta Terbitkan Sprindik Baru Kasus Jiwasraya dan Asabri

Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:35

Selengkapnya