Berita

Akademisi dan pengamat sosial politik Ubedilah Badrun dalam Pelatihan Jurnalistik Tematik Dewan Pers bertajuk “Bukan Londo Ireng: Jurnalisme Kritis vs Stigmatisasi Anti Kritik”. (Foto: RMOL)

Politik

Ekonomi Makin Buruk Jika Kebebasan Pers Ditekan

KAMIS, 13 AGUSTUS 2026 | 16:01 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Akademisi dan pengamat sosial politik Ubedilah Badrun menegaskan jurnalisme kritis harus tetap berpihak pada kepentingan publik serta tidak berubah menjadi corong kekuasaan. 

Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab besar memastikan informasi yang diterima masyarakat telah melalui proses verifikasi dan penyaringan yang ketat.

Ubedilah menyampaikan hal itu saat membahas karakter jurnalisme kritis dalam Pelatihan Jurnalistik Tematik Dewan Pers bertajuk “Bukan Londo Ireng: Jurnalisme Kritis vs Stigmatisasi Anti Kritik”


Menurut Ubed, jurnalisme kritis tidak cukup hanya memenuhi unsur 5W+1H, tetapi harus mampu menggali informasi secara mendalam, melakukan verifikasi secara ketat.

"Serta membangun skeptisisme yang sehat terhadap setiap informasi," katanya.

Ia mengingatkan, tekanan terhadap pers dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk apa yang disebutnya sebagai “sensor siluman”. Kondisi tersebut berpotensi membatasi ruang gerak jurnalis tanpa harus melalui pelarangan secara terbuka.

Karena itu, Ubedilah mendorong media dan jurnalis membangun jaringan alternatif untuk menjaga keberlangsungan publikasi ketika menghadapi tekanan. Publikasi lintas jaringan, kata dia, dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan informasi dan mencegah karya jurnalistik berhenti akibat intervensi.

“Ini kerja kolektif,” ujarnya.

Ubedilah menilai intervensi terhadap pers bukan hanya berdampak pada demokrasi dan kebebasan informasi, tetapi juga dapat memberikan konsekuensi terhadap kondisi ekonomi nasional.

Menurutnya, investor membutuhkan kepastian dan lingkungan yang sehat dalam menjalankan kegiatan usaha. Tekanan terhadap kebebasan pers justru dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap suatu negara.

“Investor takut investasi ke negara yang persnya ditekan. Pers ditekan, ekonomi makin buruk,” katanya.

Ia juga menyoroti tren kebebasan pers yang semakin menurun. Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian karena pers merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga kontrol publik terhadap jalannya pemerintahan.

Di sisi lain, Ubedilah mengakui pers juga menghadapi persoalan internal, terutama terkait kebutuhan modal untuk menjaga keberlangsungan perusahaan media. Menurutnya, kesulitan ekonomi yang dialami pers tidak dapat dilepaskan dari persoalan praktik ekonomi yang tidak sehat.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya