Berita

Presiden Prabowo Subianto. (Foto: Sekretariat Presiden)

Bisnis

Jelang Nota Keuangan, Ekonom Ingatkan Pemerintah Soal Daya Beli dan PHK

KAMIS, 13 AGUSTUS 2026 | 15:06 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Menjelang pidato kenegaraan dan pembacaan Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 oleh Presiden Prabowo Subianto pada 14 Agustus, pemerintah dinilai perlu memusatkan perhatian pada penguatan daya beli masyarakat dan penciptaan lapangan kerja formal.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas, Prof Syafruddin Karimi, mengatakan kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk menjaga daya beli sekaligus mendorong penciptaan pekerjaan formal di tengah tekanan yang masih dihadapi dunia usaha.

“Pemerintah perlu memusatkan perhatian pada daya beli, penciptaan pekerjaan formal, stabilitas harga pangan, dan pemulihan investasi swasta," kata Syafruddin kepada RMOL, Kamis, 13 Agustus 2026.


Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada triwulan II-2026 belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi rumah tangga dan dunia usaha.

Pasalnya, masih terdapat sejumlah indikator yang perlu menjadi perhatian pemerintah, mulai dari kontraksi sektor pertambangan, pelemahan penjualan eceran, hingga tekanan pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah pusat industri.

"Pertambangan terkontraksi 1,64 persen, investasi swasta masih perlu diperkuat, penjualan eceran Juni diperkirakan menyusut 4,4 persen secara tahunan, dan PHK tetap menekan pusat industri," jelasnya.

Syafruddin menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menjaga daya tahan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung dunia usaha. Upaya tersebut antara lain dilakukan dengan memastikan pasokan pangan tetap terjaga dan mempercepat realisasi belanja yang memberikan dampak produktif terhadap perekonomian.

“Pemerintah perlu menjaga pasokan pangan, mempercepat belanja produktif, menyelesaikan ketidakpastian perizinan, serta melindungi pekerjaan melalui dialog dengan perusahaan sebelum PHK terjadi,” jelasnya.

Dia juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran dalam penyaluran bantuan sosial. Menurutnya, bansos harus diberikan kepada kelompok yang benar-benar rentan dengan menggunakan data terbaru agar manfaatnya lebih efektif.

Sementara itu, untuk mendukung dunia usaha, pemerintah perlu mengarahkan dukungan kepada sektor-sektor padat karya yang memiliki pasar sekaligus prospek keberlanjutan.

“Dukungan usaha perlu diarahkan kepada sektor padat karya yang memiliki pasar dan prospek bertahan,” katanya.

Lebih lanjut, Syafruddin mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan kebijakan.

“Fokus kebijakan tidak boleh berhenti pada pencapaian pertumbuhan; pemerintah harus memastikan pertumbuhan memperkuat pendapatan riil, produktivitas, dan kesempatan kerja,” tandasnya.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya