Berita

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja (Paling kiri) dalam UOB Media Editors Circle 2026: Powering Indonesia’s Next Engine of Growth di Jakarta (Foto: RMOL/Reni Erina)

Bisnis

Investasi dan Belanja Berkualitas Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen

KAMIS, 13 AGUSTUS 2026 | 14:26 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dinilai masih terbuka untuk dicapai. 

Namun, pemerintah perlu menggeser fokus dari sekadar mengandalkan belanja fiskal menuju penguatan investasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta peningkatan kualitas belanja negara.

ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5-6 persen masih belum mencerminkan kapasitas ekonomi nasional. Menurut dia, ruang untuk tumbuh lebih tinggi masih terbuka apabila sejumlah sumber pertumbuhan dapat dioptimalkan.


Ia menyoroti pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,29 persen pada kuartal II 2026. Meski cukup kuat, pertumbuhan tersebut dinilai belum sepenuhnya berkelanjutan karena salah satu penopangnya berasal dari belanja pemerintah.

“Ini tidak sustainable karena kita punya limit 3 persen defisitnya,” kata Enrico, dalam UOB Media Editors Circle 2026 Powering Indonesia’s Next Engine of Growth di Jakarta, dikutip Kamis 13 Agustus 2026.

Pada kuartal II 2026, konsumsi pemerintah memang menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi, mencapai 15,97 persen. Namun, konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan porsi 53,32 persen.

Masalahnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga terus melambat. Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen, turun dari 5,52 persen pada kuartal sebelumnya. Angka tersebut juga masih jauh dari pola pertumbuhan 6-7 persen yang sebelumnya kerap dicapai.

Menurut Enrico, kondisi tersebut antara lain dapat berkaitan dengan melemahnya tingkat keyakinan konsumen. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sumber pertumbuhan lain yang lebih berkelanjutan, terutama investasi.

Investasi, kata dia, berpotensi memberikan tambahan pertumbuhan hingga 1 persen apabila iklim usaha dan investasi dapat terus diperbaiki. Pemerintah perlu menciptakan kondisi yang membuat pelaku usaha tidak hanya tertarik menanamkan modal, tetapi juga melakukan investasi kembali.

“Itu dari investasi. Jadi kita harus bikin iklim investasi itu bagus, agar orang mau reinvest,” tegasnya.

Selain investasi, stabilitas rupiah dan penguatan sektor berorientasi ekspor juga menjadi bagian penting dalam menjaga momentum pertumbuhan. Pemerintah perlu mendorong sektor-sektor unggulan yang memiliki daya saing global sekaligus memperluas keterlibatan pelaku usaha lokal dalam pasar internasional.

“Misalnya kayu nih, jual keluar. Murah dan itu kompetitif,” timpalnya.

Di saat yang sama, pasar domestik tetap perlu diperkuat. Besarnya basis konsumen Indonesia dapat menjadi sumber pertumbuhan apabila diikuti peningkatan daya saing produk dan kapasitas pelaku usaha nasional.

Faktor berikutnya adalah kualitas belanja pemerintah. Menurut Enrico, anggaran negara harus diarahkan pada kegiatan yang memberikan dampak ekonomi lebih besar, bukan sekadar mengejar besarnya realisasi belanja.

“Yang ketiga baru, pemerintah harus berkualitas spending-nya,” ucap Enrico.

Enrico menilai pekerjaan rumah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sebenarnya telah teridentifikasi sejak pemerintahan sebelumnya dan berlanjut hingga pemerintahan saat ini. Jika berbagai agenda tersebut dapat diselesaikan secara cepat dan berjalan paralel, target pertumbuhan ekonomi 8 persen masih layak diupayakan.

Dengan demikian, akselerasi pertumbuhan tidak cukup hanya mengandalkan stimulus fiskal. Pemerintah perlu memastikan investasi tumbuh, rupiah tetap stabil, ekspor semakin kompetitif, dan setiap rupiah belanja negara menghasilkan dampak ekonomi yang optimal.


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

UPDATE

Bursa Asia Ambruk, Saham Teknologi Berguguran

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:30

Nasdaq Tertekan, Investor Wall Street Waspadai Inflasi AS

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:17

Bidik Pasar Modal, Dua BUMD DKI Konsultasikan Rencana IPO ke OJK

Selasa, 13 Oktober 2026 | 08:06

Delta Tunda Penerbangan ke Arab Saudi Usai Serangan Riyadh hingga 2027

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:46

Logam Mulia Tertekan Dolar Jelang Rilis Inflasi Amerika Serikat

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:29

Pasar Eropa Hijau Didorong Saham Perbankan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:13

Drone Seeder Solusi Reklamasi Lahan Pascatambang, SOP Masih Digodok

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:56

Republik Konoha dan Krisis Ketiga

Selasa, 13 Oktober 2026 | 06:23

Olahan Sagu Inovasi TEP IPB University Ramaikan Festival Kali Maro IV Merauke

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:57

Ijazah bagi Kekuasaan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 05:27

Selengkapnya