Berita

Ruang rapat lantai 3 Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dibakar oleh pegawai outsourcing berinisial MFA (24). (Foto: Istimewa)

Publika

Bercanda Keterlaluan, Ruang Rapat Senilai Rp2 Miliar Dibakar

KAMIS, 13 AGUSTUS 2026 | 05:20 WIB

CERITA bakar-membakar lagi. Kali ini dilakukan seorang pegawai sering dibully rekan kerjanya. Bercandanya sudah keterlaluan, ia nekat membakar ruang rapat senilai Rp2 miliar. 

Di Tenggarong, Selasa pagi, 11 Agustus 2026, sekitar pukul 07.20 WITA, seorang pemuda berinisial MFA (24), karyawan outsourcing Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), mengambil keputusan yang level absurdnya sudah menembus atmosfer. 

Bukan resign. Bukan curhat ke HRD. Bukan mute grup WA. Tapi membakar ruang rapat.


Penyebabnya? Nah, ini yang bikin jidat berkerut seperti gorden kantor Bupati Puncak yang dibakar massa.

Wajah MFA dijadikan stiker WA oleh rekan-rekan kerja. Difoto tanpa izin. Disebar. Diedit. Dijadikan bahan guyonan. Lalu beredar dari grup ke grup seperti promo diskon akhir bulan.

Luar biasa.

Di zaman kecerdasan buatan berkembang pesat, manusia berhasil menemukan teknologi paling mutakhir, membully teman kantor memakai stiker.

Mungkin para pelaku mengira itu lucu. Mungkin mereka berpikir, "Ah, cuma bercanda."

Kalimat "cuma bercanda" ini memang makhluk paling sakti di dunia. Dia bisa menghapus rasa bersalah lebih cepat dari penghapus papan tulis. 

Mau menghina orang? Cuma bercanda. Mau membodohi publik emas 74 kg itu palsu? Cuma bercanda. Mau nginfo Silfester Matutina sudah ditangkap? Cuma bercanda.

Kalau bercanda sudah jadi tameng, dosa sosial terasa seperti diskon 90 persen.

Menurut informasi yang beredar, kekesalan MFA memuncak ketika foto dirinya kembali dijadikan bahan olok-olok sehari sebelum kejadian.

Artinya apa? Artinya ada kesempatan penuh selama 24 jam bagi para ahli humor internasional itu untuk berhenti.

Tapi rupanya mesin komedi mereka sudah telanjur overheat. Lanjut terus. Gas pol.

Sampai akhirnya yang gaspol bukan cuma candaan, melainkan Pertalite.

Pian bayangkan. MFA diduga membeli 30 sampai 40 liter bahan bakar. Empat puluh liter!

Itu volume biasanya dipakai orang buat mudik, bukan buat mendekorasi ruang rapat menjadi cabang Gunung Krakatau.

Ruang rapat berukuran msekitar 6x8 meter itu pun berubah menjadi panggung api. Meja lenyap. Kursi hangus. Peralatan kantor gosong. Proyektor tamat riwayat.

Yang paling tragis, slogan-slogan indah seperti "kekeluargaan", "soliditas tim", dan "kami adalah satu keluarga besar" ikut terbakar tanpa sempat menyelamatkan diri.

Kerugian ditaksir mencapai Rp2 miliar. Angka yang cukup untuk membeli ribuan ponsel, puluhan motor, atau mungkin membayar admin media sosial selama beberapa generasi.

Polisi kemudian menjelaskan, dugaan perundungan itu dilakukan oleh oknum, bukan institusi. Tentu saja.

Karena kalau satu kantor kompak membully, mungkin yang terbakar bukan ruang rapat lagi, melainkan kesabaran nasional. Namun di balik semua kekonyolan ini ada pelajaran lebih panas dari api kebakaran itu sendiri.

Sering kali orang menganggap bullying hanyalah hiburan receh. Sekadar bahan tertawaan. Sekadar candaan internal. Padahal yang tertawa mungkin sepuluh orang. Yang terluka cukup satu.

Satu orang terluka kadang menyimpan kemarahan seperti tabung gas. Dari luar terlihat tenang. Di dalam tekanan terus naik. Lalu suatu hari ada percikan kecil. Boom. Selesai.

Tidak, membakar kantor tentu bukan tindakan bisa dibenarkan. Konsekuensi hukumnya nyata. Masa depan bisa hancur. Hidup bisa berubah dalam sekejap.

Tapi menganggap bullying sebagai hal sepele juga sama bodohnya. Karena sejarah berkali-kali menunjukkan, luka batin terus ditertawakan sering kali berubah menjadi masalah yang jauh lebih mahal dari jsekadar meminta maaf.

Lain kali sebelum membuat stiker teman kantor, meme rekan kerja, atau bahan olok-olok grup WA, ingatlah satu hal.

Tidak semua orang tertawa bersama kita. Kadang ada tersenyum di grup, tetapi diam-diam sedang mengumpulkan bensin dalam hatinya.

Ketika kesabaran itu terbakar, yang hangus bukan cuma ruang rapat. Bisa jadi masa depan semua orang yang terlibat.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

UPDATE

Gibran Mundur Saja

Selasa, 03 November 2026 | 04:20

Investasi Jakarta Tembus Rp249,3 Triliun

Selasa, 03 November 2026 | 04:08

MUI Apresiasi Pencopotan Kapolres Sukoharjo

Selasa, 03 November 2026 | 03:17

DJP Buka-bukaan soal Pajak Digital yang Disebut Hashim

Selasa, 03 November 2026 | 03:05

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Putusan MA soal Suket Gibran Jadi Momentum Akhiri Bayang-Bayang Jokowi

Selasa, 03 November 2026 | 02:13

Sikap Responsif Kapolri Pulihkan Kepercayaan Masyarakat

Selasa, 03 November 2026 | 02:05

RI Pamer Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang di Forum Pertahanan ASEAN

Selasa, 03 November 2026 | 01:40

Anies Temui Seniman Iman Soleh di Bandung, Ini Kisahnya

Selasa, 03 November 2026 | 01:29

PAM Jaya Sumbang Dividen Rp257 Miliar

Selasa, 03 November 2026 | 01:07

Selengkapnya