Berita

Ketua Dewan Pakar Asprindo, Prof Didin Damanhuri. (Foto: Istimewa)

Politik

Pemikiran Soemitro Masih Relevan jadi Pijakan Pembangunan Ekonomi Indonesia

SELASA, 11 AGUSTUS 2026 | 22:54 WIB | LAPORAN: DIKI TRIANTO

Pemikiran ekonom senior Soemitro Djojohadikusumo masih relevan dijadikan pijakan dalam membangun sistem ekonomi yang berpihak pada kepentingan nasional.

Menurut Ketua Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Prof Didin S Damanhuri, kemerdekaan politik tidak akan memiliki makna penuh tanpa dibarengi kemandirian dan kedaulatan ekonomi.

“Kemerdekaan politik harus berjalan bersama kemerdekaan ekonomi, demi menjaga kedaulatan bangsa. Tanpa kedaulatan ekonomi, Indonesia hanya akan mengalami penjajahan berikutnya, namun dalam bentuk yang berbeda,” kata Didin dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.


Ia mengatakan, pemerintah perlu memperkuat kemandirian ekonomi, pemerataan kesejahteraan, serta penguasaan sektor-sektor strategis nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan amanat konstitusi mengenai kesejahteraan rakyat yang berkeadilan dapat diwujudkan.

“Indonesia tak bisa hanya bergantung pada ekonomi global. Target Indonesia Emas 2045 tak akan tercapai jika hanya menjadi pasar kepentingan global,” tegasnya.

Didin juga menekankan pentingnya penguatan industri nasional dan pengelolaan sumber daya strategis yang memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

“Manfaat pembangunan juga harus dirasakan masyarakat secara adil, merata, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Didin menyebut pemikiran Soemitro Djojohadikusumo menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum sepenuhnya selesai.

Menurut dia, kemerdekaan yang telah diraih harus dilanjutkan dengan perjuangan mewujudkan kedaulatan ekonomi agar Indonesia tidak kembali bergantung pada kepentingan asing.

“Pemikiran Soemitro Djojohadikusumo mengingatkan kita bahwa kemerdekaan politik harus dibarengi dengan kemerdekaan ekonomi. Tanpa kedaulatan ekonomi, bangsa akan terus menghadapi berbagai bentuk penjajahan dalam wajah yang berbeda,” pungkas Didin.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya