Berita

Presiden Prabowo Subianto di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPD, Jakarta, pada Rabu 20 Mei 2026. (Foto: Sekretariat Presiden)

Politik

Kejar Pertumbuhan 7-8 Persen, Ekonomi Indonesia Dinilai Perlu Ubah Arah Kebijakan

SENIN, 10 AGUSTUS 2026 | 12:06 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Target Presiden Prabowo Subianto untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 7-8 persen dinilai sulit tercapai tanpa perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi.

Rektor Universitas Paramadina Prof. Didik J. Rachbini mengatakan target pertumbuhan tersebut merupakan janji politik Presiden Prabowo sejak Pilpres 2024 yang harus diwujudkan.

"Tanpa perubahan kebijakan, maka janji kampanye sulit untuk bisa diwujudkan," ujar Didik kepada Kantor Berita Politik dan Ekonomi RMOL, Senin, 10 Agustus 2026.


Menurut pendiri Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) tersebut, pemerintah perlu mengevaluasi kembali kebijakan ekonomi yang selama ini diterapkan. Perubahan diperlukan untuk mengatasi berbagai kelemahan yang membuat pertumbuhan ekonomi masih berada di level moderat.

Didik menilai, untuk mencapai pertumbuhan 7-8 persen seperti yang dicapai Vietnam, Indonesia perlu mengubah orientasi kebijakan dari inward looking menjadi outward looking.

"Untuk menuju pertumbuhan 7-8 persen seperti Vietnam, perubahan orientasi kebijakan ekonomi dari inward looking menjadi outward looking mutlak harus dilakukan," tuturnya.

Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih banyak ditopang pasar domestik dan konsumsi masyarakat. Jika pola tersebut dipertahankan, pertumbuhan ekonomi dinilai akan cenderung bergerak pada kisaran yang tidak jauh berbeda dari capaian sebelumnya.

Karena itu, Didik menilai target pertumbuhan tinggi sulit terwujud pada pemerintahan Prabowo jika kebijakan ekonomi tidak mengalami perubahan berarti.

"Jika tidak dan hanya mengandalkan sumber daya dan pasar dalam negeri, maka tidak harus puas dengan tingkat pertumbuhan moderat 5 persen atau bahkan di bawahnya," demikian Didik.


Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

UPDATE

Moreno Soeprapto, Potret Etika Buruk Wakil Rakyat

Senin, 21 September 2026 | 06:25

Suara Rakyat Jangan Dimubazirkan

Senin, 21 September 2026 | 06:05

Ketika Pakar Saking Pintarnya Jadi “Goblok”

Senin, 21 September 2026 | 05:44

Masa Depan Pelabuhan Indonesia antara Peluang dan Tantangan

Senin, 21 September 2026 | 05:13

Serangan Babi Hutan Persoalan Serius bagi Petani

Senin, 21 September 2026 | 05:00

Merapi Empat Kali Luncurkan Lava Pijar dalam 6 Jam

Senin, 21 September 2026 | 04:39

Pramono Lagi Menempatkan Jakarta dalam Peta Persaingan Kota Global

Senin, 21 September 2026 | 04:23

Membaca Berhadiah Koin

Senin, 21 September 2026 | 04:02

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Muhammadiyah Tetapkan 1 Ramadan 1448 H Jatuh 8 Februari 2027

Senin, 21 September 2026 | 03:06

Selengkapnya