Berita

Presiden AS Donald Trump (Foto: White House)

Dunia

Stok Rudal Menipis akibat Perang Iran, AS Genjot Produksi Senjata

MINGGU, 09 AGUSTUS 2026 | 10:39 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Amerika Serikat (AS) mulai mengambil langkah agresif untuk mempercepat produksi persenjataan setelah perang dengan Iran menguras persediaan amunisi.

Pentagon mendesak perusahaan-perusahaan industri pertahanan untuk segera meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mempercepat jadwal pengiriman senjata.

Wakil Menteri Pertahanan AS Steve Feinberg memberikan waktu maksimal 21 hari kepada para pemimpin industri untuk menyerahkan rencana percepatan produksi dan pengadaan sejumlah persenjataan strategis.


“Siklus pengembangan yang memakan waktu bertahun-tahun tidak dapat diterima. Kita harus mempercepat jadwal program kita secara drastis dan memperluas kapasitas produksi kita sekarang juga,” kata Feinberg dalam memo yang diperoleh The Washington Post, dikutip Minggu, 9 Agustus 2026.

Juru Bicara Pentagon Sean Parnell membenarkan langkah tersebut. Menurutnya, Departemen Pertahanan AS tengah berfokus meningkatkan pengadaan amunisi agar kebutuhan pasukan dapat dipenuhi secepat mungkin sesuai dengan perkembangan ancaman.

“Senjata yang dibutuhkan para prajurit kita dengan kecepatan yang dituntut oleh ancaman tersebut,” ujarnya.

Parnell menegaskan, upaya mempercepat produksi senjata tersebut akan menjadi bagian dari penyusunan anggaran tahun fiskal 2028 dan sejalan dengan agenda memperkuat kembali basis industri pertahanan AS.

Desakan Pentagon muncul setelah konflik dengan Iran membuat stok rudal pencegat Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) menyusut tajam. 

Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan stok Patriot turun dari 2.330 unit sebelum perang menjadi sekitar 759-827 unit setelah pertempuran terbaru, atau berkurang sedikitnya 65 persen.

Sementara itu, stok pencegat THAAD turun dari 452 unit sebelum perang menjadi 232-262 unit pada awal gencatan senjata April. 

AS kemudian berhasil menambah sebagian persediaannya menjadi 234-278 unit, tetapi jumlah tersebut masih setidaknya 38 persen lebih rendah dibandingkan sebelum konflik. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan risiko bagi pasukan AS jika pertempuran kembali pecah.

Presiden Donald Trump sebelumnya membantah laporan mengenai kekurangan amunisi. 

Melalui Truth Social, Trump menyatakan AS memiliki banyak senjata, sementara sisanya sedang diproduksi dan dikirim sesuai kebutuhan.

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Wall Street Keluar dari Tekanan, Nasdaq Melonjak 1,69 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 08:14

Binar Emas Kembali Berkilau, Harga Melesat Lebih dari 2 Persen

Jumat, 18 September 2026 | 07:35

Bursa Eropa Menguat Tajam setelah Harga Minyak Turun

Jumat, 18 September 2026 | 07:02

UMKM Binaan Peratamina

Jumat, 18 September 2026 | 05:52

KPK Harus Hati-hati Buka Informasi Dugaan Korupsi Bea Cukai ke Publik

Jumat, 18 September 2026 | 05:25

PPN Kejawanan Diproyeksikan jadi Magnet Pertumbuhan Ekonomi Pesisir

Jumat, 18 September 2026 | 04:57

Momentum Memperkuat Akuntabilitas Belanja Negara

Jumat, 18 September 2026 | 04:25

Pembangunan di Papua Perlu Libatkan Kelembagaan Adat

Jumat, 18 September 2026 | 03:48

Perhutani Dorong Ekonomi Desa Lewat Penyaluran PUMK

Jumat, 18 September 2026 | 03:20

Mengawal Garibaldi

Jumat, 18 September 2026 | 02:55

Selengkapnya