Berita

Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Green Marketing Desa Wisata Bali untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Berkelanjutan” bersama perajin seashell craft di Desa Serangan, Bali. (Foto: Dokumentasi FEB UNJ)

Bisnis

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

SABTU, 08 AGUSTUS 2026 | 02:01 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta (FEB UNJ) melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Penguatan Green Marketing Desa Wisata Bali untuk Meningkatkan Daya Saing Pariwisata Berkelanjutan” bersama perajin seashell craft di Desa Serangan, Bali, beberapa waktu lalu.

Dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026, kegiatan ini merupakan bagian dari Sustainable International Community Services (SICS) 2026, sebuah forum pengabdian kepada masyarakat berskala internasional yang dihadiri oleh perwakilan dari tujuh negara. 

Program tersebut menjadi wujud komitmen perguruan tinggi dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat, mengembangkan ekonomi kreatif lokal, serta mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals(SDGs).


Program dilaksanakan melalui sejumlah tahapan, mulai dari sosialisasi, observasi partisipatif, diskusi, pelatihan, penerapan teknologi sederhana, pendampingan, hingga evaluasi. Pendekatan partisipatif memungkinkan tim FEB UNJ memahami secara langsung kondisi produksi, pengelolaan usaha, dan pemasaran yang dijalankan oleh perajin seashell craft. Pada saat yang sama, para perajin terlibat aktif dalam mengidentifikasi permasalahan dan menyusun solusi pengembangan usaha yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Produk seashell craft di Desa Serangan dibuat dengan memanfaatkan limbah kulit kerang yang antara lain berasal dari aktivitas rumah makan di kawasan setempat. Limbah tersebut diolah menjadi berbagai produk kriya bernilai ekonomi, seperti tempat lilin, miniatur, aksesori, dan dekorasi. Pemanfaatan limbah kulit kerang tidak hanya membantu mengurangi limbah lingkungan, tetapi juga menunjukkan penerapan prinsip ekonomi sirkular dalam kegiatan ekonomi kreatif masyarakat pesisir.

Melalui program ini, para perajin diperkenalkan pada konsep green marketing, yaitu strategi pemasaran yang mengintegrasikan nilai lingkungan ke dalam produk, proses produksi, kemasan, promosi, dan komunikasi kepada konsumen. Perajin didorong untuk memahami bahwa daya tarik produk tidak hanya berasal dari bentuk fisik dan nilai estetikanya, tetapi juga dari cerita mengenai asal bahan baku, proses pengolahan limbah, keterampilan masyarakat lokal, serta kontribusi produk terhadap pelestarian lingkungan pesisir.

Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman perajin mengenai pemasaran berkelanjutan dan nilai ekologis atau eco-value yang dimiliki produk mereka. Perajin mulai mampu menyusun narasi pemasaran berbasis environmental storytelling dengan menonjolkan perjalanan limbah kulit kerang hingga menjadi produk kriya yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Dalam aspek pemasaran, mitra mulai memanfaatkan media digital untuk menampilkan foto produk, proses produksi, dan informasi mengenai manfaat lingkungan dari produk yang dihasilkan. Penguatan dokumentasi digital tersebut menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk lokal.

Tim pengabdian juga memperkenalkan konsep eco-branding dan eco-packaging sederhana yang dapat diterapkan secara bertahap oleh perajin. Kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi media komunikasi yang menjelaskan identitas produk, nilai keberlanjutan, dan karakter Desa Serangan sebagai desa wisata berbasis potensi lokal.

Pemanfaatan QR Code turut diperkenalkan sebagai salah satu inovasi sederhana dalam penyampaian informasi produk. Melalui QR Code, konsumen nantinya dapat memperoleh informasi mengenai asal bahan baku, proses pembuatan, profil perajin, katalog produk, serta nilai lingkungan yang melekat pada produk seashell craft. Penerapan teknologi ini masih berada pada tahap pengembangan awal dan akan terus disesuaikan dengan kapasitas serta kebutuhan mitra.

Selain meningkatkan kapasitas perajin, kegiatan ini menghasilkan sejumlah luaran berupa data observasi partisipatif, dokumentasi praktik baik, identifikasi eco-value produk, rancangan eco-packaging, konsep pemasaran digital, serta draft rekomendasi pengembangan green marketing desa wisata  yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dan pengelola desa wisata dalam mengembangkan kebijakan ekonomi kreatif yang berorientasi pada keberlanjutan.

Program ini menunjukkan bahwa penguatan daya saing produk lokal tidak selalu harus dimulai dengan teknologi yang kompleks. Dokumentasi produk yang lebih baik, konsistensi identitas merek, penggunaan kemasan ramah lingkungan, serta kemampuan menyampaikan cerita lingkungan secara menarik dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk.

Keberlanjutan program memerlukan kolaborasi antara perajin, pemerintah daerah, pengelola desa wisata, perguruan tinggi, pelaku industri pariwisata, dan masyarakat. Dukungan dalam bentuk pelatihan lanjutan, perluasan jaringan pemasaran, fasilitasi promosi digital, pengembangan katalog elektronik, dan akses terhadap pasar produk ramah lingkungan diharapkan dapat memperkuat posisi produk seashell craft di pasar wisata.

Kegiatan tersebut berkontribusi terhadap pencapaian sejumlah SDGs, terutama SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 14 tentang Ekosistem Laut, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Universitas Negeri Jakarta, khususnya Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terus berkomitmen mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang memberikan manfaat nyata. Melalui kolaborasi berbasis kebutuhan masyarakat, perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi mitra strategis dalam memperkuat ekonomi kreatif, meningkatkan daya saing produk lokal, dan mewujudkan pembangunan pariwisata yang lebih inklusif dan berkelanjutan.


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

Hak Angket Ijazah Gibran Sudah Masuk Angin

Senin, 26 Oktober 2026 | 10:04

UPDATE

Korporasi Biang Kerok Karhutla Harus Dihukum Maksimal

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:32

Partisipasi Industri Lokal Menguat, 101 Calon Mitra PSEL Denera Lolos Seleksi

Jumat, 30 Oktober 2026 | 10:31

IHSG Rontok 1,29 Persen, Rupiah Cerah ke Rp18.112 per Dolar AS

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:27

Bahlil Curiga Singapura Jual Lagi Pasokan Gas RI ke Luar Negeri

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:12

Harga Emas Antam Turun Lagi, Beli Sekarang?

Jumat, 30 Oktober 2026 | 09:01

Andrea Bocelli Harus Cabut Dukungan ke Israel jika Ingin Konser di Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:43

Pemerintah Jangan Tutup Mata atas Nasib PMI di Malaysia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:25

Indonesia dan Singapura Harus Kompak Bongkar Jejak Korporasi Karhutla

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:14

Kopdes Jangan Malah Jadi Pesaing UMKM

Jumat, 30 Oktober 2026 | 08:05

Jakarta Tak Kalah dari Singapura Gelar Konser Dunia

Jumat, 30 Oktober 2026 | 07:40

Selengkapnya