Berita

Ilustrasi (Imagined by Babbe)

Bisnis

Wall Street Merah Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan

JUMAT, 07 AGUSTUS 2026 | 08:27 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Kekhawatiran baru terhadap situasi geopolitik di Timur Tengah membuat pelaku pasar memilih mengurangi aset berisiko.

Menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pada Jumat, 7 Agustus 2026, waktu setempat, mayoritas bursa saham global ditutup melemah, sementara harga minyak melonjak akibat kekhawatiran terhadap potensi gangguan di Selat Hormuz.

Di Wall Street, ketiga indeks utama berakhir di zona merah. Indeks Dow Jones Industrial Average turun 464,02 poin atau 0,85 persen menjadi 53.885,10. S&P 500 melemah 13,59 poin atau 0,18 persen ke level 7.709,96, sedangkan Nasdaq Composite turun 15,09 poin atau 0,06 persen menjadi 26.348,35. Di tingkat global, indeks saham MSCI World turun 0,33 persen. 
 

 
Tekanan di pasar saham dipicu oleh melonjaknya harga minyak setelah muncul laporan bahwa parlemen Iran tengah mengkaji rancangan undang-undang yang dapat melarang kapal-kapal AS, Israel, dan negara yang dianggap sebagai "musuh" melintasi Selat Hormuz. Rancangan tersebut bahkan mengusulkan denda hingga 20 persen dari nilai muatan kapal yang melanggar aturan.

Dari sisi ekonomi, data terbaru menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran sedikit meningkat pada pekan lalu. Namun, jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Juli justru turun ke level terendah dalam dua tahun, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih cukup solid.

Meski demikian, perhatian investor kini sepenuhnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS periode Juli yang akan dirilis Jumat. Data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap langkah kebijakan suku bunga bank sentral AS pada pertemuan berikutnya.

Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 5,67 basis poin menjadi 4,674 persen seiring kenaikan harga minyak. Sementara itu, dolar AS menguat 0,44 persen terhadap Yen Jepang ke level 158,45, menandai penguatan selama tiga sesi berturut-turut karena investor kembali mencari aset yang dianggap lebih aman.


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Dua Nama Hilang dari Daftar Calon BPK

Kamis, 10 September 2026 | 00:17

UAG Perkuat Sekolah Rakyat dan Talenta Halal Nasional

Kamis, 10 September 2026 | 00:06

Langkah Berani Gubernur Sultra Tertibkan Aset Usik Zona Nyaman Oknum Tertentu

Rabu, 09 September 2026 | 23:52

DPRD DKI Dukung Perluas Program Pendidikan bagi Santri Perkotaan

Rabu, 09 September 2026 | 23:32

Salat Istisqa Digelar di Lahat, Bursah Zarnubi Mohon Hujan segera Turun Merata

Rabu, 09 September 2026 | 23:22

DPR Dorong Pembangunan dari Desa Lewat Rakernas AKSI

Rabu, 09 September 2026 | 23:20

Rosan Roeslani Masuk Dua Besar Menteri Berkinerja Terbaik

Rabu, 09 September 2026 | 23:00

DPR: Kalau Ada Laporan Masyarakat, Polri Tak Perlu Ragu

Rabu, 09 September 2026 | 22:59

Jangan Sampai Indonesia jadi Sasaran Empuk Jaringan Narkoba Internasional

Rabu, 09 September 2026 | 22:45

Mantan Napi KDRT Diduga Kriminalisasi Istri Lewat Kesaksian Palsu ART

Rabu, 09 September 2026 | 22:31

Selengkapnya