Berita

Yurizal Tri Chaerawan meninggal usai mengeluh di media sosial terkait lambatnya penanganan medis. (Foto: Instagram RMOL)

Publika

8 Jam Menunggu Maut, Pasien Minta Kamar, Malah Disuruh Potong Nadi

KAMIS, 06 AGUSTUS 2026 | 14:07 WIB

MAAF agak telat bahas tenaga kesehatan (nakes) paling kurang ajar di dunia. Pasien sudah mau sakratul maut, nulis pesan terakhir, lalu dibalas nakes dengan kalimat, potong aja nadinya. Beberapa hari kemudian, nyawa melayang. Spesies nakes langka hanya ada di negeri ini. 

Ada dua jenis orang menghadapi kematian. Yang takut mati dan yang malah sibuk mengetik komentar sambil menertawakan orang yang sedang berjuang hidup. Yurizal Tri Chaerawan mungkin termasuk pertama. Pada 22 Juli 2026, ia menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs.”

Delapan jam, wak! Kalau menunggu gorengan mungkin sebentar. Kalau tubuh sedang sakit, delapan jam bisa terasa seperti delapan tahun. Yurizal takut menyebut nama rumah sakit karena khawatir didiskriminasi gara-gara memakai BPJS.


Ironisnya, yang datang bukan pertolongan, melainkan komentar yang membuat akal sehat ingin resign. Ada menyuruhnya masuk ruang jenazah agar cepat mendapat kamar. Akun @widhiyarini bahkan menulis, “Potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan.”

Potong nadi! Ini rumah sakit atau audisi film horor?

Dokter RSUD IA Moeis Samarinda, dr. Renanda Maulidya Fadyla, menulis, “bacot nih pasien.” Tenaga kesehatan berinisial NZ dari RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya menghina Yurizal dengan menyebutnya miskin harta, miskin akal, tetapi ingin diistimewakan. Akun @erudarahaadini ikut menyindir kemampuan berpikir Yurizal.

Pasien sedang berjuang hidup, malah disambut seperti sedang mengganggu jam istirahat kerajaan. Sahabat Yurizal, Firhan Arief, kemudian mengungkap, Yurizal menangis setelah membaca komentar-komentar tersebut. Ia sudah sakit secara fisik. Kini hatinya ikut dihantam.

Pada 31 Juli 2026, Yurizal meninggal dunia.

Apakah komentar-komentar itu menyebabkan kematiannya? Jangan asal menyimpulkan. Penyebab medis harus dibuktikan secara medis. Namun satu hal jelas, komentar seperti itu sungguh kejam. Boleh masuk kategori, biadab. Apalagi diarahkan kepada orang yang sedang sakit dan menunggu pertolongan.

Setelah Yurizal meninggal, permintaan maaf bermunculan. Whidiyarini Pangestika mengakui komentarnya tidak profesional dan menambah beban emosional keluarga almarhum. Maaf tentu penting. Tetapi ada maaf yang datang seperti ambulans setelah jenazah dibawa pulang.

Kemarahan publik pun meledak. Komisi IX DPR mendesak Kementerian Kesehatan menginvestigasi dugaan diskriminasi terhadap pasien BPJS. RSUD IA Moeis Samarinda menonaktifkan dr. Renanda dari pelayanan medis. RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya memproses oknum NZ. RSUP Dr. Sardjito dan FK-KMK UGM membentuk tim untuk memeriksa residen ERP yang disebut terlibat.

Kemenkes mengecam perilaku tersebut dan mengingatkan pentingnya etika bermedia sosial. BPJS Kesehatan menegaskan peserta aktif berhak memperoleh pelayanan setara tanpa diskriminasi. Ombudsman juga menyoroti potensi maladministrasi.

Semua bergerak. Sayangnya, semuanya bergerak setelah Yurizal pergi.

Inilah ironi paling pahit. Yurizal tidak menyebut rumah sakit karena takut diskriminasi akibat BPJS. Namun diskriminasi justru datang melalui orang-orang seharusnya menjadi bagian dari sistem penyembuhan.

BPJS bukan kartu kelas dua. Pasien bukan karung tinju. Kemiskinan bukan dosa. Profesi kesehatan bukan lisensi untuk kehilangan empati.

Dokter dan nakes memang manusia. Bisa lelah, stres, jenuh, bahkan marah. Tetapi pasien juga manusia. Mereka datang bukan untuk dihina, melainkan untuk ditolong.

Kasus Yurizal harus menjadi tamparan keras. Pelayanan kesehatan tidak cukup hanya dengan obat, infus, kamar, dan alat canggih. Ia membutuhkan sesuatu yang tidak dijual di apotek, kemanusiaan.

Kita tidak bisa mengembalikan Yurizal. Tetapi kita bisa memastikan keluhannya tidak mati bersamanya. Sebab suatu hari nanti, semua manusia akan mendapat nomor antrean yang sama. Namanya kematian. Semoga ketika giliran kita tiba, di samping kita masih ada manusia. Bukan monster yang memegang keyboard.

Rosadi Jamani
Mantan Wartawan

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Sopir BYD Penyebab Tabrakan Beruntun di Jaksel jadi Tersangka

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:52

Asuransi Tugu Pratama Indonesia Digugat Rp3,51 Miliar ke PN Jaksel

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:27

Sukseskan Kemandirian Pangan, Petani Adat Wanam Butuh Pendampingan

Senin, 26 Oktober 2026 | 05:10

DPO Illegal Tapping Pertamina EP Jambi Sukses Diringkus Berkat Sinergitas

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:50

TNI Kirim 4,6 Ton Dry Ice ke Banjarmasin dan Palembang Sukseskan OMC Akhiri Karhutla

Senin, 26 Oktober 2026 | 04:25

Refleksi Kisah Nabi Musa AS dan Fir'aun dalam 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:34

Walkot Bandung Kedepankan Koordinasi Sikapi Bentrokan Berdarah Pasar Caringin

Senin, 26 Oktober 2026 | 03:14

Startup Binaan IPB Raih Potensi Kerja Sama Rp1 Miliar Tembus Pasar Oman

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:47

Dari Nasionalisme ke Tata Kelola dan Reformasi Pasar Modal Indonesia

Senin, 26 Oktober 2026 | 02:17

Boris Tampubolon Beri Tiga Alasan Pasal Kerugian Negara Harus Direvisi

Senin, 26 Oktober 2026 | 01:43

Selengkapnya