Berita

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat membuka pameran Indo Health Care di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. (Foto: Istimewa)

Bisnis

Tembus Rp200 Triliun, Peluang Industri Alkes RI Makin Besar

KAMIS, 06 AGUSTUS 2026 | 13:27 WIB | LAPORAN: WIDODO BOGIARTO

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan industri alat kesehatan nasional memiliki prospek pertumbuhan yang sangat besar seiring meningkatnya belanja kesehatan masyarakat dan percepatan transformasi layanan kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan proyeksi pemerintah, nilai belanja kesehatan nasional pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar Rp660 triliun, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, pasar alat kesehatan diperkirakan telah mencapai Rp200 triliun dengan tingkat pertumbuhan sekitar 4 persen per tahun.

Hal tersebut disampaikan Budi saat membuka IndoHealthcare Gakeslab Expo 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu 5 Agustus 2026. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-16 ini merupakan hasil kolaborasi Krista Exhibitions Group bersama Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium Indonesia (GAKESLAB Indonesia).


Menurut Budi, sektor kesehatan selama ini selalu mencatat pertumbuhan di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Ketika ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5 persen, sektor kesehatan mampu berkembang hingga 6-7 persen karena meningkatnya kebutuhan layanan medis dan pertumbuhan jumlah penduduk.

Pemerintah pun menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen, sehingga industri kesehatan diharapkan menjadi salah satu sektor strategis yang mampu mendorong pencapaian target tersebut.

"Karena itu kita harus memastikan pertumbuhan industri kesehatan juga terjadi di Indonesia, bukan hanya di negara produsen," kata Budi, dikutip 6 Agustua 2026.

Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi alat kesehatan dalam negeri agar mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah industri nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor. 

Di saat yang sama, pemerintah juga memperluas akses layanan kesehatan melalui penguatan puskesmas, klinik, dan rumah sakit di berbagai daerah.

Menkes menilai tingginya harga alat kesehatan selama ini tidak hanya dipengaruhi faktor pajak, tetapi juga rantai distribusi yang panjang sehingga menyebabkan biaya menjadi lebih mahal. Karena itu, efisiensi distribusi menjadi salah satu fokus pemerintah agar harga alat kesehatan lebih terjangkau bagi masyarakat.

Selain sektor manufaktur, Budi menilai transformasi digital akan menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri alat kesehatan. Pelaku usaha didorong tidak hanya memproduksi perangkat medis, tetapi juga mengembangkan solusi berbasis artificial intelligence (AI), Hospital Information System (HIS), aplikasi kesehatan, hingga integrasi data melalui platform SATUSEHAT.

"Semua fasilitas kesehatan nantinya harus terkoneksi secara digital. Ini menjadi peluang baru bagi industri untuk mengintegrasikan hardware, software, dan AI ke dalam produknya," kata Budi.

Pemerintah juga akan memperkuat pembiayaan kesehatan melalui BPJS Kesehatan serta memperluas program pemeriksaan kesehatan gratis. Kebijakan tersebut diperkirakan akan meningkatkan permintaan berbagai alat skrining, diagnostik, hingga point-of-care testing (POCT), sehingga membuka peluang yang lebih besar bagi produsen alat kesehatan nasional.

Pameran yang berlangsung pada 5-7 Agustus 2026 tersebut diikuti 60 perusahaan dari sembilan negara, yakni Indonesia, China, Singapura, Korea Selatan, India, Jepang, Jerman, Malaysia, dan Pakistan.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Protelindo Masuk BTEL, Kuasai 10,86 Persen Saham Bakrie Telecom

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:26

Prabowo ke NTT Hari Ini, Pastikan Penanganan Korban Gempa Berjalan Baik

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:17

Pengamat: Rekam Jejak Mumpuni Bikin KH Marsudi Syuhud Unggul di Bursa Ketum PBNU

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:13

Presiden Prabowo Dijadwalkan Buka Muktamar ke-35 NU Besok

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:12

Emas Antam Merosot Rp18.000, Satu Gram Jadi Segini

Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:03

DEEP Ingatkan Percepatan Pemilu Harus Punya Alasan Konstitusional

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:55

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Rupiah Menguat ke Rp17.690 per Dolar AS

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:44

SHOW Token Dorong Transformasi Industri Hiburan Global lewat Teknologi AI dan Blockchain

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:21

Bursa Asia Variatif, Investor Pantau Pergerakan Timur Tengah

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:06

THMP Bantah Pertemuan Jokowi-Relawan Bahas Pemilu 2029

Rabu, 26 Agustus 2026 | 09:03

Selengkapnya