Berita

Kendaraan Listrik. (Foto: ANTARA/IMIP)

Otomotif

Kendaraan Nol Emisi dapat Selamatkan 800 Ribu Jiwa hingga 2050

RABU, 05 AGUSTUS 2026 | 05:23 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Di Indonesia, emisi dari transportasi darat menyebabkan 1 kematian dini setiap 12 menit dan memicu satu kasus baru asma pada anak setiap 26 menit.

Hal itu berdasarkan hasil penelitian terbaru terkait manfaat Kesehatan dari Kendaraan Nol Emisi Hingga 2050 yang dirilis oleh International Council on Clean Transportation (ICCT). 

Laporan ini didasarkan pada studi global yang dilakukan di lebih dari 180 negara dan wilayah serta lebih dari 13.000 kawasan perkotaan.
 

 
Secara global, transportasi darat saja menyumbang hampir setengah dari pedoman tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk polusi partikel halus di udara luar ruangan, menjadikannya target penting dalam upaya lintas sektor untuk mengurangi polusi udara yang berbahaya.
 
“Di Indonesia, transportasi darat berkontribusi terhadap 44.700 kematian dini dan lebih dari 19.800 kasus baru asma pada anak hanya pada tahun 2024 saja, menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus asma pada anak yang terkait dengan emisi NO?,” tulis keterangan ICCT dikutip, Rabu, 5 Agustus 2026.

Namun, tidak semua kendaraan berkontribusi secara setara. Kendaraan berat merupakan penyumbang polusi udara terbesar. Meskipun hanya mencakup 2 persen dari armada transportasi darat Indonesia, kendaraan berat menyumbang lebih dari setengah keseluruhan emisi NO? dan PM2.5, sementara kendaraan yang lebih ringan mendominasi emisi VOC dan CO. Mengatasi tantangan ganda ini memerlukan kebijakan yang tepat sasaran untuk mendorong kendaraan nol emisi pada kedua kategori kendaraan tersebut. 

“Dengan elektrifikasi kendaraan yang ambisius, pada 2050, kasus asma pada anak dapat dikurangi sebanyak 150.000 dan kematian dini dapat dikurangi sebanyak 800.000 di Indonesia serta lebih dari 8 juta secara global” ujar Lingzhi Jin dari ICCT.

Riset ICCT juga menunjukkan bahwa polusi transportasi darat berpotensi memperdalam ketimpangan kesehatan global. Sementara negara-negara berpenghasilan tinggi diproyeksikan mengalami penurunan 48 persen dalam kematian dini yang terkait transportasi darat berdasarkan kebijakan saat ini hingga 2050, negara-negara berpenghasilan menengah-atas diperkirakan akan mengalami peningkatan lebih dari 50%, dan negara-negara berpenghasilan rendah serta menengah-bawah bisa mengalami peningkatan lebih dari 200 persen.
  
Namun, dalam skenario elektrifikasi ambisius di mana hampir seluruh penjualan kendaraan baru bebas emisi pada 2045, negara-negara di semua tingkat pendapatan akan mengalami penurunan signifikan dalam beban kesehatan yang diakibatkan oleh transportasi darat hingga 2050, dan kesenjangan tersebut akan menyusut secara drastis.
 
“Pertumbuhan populasi, populasi dunia yang menua, dan armada kendaraan yang terus bertambah memberikan tekanan yang terus meningkat terhadap beban kesehatan akibat transportasi darat, dan berdasarkan kebijakan saat ini, kekuatan-kekuatan tersebut akan mendominasi. Kajian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi yang ambisius cukup kuat untuk memutus keterkaitan tersebut, mencegah hampir 9 juta kematian dini antara sekarang hingga 2050,” ujar Direktur Senior ICCT Josh Miller.
 
Sementara itu, Prof. Budi Haryanto dalam peluncuran kajian ICCT menyatakan bahwa polusi udara masih menjadi faktor risiko penting terhadap peningkatan beban penyakit, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak. 

“Pengendalian emisi perlu dilakukan secara terpadu melalui kebijakan transportasi, energi, dan pemantauan kualitas udara. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan kualitas udara yang lebih baik dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat,” ucap Prof. Budi.
 
Transisi global dan cepat menuju kendaraan nol emisi merupakan salah satu instrumen kebijakan paling berdampak yang tersedia untuk secara bersamaan mengatasi perubahan iklim dan dampak kesehatan akibat polusi udara dari transportasi darat. 

Langkah-langkah pelengkap, termasuk standar emisi yang lebih ketat, bahan bakar yang lebih bersih, dan kebijakan yang menyasar kendaraan lama yang masih digunakan seperti program peremajaan armada, retrofit, dan zona rendah emisi, dapat memberikan manfaat kesehatan jangka pendek yang penting serta mempercepat manfaat elektrifikasi.


Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya