Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Demokrasi dan Titik Buta

RABU, 05 AGUSTUS 2026 | 04:59 WIB | OLEH: JIMMY H SIAHAAN

DEMOKRASI dalam banyak hal dan kasus menjadi bahan sinisme dari para elit yang berkuasa. Dalam kerja sama setiap  pemilu para pemodal menyumbang dan bertaruh mirip perjudian yang legal.

Ketika kemenangan diraih, kekuatan kaum oligarki terbangun di tangan sekelompok elite. Kekuatan ini menjadi persekongkolan dahsyat mirip mafia dan kartel.

Demokrasi kehilangan arah dan terdapat kesenjangan dengan para pendukungnya. Terjadi jurang yang melebar dan rakyat terlupakan.


Tercipta daerah yang bias, gelap dan menjadi area titik buta. Rakyat menjadi buta tuli. 

Padahal Demokrasi secara sederhana adalah "suara" untuk berbicara dan perut yang harus diberi "makan" oleh dan didengar penguasa.

Di lain pihak, dalam The Blind Spot: How Oligarchs Dominate Our Democracies karya ilmuwan politik Jeffrey Winters mengeksplorasi bagaimana individu-individu ultra-kaya memanipulasi sistem demokrasi modern untuk mempertahankan ketidaksetaraan kekayaan yang ekstrem. 

Ia berpendapat bahwa ketidaksetaraan ini bukanlah kekurangan dalam demokrasi, melainkan fitur bawaan.

Demokrasi untuk Keadilan

Kritik Sandel menunjukkan bahwa politik seharusnya tidak hanya tentang mengamankan kondisi untuk memungkinkan pilihan otonom, tetapi juga harus mendorong keterikatan sosial yang vital bagi diri sendiri. Penekanan Sandel pada komunitas.

Michael Sandel mengajar filsafat politik di Universitas Harvard. Ia digambarkan sebagai "moralis bintang rock" (Newsweek) dan "filsuf hidup paling berpengaruh di dunia" (New Statesman).  

Bagi Michael Sandel, keadilan bukanlah olahraga tontonan," demikian komentar pengulas The Nation tentang buku Justice. 

Sandel menawarkan pendidikan langka dalam memikirkan isu-isu dan kontroversi rumit yang kita hadapi dalam kehidupan publik saat ini. 

Sandel menghubungkan pertanyaan-pertanyaan besar filsafat politik dengan isu-isu paling pelik saat ini, dan menunjukkan bagaimana pemahaman filsafat yang lebih baik dapat membantu kita memahami politik, moralitas, dan keyakinan kita sendiri.

Demokrasi untuk Kesetaraan

Sebuah novel Animal Farm merupakan karya sastra alegoris yang membungkus kritik politik menjadi sebuah cerita fabel. Novel ini menceritakan tentang kehidupan para hewan di Peternakan Manor. 

Terjadi pemberontakan tersebut dipimpin oleh Napoleon dan Snowball, babi-babi yang dianggap paling cerdas. Pada akhirnya para hewan berhasil mengambil alih peternakan dan mengganti namanya menjadi “Peternakan Binatang”. 

Mereka mengusung prinsip kesetaraan yang dirumuskan dalam tujuh perintah (Seven Commandments), dengan semboyan utama: “Semua binatang itu setara.”

Namun, seiring berjalannya waktu, idealisme revolusi mulai terkikis.Terjadi konflik yang panas antara dua babi pemimpin, Napoleon dan Snowball. Snowball digambarkan sebagai orator yang cerdas dan visioner, sementara Napoleon lebih licik dan haus akan kekuasaan absolut. 

Melalui taktik intimidasi menggunakan anjing-anjing penjaga yang ganas, Napoleon berhasil mengusir Snowball dan melabelinya sebagai pengkhianat. 

Peristiwa ini menjadi titik balik krusial di mana demokrasi di peternakan tersebut mulai runtuh dan digantikan oleh kediktatoran yang dingin di bawah kendali Napoleon. 

Seiring berjalannya waktu, prinsip-prinsip awal revolusi dikhianati secara sistematis oleh kaum babi melalui manipulasi bahasa dan sejarah. 

Dengan bantuan Squealer yang mahir dalam propaganda, setiap kegagalan peternakan dikambinghitamkan kepada pihak luar, sementara setiap pencapaian diklaim sebagai kejeniusan Napoleon. 

Hewan-hewan pekerja harus terus bekerja keras hingga titik darah penghabisan tanpa menyadari bahwa mereka sedang ditindas oleh kelompok mereka sendiri (sesama binatang) dengan cara yang jauh lebih licik daripada saat dipimpin manusia.

Perubahan yang paling drastis dan ironis adalah ketika tujuh perintah yang tertulis di dinding gudang diubah secara diam-diam untuk melegitimasi perilaku manusiawi kaum babi, seperti tidur di tempat tidur dan minum alkohol. 

Puncaknya, perintah dasar tentang kesetaraan diubah menjadi kalimat yang sangat ironis bahwa semua hewan setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain. 

Perubahan ini menunjukkan bagaimana kekuasaan yang tidak terkendali dapat mengubah para babi yang awalnya pejuang pembebasan menjadi penindas baru yang tidak ada bedanya dengan musuh yang mereka usir sebelumnya.

Kisah para hewan ini ditutup dengan adegan yang sangat membekas, ketika hewan-hewan lain menyaksikan babi-babi berpesta dan menjalin kesepakatan dengan para petani manusia. 

Saat mereka memandang dari jendela, mereka tidak lagi dapat membedakan mana wajah babi dan mana wajah manusia. 

Orwell dengan brilian menunjukkan bahwa revolusi yang bertujuan untuk keadilan sering kali berakhir menjadi siklus penindasan yang sama jika tidak dibarengi dengan kewaspadaan rakyat terhadap ambisi para pemimpinnya.

Bagi George Orwell, salah satu tragedi orang yang berpendidikan setengah-setengah adalah mereka baru berkembang di usia lanjut, ketika mereka sudah terlanjur memilih jalan hidup yang salah.”

Aku tidak takut pada pasukan Singa yang dipimpin oleh seekor domba; aku takut pada pasukan domba yang dipimpin oleh seekor Singa, demikian Alexander The Great.

Kini medan perang telah berubah. Namun pertanyaan mendasar tetap sama: apakah orang yang bertanggung jawab mampu mengeluarkan potensi terbaik bagi rakyatnya atau justru menyia-nyiakannya?

*Penulis adalah Eksponen Gema 77/78


Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Rencana Insentif MBG Rp1 Triliun Tuai Kritik dari DPR

Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:47

Silfester Matutina Diduga Masuk List Saksi Sidang Ijazah Jokowi

Minggu, 25 Oktober 2026 | 04:00

Ketua KPK Bakal Babak Belur Gara-gara Nusron

Senin, 26 Oktober 2026 | 13:02

UPDATE

AMMN Cetak Laba Bersih Rp15,9 Triliun hingga September 2026

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:24

Hasto Ingatkan Kader PDIP Tak Boleh Takut Bela Rakyat

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 06:01

Kapolres Jakbar Obrak-abrik Kampung Boncos, Tiga Orang Dicokok

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:16

Respons Ijazah Gibran, PDIP: Tidak Ada Kebohongan yang Abadi

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 05:01

Fahira Idris Apresiasi Kepastian Ujian Ulang Siswa

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:36

Prajurit Marinir Perbaiki Jembatan di Distrik Aradide

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:11

Diduga Terjerat Kasus Korupsi, AKBP Edy Songkel Dicopot

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 04:00

Prabowo Didorong Percepat Reformasi Energi Nasional

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:31

Komunitas Pengawas WNA Desak Dirjen Pajak Telaah Dumas PT BCI

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:14

Jogja Cultural Wellness Festival 2026 Usung Wisata Kebugaran

Sabtu, 31 Oktober 2026 | 03:00

Selengkapnya