Ketua DPR RI Puan Maharani. (RMOL/Sarah Alifia Suryadi)
Tragedi kebakaran KM Mutiara Sentosa II di perairan utara Sumenep, Madura, kembali memunculkan sorotan terhadap lemahnya aspek keselamatan transportasi laut di Indonesia.
Insiden yang menewaskan lima penumpang itu dinilai harus menjadi momentum pembenahan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang.
"Dukacita mendalam kami sampaikan kepada seluruh korban kecelakaan KM Mutiara Sentosa II. Insiden ini harus menjadi pengingat bahwa ternyata faktor keamanan transportasi laut di Indonesia masih minim," kata Ketua DPR RI Puan Maharani dalam keterangan resminya, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurutnya, banyaknya kecelakaan kapal sejak awal tahun menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam tata kelola keselamatan pelayaran nasional. Karena itu, evaluasi tidak boleh berhenti pada penanganan insiden semata.
"Ini menjadi PR buat kita bersama, bahwa banyaknya kecelakaan kapal laut sejak awal tahun saja menunjukkan masih ada persoalan serius dalam dunia transportasi laut Indonesia," tegasnya.
Puan juga menyoroti persoalan manifes penumpang yang kembali muncul dalam insiden KM Mutiara Sentosa II. Ia menilai masalah tersebut merupakan persoalan berulang yang harus segera dibenahi.
"Persoalan manifes kapal yang berbeda dengan penumpang yang ada di lapangan menjadi persoalan yang terus menerus kita temukan. Harus ada evaluasi mendalam mengenai persoalan ini," ujarnya.
Selain itu, ia meminta pemerintah menjadikan keselamatan penumpang sebagai indikator utama dalam evaluasi penyelenggaraan transportasi laut, termasuk menetapkan target nasional untuk menurunkan angka kecelakaan kapal.
"Keselamatan harus menjadi ukuran kinerja yang setara dengan konektivitas," kata Puan.
KM Mutiara Sentosa II terbakar saat berlayar di perairan utara Sumenep, Madura, pada Minggu, 2 Agustus 2026 dalam rute Surabaya-Makassar.
Insiden tersebut menewaskan lima orang, memicu kepanikan hingga banyak penumpang melompat ke laut, serta menyebabkan kerusakan total pada muatan kendaraan di dek kapal. Hingga kini, tim SAR masih melakukan pencarian korban yang dinyatakan hilang, sementara pemerintah terus memvalidasi data penumpang menyusul adanya perbedaan antara manifes dan temuan di lapangan.